Senin, 24/09/2018 08:25 WIB

Perang Dagang Rugikan Konsumen AS

Lambat laut konsumen AS akan membayar lebih mahal dari sebelumnya untuk produk-produk yang diimpor dari China

Presiden Donald Trump (L) dan Presiden China Xi Jinping (R) (Foto: Reuters)

New York – Profesor ekonomi di Syracuse University, Amerika Serikat (AS), Mary Lovely menyebut perang dagang antara AS dan China berdampak besar pada konsumen di AS.

Menurutnya, lambat laut konsumen AS akan membayar lebih mahal dari sebelumnya untuk produk-produk yang diimpor dari China, sebagai bentuk konsekuensi atas kebijakan Presiden AS Donald Trump akhir-akhir ini.

“Konsumen akan merasakannya, paling cepat saat Natal nanti,” ujar Lovely pada Kamis (12/7) dilansir dari Associated Press.

Pada Jumat pekan lalu, pemerintah memberlakukan tarif sebesar 25 persen pada US$34 miliar impor China. Barang-barang konsumsi diketahui hanya satu persen dari jumlah tersebut.

Namun pada Selasa lalu, beberapa barang konsumsi termasuk makanan, produk pertanian, tas tangan, topi dan perabotan dengan nilai mencapai US$200 miliar dikenakan tarif usulan baru.

Menurut data perusahaan riset perdagangan Panjiva, produk lain yang kemungkinan besar akan terpengaruh kebijakan ini antara lain AC, lampu Natal, suku cadang mobil, lemari es, hingga US$350 juta filet ikan nila beku.

Sebab seperti diketahui, dari seluruh ikan nila beku yang saat ini beredar di AS, 83 persen di antaranya harus diimpor dari China.

Kenaikan tarif impor juga bakal memengaruhi harga topi khas Trump `Make America Grea Again’, atau yang lebih dikenal MAGA. Manajer Incredible Gifts David Lassoff yang memproduksi MAGA mengatakan, selama ini topi MAGA diimpor dari China, dan disulam di Amerika.

Lassoff pernah mencoba menggunakan topi dari dalam negeri. Akan tetapi konsumen enggan membelinya. Dengan harga saat ini US$16,99 di laman e-commerce Amazon, harganya kemungkinan naik dua kali lipat jika menggunakan topi dari pabrikan AS.

“Mungkin akan mengambil dari negara lain yang berbiaya rendah seperti Vietnam,” tulis Associated Press mengutip pernyataan Lassoff.

TAGS : Perang Dagang Amerika Serikat China




TERPOPULER :