Senin, 12/10/2026 16:41 WIB

Klaim Trump Tak Terbukti, Rusia Tetap Gempur Ukraina





Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina pada Minggu (11/10) kemarin memicu kebingungan publik.

Presiden AS Donald Trump (Foto: Dennis Schneidler-Imagn/Reuters)

Kyiv, Jurnas.com - Klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina pada Minggu (11/10) kemarin memicu kebingungan publik.

Pasalnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa Rusia justru melancarkan serangan ke sejumlah pembangkit listrik Ukraina pada hari yang sama, termasuk fasilitas di ibu kota Kyiv dan Kharkiv yang memicu pemadaman listrik.

Di Kharkiv, serangan bom udara berpemandu Rusia menewaskan satu orang, melukai delapan lainnya, serta merusak permukiman warga, sebagaimana dikutip dari Arab News pada Senin (12/10).

Zelensky kemudian menyatakan bahwa sejumlah pembangkit listrik Ukraina terkena serangan dan langit Ukraina dipenuhi pesawat nirawak `Shahed` buatan Iran sepanjang hari.

Sejak melancarkan invasi skala penuh pada 2022, Rusia telah secara sistematis menargetkan infrastruktur energi Ukraina hingga memicu krisis listrik dan pemanas, yang mendorong Ukraina membalas dengan menyerang kilang-kilang minyak Rusia.

Klaim Trump terjadi di tengah lonjakan harga dan kelangkaan minyak akibat perangnya di Iran, yang menciptakan tekanan politik besar bagi Partai Republik menjelang pemilu sela awal bulan depan.

Meski gencatan senjata energi ini mendapat dukungan dari para sekutu utama seperti Inggris, Prancis, Kanada, dan Komisi Eropa yang mendesak Rusia mematuhi kesepakatan, langkah pelonggaran sanksi solar Rusia sebelumnya menuai kritik luas.

Zelensky menilai kesepakatan solar tersebut sebagai keputusan yang lemah, sementara tujuh senator AS termasuk empat dari Partai Republik, merilis pernyataan yang mengecam kesepakatan solar itu ilegal.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney turut menegaskan bahwa kesepakatan solar tersebut bertentangan langsung dengan upaya Ukraina, Kanada, dan para sekutu untuk menciptakan perdamaian di Eropa.

Ketegangan makin meruncing setelah Trump pada Sabtu sebelumnya menyatakan bahwa sudah saatnya bagi Ukraina untuk memiliki presiden baru, yang bersedia mengakhiri perang.

Zelensky membalas pernyataan tersebut dalam wawancara dengan ABC News bahwa penentuan pemimpin sepenuhnya berada di tangan rakyat Ukraina.

"Terserah masyarakat kami, terserah rakyat kami untuk memilih satu atau pemimpin lainnya," tegas Zelensky.

KEYWORD :

Gencatan Senjata Energi Perang Rusia vs Ukraina Donald Trump




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :