Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar memberi sambutan pada acara peringatan Hari Lahir Ke-76 Fatayat Nahdlatul Ulama dan mengenang 40 hari wafatnya Margaret Aliyatul Maimunah di Masjid Istiqlal, Ahad (Foto: Kemenag)
Jakarta, Jurnas.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai ajaran Islam menempatkan relasi laki-laki dan perempuan dalam prinsip kesetaraan dan saling melengkapi.
Karenanya, Menag mengajak perempuan untuk bisa mengambil peran yang sama seperti halnya dengan laki-laki, terkhusus menjadi seorang pemimpin.
“Jadi coba kita lihat. Saya mohon kepada kita semuanya bahwa perempuan jangan didiskreditkan, jangan dipinggirkan berdasarkan agama. Tidak ada dalil yang bisa menyebabkan perempuan itu terpinggirkan,” ujar Menag.
Hal itu disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada peringatan Hari Lahir ke-76 Fatayat Nahdlatul Ulama dan mengenang 40 hari wafatnya Margaret Aliyatul Maimunah di Masjid Istiqlal, Ahad, (17/5/2026).
Menag menerangkan bahwa Al-Qur’an tidak menempatkan perempuan sebagai kelompok kelas dua. Menurutnya, ayat-ayat yang membahas relasi gender justru dibangun di atas konsep kesetaraan.
“Semua ayat-ayat yang berbicara tentang relasi gender dalam Al-Quran itu menggunakan konsep kesetaraan,” katanya sembari menjelaskan penggalan ayat-ayat Quran yang dirujuknya.
Menag lalu mencontohkan ruang kepemimpinan perempuan di lingkungan pendidikan tinggi keagamaan Islam yang terus meningkat. Ia melihat sekarang ini ada delapan perguruan tinggi keagamaan Islam dipimpin oleh rektor perempuan.
“Semenjak Indonesia merdeka, baru kali ini, tahun ini, rektor di Perguruan Tinggi Agama Islam itu dipimpin oleh delapan orang rektor perempuan,” tuturnya.
Menurut Menag, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan semakin diterima dan dibutuhkan. Ia menilai model kepemimpinan yang memasukkan nilai-nilai feminim menjadi penting sebagai rujukan untuk menjadi seorang pemimpin.
“Pengalaman membuktikan bahwa ternyata para pemimpin besar itu ialah pemimpin yang mampu menjalankan fungsi-fungsi ketenangan, kesabaran, kemudian juga femininity, kelembutan di dalam menjalankan fungsi manajerialnya. Apalagi sekarang, kepemimpinan feminin itu sangat dibutuhkan,” ujanya.
Menag kemudian mengajak kader Fatayat NU untuk berani melampaui hambatan budaya yang selama ini membatasi peran perempuan di ruang publik. Ia meminta generasi muda perempuan muslim tampil percaya diri dan aktif mengambil peran strategis di masyarakat.
“Sudah mulai berimbang tuh. Karena itu saya mohon kepada kita semuanya mari kita meloncati zaman. Kalau teman-teman kita dulu ya mengikuti zamannya mungkin agak-agak segan sedikit maju karena mungkin terkooptasi oleh culture. Nah saya mohon kepada kita semua, terutama anak-anak atau adik-adik Fatayat ini agar ke depan itu berani,” katanya.
Sekretaris Umum PP Fatayat NU, Hj Ella Siti Nuryamah menegaskan, Fatayat NU mempunyai kader-kader potensial yang kini menjadi kekuatan dan penggerak pengabdian di masyarakat.
“Potensi dan aset Fatayat adalah kader-kader yang handal, loyal, dan teruji di lapangan,” tuturnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Menteri Agama Nasaruddin Umar Kesetaraan Gender Ajaran Islam


























