Wakil Ketua Umum Partai Garuda, Teddy Gusnaidi. (Foto: Dok. Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Wakil Ketua Umum Partai Garuda Teddy Gusnaidi menyatakan bahwa saat ini para makelar politik menguasai pembicaraan politik dan pemilihan umum (pemilu).
Tak hanya itu, banyak makelar politik juga diberikan panggung untuk menyampaikan narasi kebencian, menyampaikan fitnah dan membangkitkan isu SARA. Sehingga, pada akhirnya pendidikan politik kepada masyarakat terbenam dengan informasi sesat.
“Sayangnya ada segelintir Politisi bukannya meluruskan malah mengikuti narasi yang dibangun oleh para makelar politik tersebut, Sehingga anak bangsa saling membenci," ungkap Teddy Gusnaidi dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/10).
Komisi II DPR Target Bahas RUU Pemilu di 2026
Padahal, kata Teddy, ada kewajiban partai politik untuk memberikan pendidikan politik ke masyarakat. Hal itu tertuang dalam UU Politik. Ia mengingatkan pendidikan politik itu bukan berarti tidak ada intrik.
"Tentu intrik itu bagian dari pendidikan politik, karena namanya Pemilu adalah kontestasi, dimana akan ada benturan pemikiran dan benturan pendapat," kata Jubir Partai Garuda itu.
"Dimana pertarungan pemikiran dan pendapat itu harus ada," imbuhnya.
Sehingga, ungkap Teddy, masyarakat memiliki dua bahkan lebih pendapat yang bisa membuat mereka memutuskan untuk memilih calon Presiden-Wakil Presiden maupun anggota legislatif dari partai politik.
Ahmad Ali Siap Bawa PSI Menangkan Pemilu 2029
"Bukan memilih karena unsur SARA, karena termakan fitnah, termakan hasutan dan hal negatif lainnya," katanya.
Ia pun meminta pemilu sehat jangan hanya jadi bualan dalam pidato politik.
"Tapi masih memberikan panggung dan bekerjasama dengan para makelar politik," demikian kata Teddy Gusnaidi.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Partai Garuda Teddy Gusnaidi makelar politik SARA pemilu
























