Saat diskusi nasional dengan tajuk Indonesia 2045: Berdaulat, maju dan berpengaruh pada tataran global.(Foto : Jurnas/Ist)
Jakarta, Jurnas.com- Ikatan Alumni Hubungan Internasional Universitas Parahyangan selenggarakan diskusi nasional dengan tajuk Indonesia 2045: Berdaulat, maju dan berpengaruh pada tataran global pada akhir prkan kemarin.
Dalam diskusi nasional ini terungkap bahwa transformasi dari ketergantungan terhadap sektor komoditas dasar menuju industri bernilai tambah tinggi yang ditopang kapasitas domestik yang mumpuni. Ini penting untuk menjadi penyedia produk global utama adalah salah satu strategi utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju di 2045.
Rino Donosepoetro, CEO Standard Chartered Bank yang juga ketua penyelenggara diskusi menyatakan, bahwa diskusi ini menjadi tonggak inspirasi gerakan generasi muda untuk mewujudkan aspirasi indonesia 2045 -berdaulat maju dan berpengaruh di dunia.
Sementara itu Bima Arya, Walikota Bogor yang juga Panitia Pengarah Diskusi Nasional ini menilai bahwa diskusi nasional ini diharapkan mampu meletakan pondasi bagi para generasi milenial yang akan menjadi para pemimpin masa depan. Generasi ini diharapkan paham akan akarnya serta memahami local values.
“Mereka cinta pada 4 pilar yaitu Pancasila, NKRI, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika. Mereka tidak jago kandang dan bisa tampil di forum internasional,”ungkapnya.
Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner OJK dalam pidatonya menjelaskan beberapa faktor penting bagi kemajuan Indonesia. Pertama, sebisa mungkin tidak bergantung pada impor.
“Optimalkan perkembangan teknologi ini untuk pengembangan peran industri dan masyarakat Indonesia. Peran teknologi khususnya dalam sektor keungan dan perbankan sebaiknya difasilitasi sehingga bisa menjadi benefit untuk masyarakat. Hal ini juga akan mendorong sektor perbankan untuk terus memperbaiki diri dan memiliki spirit bersaing," ungkapnya.
“Regulasi mereka sangat baik, semangat kerjanya bagus, perizinan simple dan mudah sehingga banyak investasi yang masuk ke vietnam. Kita berkompetisi dengan negara-negara ASEAN lainnya. Oleh sebab itu, infrastruktur kita dibangun dan kita perlu menyederhanakan perizinan atau policy karena kita ini yang dikeluhkan adalah bedanya kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah dalam hal perizinan," ungkapnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Diskusi Rino Donosepoetro Wimboh






















