https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Tanaman Invasif Ini Bikin Nyamuk Tumbuh Lebih Cepat dan Hidup Lebih Lama

Agus Mughni | Selasa, 28/04/2026 08:16 WIB



Penelitian terbaru mengungkap bahwa tanaman ini tidak sekadar menggantikan spesies lokal, tetapi juga bisa memengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup nyamuk Arundo donax atau yang dikenal sebagai giant reed (tebu raksasa), tanaman invasif yang diyakini berpengaruh terhadap pertumbuhan nyamuk (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Aliran sungai di kawasan Mediterania kerap terlihat tenang dan alami, dengan deretan tanaman hijau tinggi di sepanjang tepiannya. Namun, di balik tampilan tersebut, banyak dari tanaman itu sebenarnya bukan spesies asli.

Salah satunya adalah Arundo donax atau yang dikenal sebagai “giant reed” (tebu raksasa), tanaman invasif yang kini menyebar luas di berbagai wilayah Eropa.

Dikutip dari Earth, penelitian terbaru mengungkap bahwa tanaman ini tidak sekadar menggantikan spesies lokal, tetapi juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup nyamuk, yang pada akhirnya berpotensi berdampak pada kesehatan manusia.

Arundo donax diketahui tumbuh dengan cepat dan mendominasi bantaran sungai, menggantikan tanaman asli seperti Phragmites australis yang telah lama menopang ekosistem tersebut. Meski tampak serupa, perbedaan di antara keduanya membawa dampak signifikan.

Peneliti dari University of Barcelona, Profesor Alberto Maceda-Veiga melakukan eksperimen dengan menciptakan ekosistem air mini menggunakan toples kaca berisi air dan campuran daun dari kedua jenis tanaman. Daun-daun tersebut dibiarkan membusuk seperti di alam, melepaskan nutrisi ke dalam air.

Saat daun terurai, berbagai mikroorganisme seperti flagelata, ciliata, dan amoeba berkembang pesat. Mikroorganisme ini penting dalam rantai makanan karena mengubah bahan organik mati menjadi energi bagi organisme lain.

Toples yang berisi daun dari tanaman invasif menunjukkan jumlah mikroba yang jauh lebih tinggi, menciptakan kondisi yang lebih kaya nutrisi bagi organisme lain.

Setelah dua minggu, peneliti memasukkan larva nyamuk Culex pipiens, spesies umum yang dapat menyebarkan penyakit seperti virus West Nile. Hasilnya menunjukkan bahwa larva yang hidup di lingkungan dengan daun tanaman invasif berkembang lebih cepat, lebih banyak mencapai tahap pupa, dan memiliki ukuran lebih besar.

“Efek ini dipicu oleh perubahan kualitas air dan peningkatan jumlah kelompok mikroeukariota tertentu, seperti flagelata dan amoeba, yang merupakan bagian dari jaringan makanan mikroba tempat larva nyamuk Culex pipiens makan,” ujar Maceda-Veiga.

Ukuran yang lebih besar ini penting karena nyamuk dewasa cenderung hidup lebih lama dan menghasilkan lebih banyak telur.

Menariknya, perubahan signifikan sudah terjadi ketika hanya 25 persen daun berasal dari tanaman invasif. Setelah ambang ini terlampaui, sistem ekosistem berubah drastis dan menetap.

Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pengendalian sebagian tanaman invasif saja mungkin tidak cukup untuk mengurangi dampaknya.

Pertumbuhan populasi nyamuk bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga kesehatan publik. Penting untuk diingat bahwa nyamuk umum dapat bertindak sebagai vektor penyakit yang signifikan secara medis dan veteriner,” ujar Maceda-Veiga.

Ia juga menambahkan bahwa memahami tanaman yang mendorong proliferasi nyamuk dapat membantu upaya pengendalian hama menjadi lebih efektif.

Di perairan yang tercemar, kondisi ini bisa semakin parah karena predator alami larva nyamuk, seperti ikan dan capung, sering kali tidak ada.

Banyaknya larva berarti banyak nyamuk dewasa, yang dapat mengganggu manusia dan bahkan menimbulkan risiko kesehatan,” ujar Maceda-Veiga.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa populasi nyamuk dipengaruhi banyak faktor. Tanaman invasif hanyalah salah satu bagian dari sistem yang kompleks.

“Ketika pemberantasan spesies invasif tidak memungkinkan, kita beralih ke langkah mitigasi. Dalam kasus nyamuk, kita tidak boleh bersikap alarmis. Di alam, nyamuk memiliki banyak predator,” ujar Maceda-Veiga.

Studi ini menunjukkan bagaimana satu perubahan kecil dalam ekosistem dapat memicu efek berantai yang luas, mulai dari tanaman, mikroorganisme, hingga kesehatan manusia. Meski lanskap terlihat sama, dampak yang terjadi bisa sangat berbeda. (*)

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah NeoBiota. Sumber: Earth

 
Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Tanaman Invasif Arundo donax Pertumbuhan Nyamuk Tebu Raksasa Giant Reed

Terkini | Selasa, 28/04/2026 10:23 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777