Kamis, 08/10/2026 19:17 WIB

Puan Disambut Hangat Delegasi IPU, Bicara Demokrasi dan Keadilan Sosial





Demokrasi harus memberikan kemampuan nyata kepada rakyat untuk membantu membentuk arah kebijakan, mengamankan bagian yang adil dari kemajuan

Ketua DPR RI Puan Maharani mendapat sambutan hangat dari sejumlah delegasi parlemen negara sahabat saat menghadiri Sidang Umum Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-153 di Arusha, Tanzania. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Ketua DPR RI Puan Maharani mendapat sambutan hangat dari sejumlah delegasi parlemen negara sahabat saat menghadiri Sidang Umum Inter-Parliamentary Union (IPU) ke-153 di Arusha, Tanzania.

Kehadiran Puan dalam forum parlemen dunia tersebut tidak hanya untuk menyuarakan kepentingan diplomasi Indonesia, tetapi juga bertepatan dengan agenda penting pemilihan Presiden IPU periode 2026-2029.

Puan hadir di Arusha International Conference Centre, Kamis (8/10), didampingi Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Irine Yusiana Roba Putri, Anggota Komisi XII DPR RI Shanty Alda Nathalia, serta Duta Besar RI untuk Tanzania Tri Yogo Jatmiko.

Dalam forum tersebut, Puan turut menyampaikan pandangan pada agenda general debate yang diikuti para ketua parlemen negara anggota IPU.

Puan menyoroti pentingnya tata kelola pemerintahan yang tidak hanya mengedepankan efektivitas birokrasi, tetapi juga memastikan demokrasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, pemerintahan yang baik harus dibangun di atas prinsip keadilan. Demokrasi, kata Puan, tidak cukup berhenti pada proses politik, tetapi harus mampu mendorong pemerataan ekonomi dan keadilan sosial.

“Demokrasi harus memberikan kemampuan nyata kepada rakyat untuk membantu membentuk arah kebijakan, mengamankan bagian yang adil dari kemajuan, dan mengubah kehidupan mereka,” ujar Puan.

Ia menilai pemerintahan yang efisien, transparan, tertib, dan efektif merupakan instrumen untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yakni kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, ukuran keberhasilan negara tidak semata-mata dilihat dari pertumbuhan ekonomi maupun kecanggihan institusi pemerintahan.

“Ukuran keberhasilan suatu negara bukan hanya pertumbuhan, prosedur, atau kecanggihan kelembagaan, tetapi juga peningkatan kapasitas rakyat untuk menentukan masa depan mereka sendiri,” tegasnya.

Puan juga mengingatkan potensi ketimpangan ketika kekuatan ekonomi terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat berpengaruh terhadap kekuatan politik dan pada akhirnya memperlebar kesenjangan sosial.

Dalam konteks itu, Puan menempatkan parlemen sebagai institusi strategis untuk memastikan suara rakyat tetap menjadi bagian utama dalam proses pengambilan keputusan negara.

“Legitimasi demokrasi tidak berakhir ketika pemilihan umum selesai. Hal itu harus terus diperbarui melalui keputusan negara yang adil, transparan, dan akuntabel, serta memberikan hasil nyata bagi rakyat,” katanya.

Selain agenda persidangan, perhatian delegasi Indonesia juga tertuju pada pemilihan Presiden IPU ke-32 yang akan digelar Jumat (9/10).

Tiga kandidat bersaing memperebutkan posisi tersebut, yakni Sahiba Gafarova dari Azerbaijan, Milton Dick dari Australia, dan Rojo Edwards Silva dari Chile.

Puan telah bertemu dengan ketiga kandidat tersebut di sela-sela rangkaian Sidang Umum IPU. Pertemuan dilakukan sebagai bagian dari upaya mendengarkan gagasan dan visi masing-masing calon secara berimbang sebelum proses pemungutan suara.

Irine Yusiana Roba Putri mengatakan kehadiran Puan memiliki arti penting karena pemilihan Presiden IPU hanya berlangsung setiap tiga tahun.

“Partisipasi Ketua DPR RI Puan Maharani dalam IPU Assembly ke-153 didorong oleh peristiwa 3 tahun sekali pemilihan Presiden IPU untuk masa jabatan 2026-2029,” kata Irine.

Menurut dia, Puan juga hadir untuk menunjukkan solidaritas parlemen Indonesia terhadap seluruh kandidat yang mengikuti kontestasi tersebut.

“Selain menyaksikan dan turut dalam pemungutan suara, kehadiran Ketua DPR merupakan dukungan solidaritas kepada para calon Presiden dalam proses pemilihan Presiden IPU tersebut,” ujarnya.

Di sela-sela forum IPU, Puan juga melakukan pertemuan bilateral dengan sejumlah pimpinan parlemen negara anggota, antara lain Thailand dan Georgia.

Irine menyebut kehadiran Puan di Tanzania mendapat respons positif dari sejumlah delegasi. Pandangan yang disampaikan Ketua DPR dalam general debate juga mendapat apresiasi dari anggota parlemen negara sahabat.

Salah satunya datang dari delegasi Iran yang menyampaikan penghargaan atas pidato Puan yang dinilai membawa pesan mengenai demokrasi ekonomi dan keadilan sosial.

“Contohnya saat setelah speech, Ibu Ketua DPR disambut oleh delegasi Iran yang menyatakan menghargai pidato beliau yang inspiratif dan merefleksikan keadilan sosial dan demokrasi ekonomi,” ujar Irine.

Tidak hanya itu. Saat hendak meninggalkan ruang persidangan untuk menghadiri agenda bilateral, Puan disebut sempat dihampiri sejumlah delegasi.

“Lalu saat hendak meninggalkan ruang acara karena akan melakukan bilateral meeting, Ibu Ketua dicegat oleh beberapa delegasi seraya mengucapkan terima kasih atas dukungan resolusi Nepal dan pidato beliau,” ungkapnya.

Sidang Umum IPU ke-153 mengangkat tema “Meningkatkan Tata Kelola yang Baik dan Memberdayakan Masyarakat melalui Inklusivitas, Kepercayaan, dan Peluang bagi Semua.”

Pemilihan Presiden IPU ke-32 akan menentukan pengganti Tulia Ackson dari Tanzania yang saat ini menjabat sebagai Presiden IPU ke-31. Presiden terpilih akan memimpin organisasi parlemen dunia tersebut untuk periode 2026-2029.

 

 

 

KEYWORD :

Ketua DPR Puan Maharani Sidang Umum IPU forum parlemen dunia pemilihan ketua




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :