Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, berpidato di KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai secara virtual oleh India, di Islamabad, Pakistan, 4 Juli 2023. Handout via Reuters
Islamabad, Jurnas.com - Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati kerangka kerja untuk sebuah perjanjian damai, yang akan mengakhiri konflik berbulan-bulan di Timur Tengah. Teks akhir dari kesepakatan tersebut kini telah tercapai.
Pemerintah Pakistan saat ini sedang mempersiapkan proses penandatanganan elektronik yang diperkirakan bakal berlangsung dalam 24 jam ke depan, yang kemudian akan dilanjutkan dengan pembicaraan di tingkat teknis pada pekan depan, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Sabtu (13/6).
Kendati demikian, publik tetap bersikap waspada mengingat sejumlah deklarasi mengenai terobosan perdamaian sebelumnya sempat gagal terwujud di lapangan.
Kabar baik di tengah meja perundingan ini muncul setelah Iran sempat terlibat aksi saling tembak yang sengit dengan pasukan AS dan Israel selama tiga hari pada pekan ini, yang sempat dikhawatirkan memicu pecahnya perang berskala penuh.
Komando Sentral AS (CENTCOM) pada Jumat malam bahkan melaporkan pihaknya baru saja mencegat beberapa pesawat tanpa awak (drone) tempur Iran yang terdeteksi menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Perang yang meletus sejak 28 Februari lalu tersebut telah mengguncang stabilitas Timur Tengah dan melumpuhkan total jalur pengiriman minyak serta gas alam dari Teluk Arab, meskipun gencatan senjata rapuh sebenarnya telah diberlakukan sejak 7 April.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menjelaskan bahwa ketentuan mengenai program nuklir Iran akan difinalisasi dalam waktu 60 hari setelah perjanjian awal ini ditandatangani, dan para pihak yang terlibat memiliki opsi untuk memperpanjang periode tersebut jika diperlukan.
Program nuklir Teheran selama ini menjadi titik perselisihan paling krusial, di mana Washington dan Tel Aviv sangat khawatir program itu akan dialihkan untuk menciptakan senjata atom, yang juga menjadi alasan utama kedua negara meluncurkan serangan militer.
Seorang pejabat senior pemerintah AS membeberkan bahwa kesepakatan yang muncul ini akan memulai proses penghancuran atau pemindahan uranium yang diperkaya tinggi milik Teheran.
Periode 60 hari ke depan akan dimanfaatkan penuh untuk merumuskan detail teknis terkait pemindahan timbunan uranium yang saat ini diyakini terkubur di bawah tiga situs nuklir Iran yang sempat hancur akibat hantaman serangan udara Amerika tahun lalu.
Selain masalah nuklir, dokumen perjanjian tersebut juga memuat sejumlah poin penting lainnya, termasuk ketentuan pembukaan kembali jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:26 WIB
Sabtu, 13/06/2026 05:40 WIB