Seorang gadis Palestina yang terlantar menunggu untuk mengambil air di Jalur Gaza tengah, 4 Oktober 2025. REUTERS
Jakarta, Jurnas.com - Lebih dari 1,2 juta orang di Jalur Gaza dan Tepi Barat mengalami kekurangan pangan akut pada periode April hingga Juni, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) pada Rabu (7/10).
"Di Gaza dan Tepi Barat, lebih dari 1,2 juta orang menghadapi tingkat kerawanan pangan akut pada kategori Krisis atau lebih parah antara April dan Juni 2026. Kondisi tersebut diperkirakan semakin memburuk pada semester kedua tahun ini," kata FAO dalam sebuah pernyataan, dengan mengutip data dari sistem pemantauan Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC).
FAO meminta dana sebesar 140,9 juta dolar AS (sekitar Rp2,52 triliun) untuk tahun 2027 guna memberikan bantuan pertanian darurat dan mendukung pemulihan di kawasan tersebut.
Bantuan tersebut menjadi sangat penting untuk memulihkan produksi pangan dan mata pencaharian masyarakat terdampak krisis, kata FAO.
Sebagai perbandingan, pada 1 April hingga 10 Mei 2025 lalu, sebanyak 1,95 juta orang atau 93 persen penduduk di Jalur Gaza mengalami kerawanan pangan akut pada Tahap 3 atau lebih tinggi.
Jumlah tersebut termasuk 925.000 orang yang berada dalam situasi darurat atau Tahap 4 dan 244.000 orang dalam kondisi bencana atau Tahap 5.
IPC, yang diakui secara internasional, mengidentifikasi tingkat kerawanan pangan akut menjadi lima, mulai dari tingkat pertama (minimal) hingga tingkat kelima (bencana besar).
Tingkat ketiga, keempat, dan kelima masing-masing setara dengan krisis, keadaan darurat, dan bencana besar.
Sumber: Sputnik
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Warga Gaza Genosida Israel Krisis Pangan Gaza
























