Umat Muslim berkumpul di puncak bukit berbatu yang dikenal sebagai Gunung Rahmat, di Dataran Arafat, selama ibadah haji tahunan, dekat kota suci Mekkah, Arab Saudi (FOTO: AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Setiap tahun jutaan umat Muslim melakukan perjalanan ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji. Namun penelitian terbaru menyebut suhu panas ekstrem saat haji lebih membahayakan tubuh manusia.
Ibadah haji dilakukan sebagian besar di ruang terbuka. Jemaah harus berjalan jauh, berdoa di bawah terik matahari, dan berpindah antar lokasi suci selama beberapa hari.
Pada Juni 2024, sekitar 1.300 orang dilaporkan meninggal dunia saat pelaksanaan haji akibat panas ekstrem. Suhu tinggi dan kelembapan udara membuat tubuh kesulitan mendinginkan diri meski sudah berkeringat.
Penelitian yang akan dipresentasikan dalam EGU General Assembly 2026 meneliti batas kemampuan tubuh manusia bertahan dalam kondisi panas tersebut.
Peneliti mempelajari apa yang disebut “survivability limit” atau batas ketahanan hidup manusia terhadap panas. Pada titik tertentu, tubuh tidak lagi mampu menurunkan suhu inti meski sudah berkeringat.
“Hasil kami menunjukkan batas ketahanan hidup terlampaui selama beberapa jam pada setiap hari pelaksanaan haji bahkan untuk kelompok usia muda 18-40 tahun,” tulis Atta Ullah dalam laporan untuk EGU General Assembly 2026.
Menurut penelitian tersebut, kondisi paling parah terjadi pada 17 Juni 2024.
“Analisis kami menunjukkan bahwa pada 17 Juni 2024, kombinasi panas dan kelembapan melampaui ambang batas ketahanan hidup bahkan bagi orang muda dan sehat selama sekitar empat jam berturut-turut,” kata Ullah dikutip Earth.
“Selama periode tersebut, tubuh manusia tidak mampu mempertahankan suhu inti yang aman hanya dengan berkeringat, sehingga paparan luar ruangan tanpa pelindung dapat mengancam jiwa.”
Penelitian menyebut selama empat jam kondisi di luar ruangan bisa mengancam nyawa manusia.
Ibadah haji menggunakan kalender lunar sehingga waktunya terus bergeser setiap tahun. Saat ini musim haji mulai bergerak menjauhi bulan-bulan terpanas.
Namun sekitar tahun 2050, haji diperkirakan kembali berlangsung pada puncak musim panas, saat suhu global kemungkinan lebih tinggi dibanding sekarang.
“Hasil penelitian menunjukkan batas ketahanan hidup akan terlampaui lebih sering dan lebih cepat di masa depan, sehingga diperlukan langkah adaptasi mendesak dan upaya mitigasi untuk mengurangi risiko perubahan iklim terhadap jemaah,” ujar Ullah.
Peneliti menyebut kondisi panas berbahaya diperkirakan akan terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama di masa depan.
Penelitian juga menyebut kenaikan kecil suhu global dapat meningkatkan risiko kesehatan secara signifikan saat haji.
Pada pemanasan global 1,5 derajat Celsius, risiko heat stroke saat haji diperkirakan meningkat lima kali lipat. Jika suhu global naik hingga 2 derajat Celsius, risikonya bisa meningkat 10 kali lipat.
Pemerintah Arab Saudi telah menambah stasiun pendingin, area teduh, dan layanan kesehatan untuk mengurangi risiko. Beberapa bagian ibadah juga mulai dilakukan di dalam ruangan.
Namun peneliti menilai langkah tersebut tidak sepenuhnya bisa menghilangkan ancaman panas ekstrem.
“Meski strategi adaptasi Pemerintah Arab Saudi dapat mengurangi sebagian risiko, esensi dan praktik tradisional ibadah haji tetap bisa terdampak dalam kondisi panas ekstrem,” tulis Ullah dan tim peneliti.
“Karena itu, mitigasi tetap penting untuk membatasi pemanasan global dan menjaga masa depan ibadah haji.”
Dalam konteks tersebut, penelitian menyimpulkan bahwa masa depan ibadah haji akan sangat bergantung pada bagaimana dunia merespons perubahan iklim global. (*)
Sumber: Earth
Minggu, 10/05/2026 12:01 WIB