Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva (Foto: Straits Times)
Bangkok, Jurnas.com - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, memperingatkan adanya ancaman disrupsi besar dari kecerdasan artifisial (AI) terhadap pasar tenaga kerja serta sistem perpajakan.
Dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada Senin (12/10), dia mengibaratkan dampak masif teknologi tersebut bak ancaman tsunami yang bergerak perlahan, bagi dunia kerja dan penerimaan negara.
Georgieva menuturkan bahwa kecerdasan buatan saat ini telah mulai mengikis permintaan terhadap pekerja manusia dengan mengambil alih berbagai tugas rutin dan repetitif.
Di sisi lain, tren perkembangan ini justru meningkatkan jumlah pekerjaan berupah rendah di sektor-sektor seperti konstruksi, kondisi yang dia anggap bukan sesuatu yang patut dirayakan.
Transformasi tersebut dinilai membawa konsekuensi yang sangat luas bagi keuangan publik. IMF menggarisbawahi risiko tertekannya penerimaan pajak pemerintah karena pergeseran ekonomi ke arah modal dan menjauh dari tenaga kerja, yang selama ini menjadi sumber utama penerimaan pajak negara.
"Ini adalah tsunami yang bergerak perlahan, tetapi bagaimanapun tetaplah sebuah tsunami," kata Georgieva dalam sesi pembahasan dampak AI terhadap ketenagakerjaan, dikutip dari Straits Times.
Dampak disrupsi AI dilaporkan telah dirasakan langsung oleh tenaga kerja muda di sektor-sektor yang terpapar kecerdasan buatan. Para pekerja muda menghadapi perlambatan dalam perekrutan tenaga kerja, sehingga menempatkan pelamar posisi pemula pada posisi yang jauh lebih rentan.
Selain itu, kekhawatiran kian meningkat bahwa teknologi ini akan memperlebar jurang ketimpangan global. Pasalnya, keuntungan ekonomi dari lonjakan AI sejauh ini masih terkonsentrasi pada segelintir pekerja dan negara tertentu, kendati siklus investasi super tengah berlangsung di tingkat global.
Menghadapi tantangan ini, Georgieva mendesak para pengambil kebijakan untuk segera meninjau ulang kurikulum pendidikan dan bertindak cepat membantu masyarakat beradaptasi.
"Kita saat ini belum dapat membayangkan secara pasti seperti apa dunia kerja lima tahun dari sekarang. amun kita harus berdisiplin dan secara saksama menilai apa yang tengah terjadi, menarik pelajaran, dan yang paling penting adalah bertindak sekarang juga," dia menambahkan.
Di balik ancaman terhadap sektor ketenagakerjaan, teknologi AI dinilai tetap berpeluang memberikan dorongan positif bagi pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan.
IMF memperkirakan adopsi AI mampu menambah laju pertumbuhan ekonomi hingga satu poin persentase di negara-negara maju kawasan Asia.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Dampak AI Lapangan Kerja Bahaya AI Direktur IMF Kristalina Georgieva


























