Ilustrasi ibu dan anak (Foto: UNICEF)
Jakarta, Jurnas.com - Dalam ajaran Islam, doa seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Sering kali kita mendengar kisah tentang keberhasilan seseorang yang tidak lepas dari sebaris doa tulus yang dipanjatkan oleh ibunya.
Lantas, mengapa doa seorang ibu begitu makbul dan bahkan digambarkan mampu menembus pintu-pintu langit tanpa penghalang?
Keistimewaan doa ibu bukanlah sebuah mitos atau anggapan belaka, melainkan janji Allah SWT dan Rasulullah SAW yang terukir jelas dalam Al-Qur`an dan Hadis.
Alasan utama mengapa Allah SWT mengangkat derajat seorang ibu dan meluluskan doa-doanya adalah karena pengorbanan fisik dan emosional yang amat besar sepanjang proses mengandung, melahirkan, hingga membesarkan anak.
Pengorbanan ini melahirkan rasa kasih sayang yang sangat tulus, sehingga ketika seorang ibu berdoa, doa tersebut keluar dari relung hati yang paling dalam.
Allah SWT secara khusus mengabadikan kepayahan seorang ibu dalam Surah Luqman ayat 14:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Wa washshainal-insāna biwālidaih(i), hamalathu ummuhū wahnan `alā wahniw wa fishāluhū fī `āmaini anisykur lī wa liwālidaik(a), ilayyal-mashīr.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungkannya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."
Dalam ikatan spiritual Islam, kedudukan orang tua sangat dekat dengan keridaan Allah.
Seorang anak yang membuat ibunya ridha dan bahagia secara otomatis menarik keberkahan dan kasih sayang Allah SWT. Sebaliknya, murka ibu juga membawa kemurkaan dari Sang Pencipta.
Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan oleh HR. Tirmidzi:
رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
Ridhār-rabbi fī ridhāl-wālidi wa sakhatur-rabbi fī sakhatil-wālid.
"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."
Secara spesifik, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa orang tua (khususnya ibu) termasuk dalam golongan doa yang langsung dikabulkan tanpa ada keraguan atau penghalang di antaranya.
Hal ini tertuang dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
Thalāthu da`awātin mustajābātun lā syakka fīhinna: da`watul-wālidi, wa da`watul-musāfiri, wa da me`watul-mazhlūm.
"Ada tiga doa yang mustajab (dikabulkan) yang tidak ada keraguan di dalamnya: doa orang tua (kepada anaknya), doa orang yang sedang dalam perjalanan (musafir), dan doa orang yang terzalimi."
Mengapa ikatan doa ibu terasa begitu dahsyat? Sebab dalam tatanan penghormatan, Islam menempatkan ibu tiga tingkat lebih tinggi daripada ayah dalam hal hak untuk dibaktikan dan ditaati.
Dalam hadis terkenal yang diriwayatkan oleh HR. Bukhari dan Muslim, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW:
مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوكَ
Man ahaqqun-nāsi bihusni shahābatī? Qāla: Ummuka. Qāla: Thumma man? Qāla: Thumma ummuka. Qāla: Thumma man? Qāla: Thumma ummuka. Qāla: Thumma man? Qāla: Thumma abūka.
"Siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?" Rasulullah menjawab: "Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa?" Beliau menjawab: "Kemudian ayahmu."
Kamis, 30/07/2026 17:41 WIB
Minggu, 26/07/2026 10:05 WIB