Kamis, 08/10/2026 14:40 WIB

El Nino 2026 Menguat, WMO Peringatkan Risiko Cuaca Ekstrem





El Nino telah terbentuk dengan kuat dan menguat dengan cepat

Dampak fenomena El Nino (Foto: Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Fenomena El Nino yang sedang berlangsung diperkirakan menguat dengan cepat dan berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950.

Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) memperingatkan kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gelombang panas, kekeringan, banjir, serta perubahan pola hujan di berbagai wilayah dunia.

Dalam pembaruan terbaru Global Seasonal Climate Update, WMO menyebut peluang El Nino bertahan hingga Februari 2027 mendekati 100 persen. Fenomena tersebut diperkirakan mencapai puncaknya sekitar Desember 2026.

“El Nino telah terbentuk dengan kuat dan menguat dengan cepat,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo.

Menurut Saulo, El Nino kali ini berpotensi menjadi “salah satu yang terkuat sejak setidaknya 1950”.

Salah satu indikator utama yang menjadi perhatian adalah suhu permukaan laut di wilayah Nino 3.4, kawasan Pasifik ekuator bagian tengah dan timur yang menjadi salah satu parameter penting dalam memantau El Nino.

Untuk periode Oktober hingga Desember, anomali suhu permukaan laut di wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 3,7 derajat Celsius di atas normal.

WMO menyebut angka tersebut berpotensi menjadi yang tertinggi sejak pengamatan dimulai. Sebagai pembanding, rekor sebelumnya tercatat sebesar 2,6 derajat Celsius di atas normal pada periode November 2015 hingga Januari 2016.

Jika prakiraan tersebut terwujud, perbedaan dengan rekor sebelumnya akan sangat besar dan menempatkan El Nino saat ini dalam kategori peristiwa yang luar biasa kuat.

WMO memperkirakan El Nino akan mendorong suhu di atas rata-rata di wilayah yang luas di berbagai belahan dunia.

Fenomena ini juga dapat mengubah distribusi curah hujan secara signifikan. Dampaknya tidak akan dirasakan secara seragam karena beberapa kawasan berpotensi mengalami kondisi lebih basah, sementara wilayah lain justru menghadapi cuaca lebih kering.

Kondisi yang lebih basah dari normal diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Tanduk Afrika Raya, sebagian Asia Tengah dan Asia Timur, bagian utara Semenanjung Arab, sejumlah wilayah Amerika Utara serta Amerika Selatan bagian tenggara.

Sebaliknya, kondisi lebih kering dari normal diperkirakan terjadi di anak benua India, sebagian Amerika Tengah bagian selatan, sejumlah wilayah Karibia dan Amerika Selatan bagian barat laut.

Perubahan pola tersebut dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi, bergantung pada kondisi lokal dan faktor cuaca lainnya.

Meski El Nino berkaitan dengan peningkatan suhu global, WMO menjelaskan bahwa fenomena ini tidak menciptakan tambahan panas planet secara langsung.

Menurut Saulo, El Nino menyebabkan panas yang sebelumnya tersimpan di lautan dilepaskan ke atmosfer. Persoalannya, lautan yang menjadi sumber panas dalam peristiwa El Nino kali ini berada pada kondisi yang sangat hangat.

“Lautan tempat peristiwa ini mengambil panas adalah yang terhangat yang pernah kami ukur,” ujar Saulo.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan WMO menaruh perhatian besar terhadap perkembangan El Nino saat ini.

Penguatan El Nino tidak berarti seluruh dunia akan mengalami cuaca yang sama. Justru perubahan sirkulasi atmosfer dan pola hujan dapat menghasilkan dampak yang berbeda-beda antarwilayah.

Sebagian daerah berpotensi menghadapi hujan lebih tinggi dan risiko banjir, sementara kawasan lain dapat mengalami periode kering yang lebih panjang dan meningkatkan ancaman kekeringan.

Di tengah kondisi tersebut, perubahan suhu juga dapat memperbesar risiko panas ekstrem di sejumlah wilayah.

WMO menekankan pentingnya pemantauan dan kesiapsiagaan karena dampak El Nino dapat berinteraksi dengan kondisi iklim dan cuaca regional yang sudah ada.

WMO memperkirakan El Nino akan tetap berlangsung setidaknya hingga Februari 2027, dengan intensitas tertinggi kemungkinan terjadi sekitar Desember 2026.

Lembaga meteorologi nasional dan forum iklim regional kini memberikan pembaruan secara berkala kepada pemerintah serta mitra kemanusiaan. Informasi tersebut digunakan untuk membantu persiapan menghadapi risiko cuaca dan mengurangi dampak terhadap masyarakat.

Dengan suhu permukaan laut di kawasan Nino 3.4 yang diperkirakan mencapai level rekor, perkembangan El Nino dalam beberapa bulan ke depan menjadi perhatian penting bagi kondisi cuaca di berbagai belahan dunia. (*)

Sumber: Anadolu

KEYWORD :

Organisasi Meteorologi Dunia El Nino Cuaca Ekstrem Perubahan Iklim Samudra Pasifik




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :