Selasa, 21/04/2026 00:40 WIB

Selain Kartini, Ini 4 Perempuan Pejuang Pendidikan di Indonesia





Selain Kartini, berikut adalah 4 tokoh perempuan Indonesia pelopor pendidikan yang kisahnya layak dikenang—dan dijadikan inspirasi lintas generasi.

Sejarah 21 April ditetapkan sebagai hari Kartini (Foto: FREEPIK)

Jakarta, Jurnas.com - Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kembali menjadi pengingat akan pentingnya emansipasi dan kesetaraan pendidikan di Indonesia.

Melalui pemikiran visionernya yang terangkum dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Raden Ajeng (RA) Kartini menegaskan bahwa pendidikan adalah kunci bagi perempuan untuk berdaya dan mandiri.

Langkah nyata Kartini dalam mendirikan sekolah bagi kaumnya menjadi fondasi kuat bagi gerakan emansipasi hingga saat ini. Namun, sejarah mencatat bahwa perjuangan ini tidak berdiri sendiri.

Keberanian para tokoh perempuan di masa penjajahan dalam melawan budaya patriarki telah membuktikan bahwa pendidikan merupakan pilar utama kemajuan bangsa.

Mengutip berbagai sumber, selain RA Kartini berikut adalah 4 tokoh perempuan Indonesia pelopor pendidikan yang kisahnya layak dikenang dan dijadikan inspirasi lintas generasi.

1. Dewi Sartika

Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884, di Bandung. Di tengah dominasi kolonial Belanda yang membatasi hak perempuan, ia tampil sebagai pelopor yang membangun jembatan pertama menuju pendidikan perempuan di Hindia Belanda.

Pada tahun 1904, Dewi Sartika mendirikan Sakola Istri, sekolah pertama untuk perempuan pribumi di Jawa Barat. Sekolah ini tak hanya mengajarkan keterampilan rumah tangga, tetapi juga menanamkan literasi dasar, moral, dan keterampilan hidup.

Dedikasi Dewi Sartika menandai awal kebangkitan perempuan dalam dunia pendidikan di wilayah Sunda, sekaligus mengubah cara pandang masyarakat terhadap peran perempuan.

2. Raden Ayu Lasminingrat

Putri bangsawan Sunda kelahiran Garut pada 1843 ini merupakan salah satu pionir literasi dan pendidikan perempuan di Tanah Priangan. Setelah menikah dengan Bupati Garut, Lasminingrat memanfaatkan posisinya untuk mendirikan Sekolah Keutamaan Istri, sebuah institusi pendidikan perempuan yang berdiri di Pendopo Kabupaten.

Lebih dari sekadar pendidik, ia juga dikenal sebagai penulis dan penerjemah sastra dari Bahasa Belanda ke Bahasa Sunda, menjadikannya sebagai salah satu intelektual perempuan pertama Indonesia.

3. Rahmah El Yunusiyah

Lahir: 20 Desember 1880, Padang Panjang

Dari bumi Minangkabau, Rahmah El Yunusiyah membawa visi besar untuk menghhadirkan pendidikan agama yang berkualitas untuk perempuan. Ia mendirikan Diniyyah Puteri pada tahun 1923—sebuah lembaga pendidikan Islam yang kemudian berkembang dari madrasah hingga perguruan tinggi.

Pada 1967, Rahmah berhasil mendirikan Fakultas Tarbiyah dan Dakwah yang memperkuat peran perempuan dalam dakwah dan pendidikan. Kiprahnya membuatnya dihormati, tak hanya di dalam negeri tetapi juga oleh tokoh-tokoh dunia Islam.

4. Maria Walanda Maramis

Lahir di Minahasa pada Februari 1872, Maria dikenal sebagai pionir pendidikan perempuan di Sulawesi Utara. Pada 1917, ia mendirikan Huishoud School, sekolah yang mengajarkan perempuan keterampilan praktis seperti memasak, mengatur keuangan rumah tangga, hingga literasi dasar.

Tujuannya bukan sekadar membuat perempuan menjadi ibu rumah tangga yang baik, melainkan membekali mereka dengan kecakapan hidup agar mampu mandiri secara sosial dan ekonomi.

KEYWORD :

Perempuan Pejuang Pendidikan Hari Kartini RA Kartini Tokoh Indonesia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :