Sabtu, 17/10/2026 00:01 WIB

Indonesia Uji Teknologi Es Kering untuk Urai Kabut Asap Karhutla





Indonesia uji coba teknologi es kering atau dry ice untuk membantu mengurai kabut asap berbahaya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) (Foto: BNPB)

Jakarta, Jurnas.com - Indonesia menguji teknologi es kering atau dry ice untuk membantu mengurai kabut asap berbahaya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Wilayah Provinsi Sumatera Selatan, termasuk di kawasan gambut.

Uji coba di sekitar Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatera Selatan, dilaporkan meningkatkan jarak pandang dari 650 meter menjadi 2.800 meter.

Badan Nasional Penangggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis (15/10) mengatakan bahwa teknologi tersebut menggunakan teknik modifikasi atmosfer untuk membantu menyebarkan asap tanpa bergantung pada keberadaan awan hujan.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Berton S.P. Panjaitan, menjelaskan bahwa metode ini menyasar lapisan asap pekat secara langsung. Pendekatan tersebut berbeda dari operasi modifikasi cuaca konvensional yang menggunakan partikel garam untuk merangsang pembentukan hujan.

"Metode penyemaian dry ice merupakan metode modifikasi atmosfer yang ditujukan untuk mengurangi konsentrasi asap/polusi. Pada kondisi karhutla, asap yang pekat dapat terperangkap di lapisan atmosfer akibat adanya lapisan inversi," kata Berton dalam keterangan resmi dikutip Jumat (16/10).

Dalam kondisi normal, lanjut Berton, suhu udara cenderung semakin rendah di lapisan atmosfer yang semakin tinggi. Namun pada lapisan inversi, kondisi tersebut berubah sehingga atmosfer menjadi relatif stabil dan asap sulit bergerak naik.

"Metode ini ditujukan untuk membantu melabilkan atmosfer sehingga asap karhutla yang terperangkap akibat lapisan inversi dapat bergerak naik dan menyebar, sehingga konsentrasinya berkurang dan visibility meningkat," kata dia.

Berbeda dengan material Natrium Klorida (NaCl) yang sering digunakan pada OMC hujan berwujud serbuk halus, material dry ice berbentuk seperti powder/butiran berukuran sekitar tiga milimeter. Ia memiliki titik dingin sekitar -75 derajat celcius. Metode OMC ini juga tidak bergantung pada ketersediaan awan hujan.

Untuk mendukung operasi, BNPB mengerahkan satu armada Cesna Caravan dengan registrasi PK-SNP. Pada pelaksanaan awal, dua sorti penerbangan telah dilakukan dengan penyemaian pada ketinggian sekitar 4.500 feet. Masing-masing sortie membawa bahan semai seberat 800 kilogram. Pesawat diterbangkan dari Bandar Udara Raden Inten II di Lampung.

Penyemaian difokuskan di wilayah sekitaran ring satu Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II untuk mengurai mobilitas penerbangan di wilayah Sumatra Selatan.

Laporan sementara menunjukkan peningkatan visibility di sekitar wilayah penyemaian, yang semula terpantau dikisaran 650 meter menjadi 2.800 meter.

Uji coba OMC dry ice akan dilaksanakan hingga 18 Oktober 2026. Setelahnya akan dilakukan evaluasi dan komunikasi lebih lanjut dengan pihak terkait untuk dikembangkan atau diterapkan di wilayah terdampak karhutla lainnya.

KEYWORD :

Info BNPB Teknologi Es Kering Dry Ice Kabut Asap Karhutla Kebakaran Hutan dan Lahan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :