Menko PM A. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin Menko PM usai memberi sambutan dalam kegiatan bertema Satu Tahun Perjalanan Program Sekolah Rakyat: Capaian Strategis dan Sinergi Keberlanjutan yang digelar di Kemenko PM, Jakarta, pada Rabu (Foto: Ist/Jurnas.com)
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat kini berkembang menjadi salah satu instrumen paling strategis dalam penanggulangan kemiskinan berbasis pendidikan di Indonesia.
Program ini dinilai bukan hanya kebijakan pendidikan, tetapi juga model ekosistem pemberdayaan yang menyasar langsung kelompok masyarakat paling bawah.
Hal tersebut disampaikan Menko PM usai memberi sambutan dalam kegiatan bertema "Satu Tahun Perjalanan Program Sekolah Rakyat: Capaian Strategis dan Sinergi Keberlanjutan" yang digelar di Kemenko PM, Jakarta, pada Rabu (29/4/2026).
Menurutnya, Sekolah Rakyat merupakan gagasan yang berangkat dari kebutuhan mendasar untuk memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada akses belajar, tetapi juga membangun sistem yang menghubungkan pendidikan dengan kemandirian ekonomi masyarakat.
"Sekolah rakyat adalah jalan penanggulanan kemiskinan yang paling mendasar, yaitu memutus mata rantai kemiskinan bahkan para peserta didiknya adalah projek dari penanggulanan kemiskinan," ujar Cak Imin.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan bahwa program Sekolah Rakyat terus menunjukkan perkembangan signifikan sejak pertama kali diluncurkan awal 2025.
Gus Ipul menjelaskan, gagasan Sekolah Rakyat pertama kali disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada Januari 2025. Hanya dalam enam bulan, program ini mulai berjalan di 63 titik pada Juli, lalu berkembang cepat menjadi 166 lokasi hingga saat ini.
Meski menghadapi tantangan di tiga bulan pertama mulai dari adaptasi guru, siswa, hingga pemerintah daerah, program ini dinilai mampu melewati fase awal dengan baik. Kini, siswa mulai menunjukkan kepercayaan diri dan bahkan mencatat prestasi di berbagai tingkat.
“Anak-anak sudah mulai percaya diri, bahkan ada yang meraih prestasi di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional,” kata Gus Ipul.
Lebih lanjut, Gus Ipul mengatakan pemerintah tidak berhenti pada capaian awal. Tahun ini, jumlah siswa Sekolah Rakyat ditargetkan mencapai lebih dari 45 ribu.
Angka tersebut akan meningkat menjadi 100 ribu pada tahun depan, 200 ribu pada 2028, hingga lebih dari 400 ribu siswa dalam beberapa tahun ke depan.
Gus Ipul mengatakan pengembangan ini juga didukung pembangunan gedung permanen yang mampu menampung hingga 1.000 siswa per lokasi, menggantikan fasilitas sementara yang digunakan saat ini.
“Kalau pembangunan selesai sesuai rencana, kapasitas kita akan melonjak signifikan dan menjangkau lebih banyak anak dari keluarga miskin,” ujarnya.
Salah satu temuan penting dari evaluasi program adalah perubahan pada keluarga siswa. Gus Ipul mengatakan pihaknya mencatat bahwa orang tua merasakan dampak positif, baik dari sisi pola pikir maupun semangat untuk mandiri.
“Orang tua bersyukur dan mulai optimistis. Harapannya, saat anak lulus nanti, keluarganya sudah lebih mandiri dan tidak bergantung pada bantuan sosial,” kata Gus Ipul.
Ia menyebut Sekolah Rakyat juga mengadopsi pendekatan fleksibel atau multi-entry, multi-exit, menyesuaikan kemampuan siswa. Beberapa siswa bahkan diproyeksikan bisa mengikuti ujian lebih cepat, sementara lainnya mendapat pendampingan tambahan.
Rabu, 29/04/2026 19:26 WIB
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB