Ilustrasi militer Australia (Foto: EPA)
Manila, Jurnas.com - Panglima militer Australia, Laksamana David Johnston, menyatakan kesiapan pasukannya untuk dikerahkan bersama para sekutu jika dibutuhkan di kawasan Asia maupun wilayah lainnya.
Pernyataan ini disampaikan pada Jumat (8/5) lalu, saat menutup latihan militer bersama di Laut China Selatan yang melibatkan Amerika Serikat, Filipina, dan beberapa negara mitra.
Laksamana Johnston menegaskan bahwa melalui berbagai rangkaian pengujian dan pelatihan, militer Australia telah memiliki kepercayaan diri serta kemampuan untuk bekerja sama dalam koalisi internasional.
Dia hadir di Filipina untuk menutup latihan militer Balikatan, yang melibatkan sekitar 400 personel Australia bersama lebih dari 15.000 personel dari Amerika Serikat, Filipina, Kanada, Jepang, Prancis, dan Selandia Baru.
Johnston juga menekankan bahwa fokus utama Australia adalah melakukan segala upaya untuk mencegah terjadinya konflik di kawasan Indo-Pasifik dan Pasifik Barat Daya.
"Jika pemerintah kami membuat keputusan, baik di kawasan ini atau di tempat lain, bahwa kami harus bekerja sama, kami memiliki keyakinan bahwa kami memiliki kemampuan tersebut. Kami telah mengujinya, kami telah melatihnya, dan kami telah mempraktikkannya," kata Johnston dikutip dari Bloomberg pada Minggu (10/5).
Latihan Balikatan tahun ini mencatatkan sejarah dengan hadirnya pasukan tempur Jepang di Filipina untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II. Dalam latihan tersebut, pasukan bela diri Jepang meluncurkan rudal anti-kapal untuk menenggelamkan kapal perang yang sudah tidak beroperasi, sementara Amerika Serikat juga menguji sistem rudal mereka.
Kegiatan ini dipandang sebagai bentuk pencegahan sekaligus penguatan kapasitas militer negara-negara di kawasan yang semakin khawatir terhadap peningkatan kekuatan militer China.
Selain peningkatan latihan tempur, negara-negara di kawasan ini juga mulai meningkatkan anggaran pertahanan mereka. Australia berencana menghabiskan miliaran dolar untuk memperkuat angkatan lautnya, termasuk pengadaan kapal perang baru buatan Jepang.
Di sisi lain, Jepang juga mempertimbangkan untuk mentransfer kapal-kapal lama mereka ke militer Filipina guna mendukung stabilitas maritim di jalur perdagangan strategis yang bernilai triliunan dolar tersebut.
Menteri Pertahanan Filipina, Gilberto Teodoro Jr., menegaskan bahwa latihan Balikatan bukan sekadar ajang pelatihan teknis, melainkan sebuah latihan pencegahan (deterrence) yang nyata.
Sejak menjabat pada 2022, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memang konsisten memperkuat hubungan dengan Washington dan sekutu lainnya untuk menghadapi klaim maritim China di Laut China Selatan yang telah dibatalkan oleh putusan arbitrase internasional tahun 2016.
Minggu, 10/05/2026 12:01 WIB