Jum'at, 18/09/2020 17:04 WIB

LPJ Airlangga Berkisah Tentang Kebangkitan Golkar

Dualisme kepengurusan bisa diakhiri setelah terjadi Munas Luar Biasa di tahun 2016 di Bali

Airlangga Hartarto

Jakarta, Jurnas.com - Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto memaparkan laporan pertanggung jawaban (LPJ) pengurus periode 2014-2019 pada hari kedua Musyawarah Nasional (Munas) X Partai Golkar.

Sidang dalam Munas itu dipimpin Azis Syamsuddin (perwakilan DPP Golkar), Dedi Mulyadi (DPD Jabar), Tetty Paruntu (DPD Sulawesi Utara), Sarmuji (Plt DPD Jambi), Roem Kono (perwakilan ormas pendiri Golkar).

Forum menyepakati LPJ DPP Golkar periode 2014-2019 dibacakan. Kemudian, Airlangga naik ke atas panggung utama untuk membacakan LPJ kepengurusannya.

Pada momen itulah, Airlangga menceritakan perjalanan Partai Golkar dalam rentang waktu 2014 hingga 2016. Ketika itu Golkar mengalami dualisme kepengursan, baik di tingkat pusat maupun di daerah. Konsolidasi organisasi dan kaderisasi pun tidak berjalan sebagaimana mestinya.

"Dualisme kepengurusan bisa diakhiri setelah terjadi Munas Luar Biasa di tahun 2016 di Bali," ujar Airlangga di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2019).

Ketika itu, lanjutnya, salah satu keputusan penting dalam Munaslub adalah menetapkan posisi politik Partai Golkar, di mana semula berada di luar pemerintahan bersama Koalisi Merah Putih, kemudian berubah menjadi partai pendukung pemerintah Kokowi-JK bersama Koalisi Indonesia Hebat.

Menko Bidang Perekonomian itu melanjutkan, konsolidasi organisasi di internal Partai Golkar mulai ditingkatkan pasca Munaslub di Bali tahun 2016. Namun seiring berjalannya waktu, pucuk pimpinan partai yakni Setya Novanto tersandung kasus hukum sehingga Golkar kala itu menjadi bulan-bulanan.

"Karena pucuk pimpinan partai pun ditimpa musibah hukum ketika itu Partai Golkar menjadi bulan-bulanan media terutama berita-berita negatif di media sosial sehingga citra dan elektabilitas Partai Golkar merosot cukup tajam," jelas Airlangga.

Dalam kondisi seperti itu, akhirnya Partai Golkar kembali menggelar Munaslub pada 2017 yang mengantarkan Airlangga menduduki pucuk pimpinan partai menggantikan Novanto.

"Dalam situasi krusial tersebut mengantarkan terjadinya Munas Luar Biasa tahun 2017 dan saya terpilih sebagai ketua umum secara aklamasi. Ibarat kapal yang telah oleng dihantam badai besar, Golkar menemukan nakhoda untuk menyelamatkan kapal tersebut sehingga penumpang bisa selamat sampai tujuan," pungkas Airlangga.

TAGS : Airlangga Hartarto Munas X Partai Golkar




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :