PKBM kota Bandung melaksanakan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk paket A, B, dan C (Foto: Humas Kemendikdasmen)
Jakarta, Jurnas.com - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di lembaga pendidikan nonformal memperlihatkan perkembangan yang semakin baik.
Sebagai bagian dari sistem penilaian pendidikan nasional, ujian ini berjalan dengan tertib, mengikuti standar yang jelas, serta semakin transparan di berbagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), sekaligus memperkuat kesetaraan mutu antara pendidikan formal dan nonformal.
Pelaksanaan TKA terus menyesuaikan dengan kebutuhan warga belajar. Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa perbedaan model pelaksanaan antara PKBM mandiri dan kolaboratif menunjukkan bahwa kebijakan TKA tidak hanya menekankan standarisasi, tetapi juga memberikan ruang adaptasi bagi satuan pendidikan nonformal.
“Pendekatan ini dinilai efektif dalam menjawab tantangan khas PKBM, seperti heterogenitas usia, kesibukan pekerjaan, serta keterbatasan sarana dan prasarana,” katanya di Jakarta, pada Selasa (14/4).
Tatang juga menegaskan bahwa pelaksanaan TKA yang semakin tertib dan terstruktur menandai pergeseran penting dalam sistem evaluasi pendidikan nonformal.
Jika sebelumnya fleksibilitas menjadi ciri utama, kini keseimbangan antara fleksibilitas dan standar menjadi kunci.
“Hal ini memperkuat posisi PKBM sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional,” lanjutnya.
Dengan pelaksanaan yang semakin matang, terang Tatang, TKA tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan kredibilitas lulusan pendidikan nonformal.
Dalam konteks ini, peran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menjadi semakin penting dalam memastikan arah kebijakan, standar, dan mutu pendidikan nasional berjalan secara konsisten dan berkeadilan.
Potret TKA Mandiri terlihat di PKBM Bina Cipta Ujungberung, Bandung, Jawa Barat. Di sana pelaksanaan TKA untuk Paket B (setara SMP) yang berlangsung pada 11–12 April 2026 berjalan lancar dengan tingkat kehadiran mencapai 100 persen.
Sebanyak 26 warga belajar mengikuti ujian dalam dua sesi per hari, meliputi numerasi, literasi, serta survei lingkungan belajar.
Kepala PKBM Bina Cipta Ujungberung, Santi Susilawati, mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari strategi penguatan komitmen peserta sejak awal.
“Dari jauh hari kami sudah membangun komitmen dengan warga belajar agar hadir di setiap sesi. Ujian dilaksanakan Sabtu dan Minggu karena karakteristik mereka berbeda, banyak yang bekerja dan memiliki keterbatasan waktu,” ujarnya.
Menurut Santi, penyesuaian jadwal pada akhir pekan menjadi langkah strategis yang tetap selaras dengan ketentuan nasional, namun responsif terhadap kebutuhan warga belajar.
Selain itu, pelaksanaan ujian juga diawasi secara berlapis oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung, penilik PAUD dan Dikmas tingkat kecamatan, serta pengawas eksternal dari PKBM lain sehingga memastikan akuntabilitas dan integritas pelaksanaan.
Kesiapan teknis menjadi perhatian utama dalam pelaksanaan TKA mandiri. PKBM Bina Cipta Ujungberung melakukan simulasi dan gladi bersih, menyiapkan teknisi khusus, serta mengantisipasi kendala dengan menyediakan perangkat cadangan.
“Kami bahkan menambah kapasitas internet agar warga belajar lebih tenang saat mengerjakan. Kalau ada gangguan sistem, harus langsung ditangani,” jelas Santi menambahkan.
Ia menambahkan bahwa penerapan sistem ujian berbasis waktu yang ketat turut mendorong kedisiplinan peserta.
Berbeda dengan praktik sebelumnya yang lebih longgar, kini peserta dituntut hadir tepat waktu karena sistem akan otomatis tertutup setelah batas waktu berakhir.
“Ini bagian dari penyesuaian agar standar kita sama dengan pendidikan formal. Sekarang tidak ada lagi perbedaan,” tegasnya.
Santi menyebut bahwa pemahaman mengenai manfaat TKA menjadi faktor pendorong utama untuk meyakinkan pentingnya mengikuti ujian tersebut.
Banyak peserta yang mengikuti ujian karena menyadari TKA dapat menunjang kebutuhan administratif dan profesional, seperti melanjutkan pendidikan, kenaikan jabatan, hingga seleksi aparatur sipil negara.
Sementara itu, pelaksanaan TKA bagi warga belajar PKBM Budi Utama Surabaya menunjukkan pendekatan kolaboratif sebagai bagian dari fleksibilitas kebijakan. Ujian dilaksanakan dengan menumpang di sekolah formal dan memanfaatkan fasilitas yang tersedia.
Kepala PKBM, Imam Rochani, menjelaskan bahwa dari 22 peserta yang terdaftar, sebagian besar hadir mengikuti ujian meskipun terdapat beberapa kendala di lapangan.
“Ada tiga peserta kami tidak ikut karena berbagai kendala. Secara umum berjalan lancar. Kami bergabung dengan sekolah dan menggunakan fasilitas yang ada, dengan pengawasan dari dinas pendidikan dan guru-guru SMP,” ujarnya.
Imam menambahkan bahwa sebelum pelaksanaan TKA, pihaknya telah melakukan sosialisasi serta pembekalan berbasis kisi-kisi soal untuk membantu peserta memahami materi yang akan diujikan.
Upaya ini juga menjadi bagian dari strategi meningkatkan kepercayaan diri warga belajar.
Ia menegaskan bahwa tidak semua warga belajar diwajibkan mengikuti TKA, terutama bagi mereka yang berusia lebih dewasa.
Namun, bagi peserta usia sekolah yang ingin melanjutkan pendidikan, keikutsertaan dalam TKA menjadi sangat penting.
“Kami dorong mereka yang ingin melanjutkan pendidikan untuk ikut, karena ini menjadi bagian dari pengukuran kemampuan akademik mereka,” jelasnya.
Selasa, 14/04/2026 21:18 WIB