Kapal gandum pertama menuju Afrika sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari berlabuh di pelabuhan Pivdennyi (File: Kementerian Pertahanan Turki via Anadolu Agency)
JAKARTA, Jurnas.com - Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menyuarakan keprihatinan mendalam atas keputusan Rusia menangguhkan partisipasinya dalam kesepakatan yang memungkinkan pengiriman biji-bijian dari Ukraina.
Beruang Merah itu menunda kunjungan asing untuk mencoba menghidupkan kembali kesepakatan yang ditengahi PBB dengan maksdu untuk meredakan krisis pangan global.
Rusia, yang menginvasi Ukraina pada Februari, pada Sabtu menghentikan perannya dalam kesepakatan Laut Hitam yang ditengahi pada Juli, secara efektif memotong pengiriman dari salah satu pengekspor biji-bijian utama dunia.
Rusia mengatakan pihaknya menanggapi apa yang disebutnya serangan pesawat tak berawak Ukraina pada hari sebelumnya terhadap armadanya di dekat pelabuhan Sevastopol di Krimea yang dicaplok Rusia.
"Sekretaris Jenderal sangat prihatin dengan situasi yang sedang berlangsung mengenai Inisiatif Butir Laut Hitam," kata Juru Bicara PBB, Stephane Dujarric dalam sebuah pernyataan.
Sekjen PBB Mengeluarkan SOS untuk Kepulauan Pasifik yang Paling Parah Terdampak Pemanasan Air Laut
Dujarric menambahkan bahwa Guterres terlibat dalam kontak intens yang bertujuan untuk mengakhiri penangguhan Rusia atas partisipasinya di persetujuan.
Menurut pernyataan itu, Guterres menunda keberangkatannya ke KTT Liga Arab di Aljir selama sehari untuk fokus pada masalah ini.
Lebih dari 9 juta ton jagung, gandum, produk bunga matahari, barley, rapeseed dan kedelai telah diekspor di bawah kesepakatan, yang dinegosiasikan oleh Turki bersama dengan PBB.
Kementerian Pertahanan Turki mengatakan Menteri Hulusi Akar sedang dalam pembicaraan dengan rekan-rekan Rusia dan Ukraina untuk melanjutkan perjanjian dan telah meminta pihak-pihak yang terlibat untuk menghindari provokasi.
NATO mengatakan, ekspor gandum Ukraina membantu mengurangi harga pangan di seluruh dunia. "Kami meminta Rusia mempertimbangkan kembali keputusannya dan segera memperbarui kesepakatan, memungkinkan makanan menjangkau mereka yang paling membutuhkannya," kata Juru Bicara NATO Oana Lungescu.
Kementerian infrastruktur Ukraina mengatakan 218 kapal "secara efektif diblokir" oleh keputusan itu.
Harga gandum di pasar komoditas internasional diperkirakan akan melonjak pada Senin, karena Rusia dan Ukraina adalah salah satu eksportir gandum terbesar di dunia, kata para analis.
Uni Eropa juga mendesak Moskow untuk berbalik arah.
"Keputusan Rusia untuk menangguhkan partisipasi dalam kesepakatan Laut Hitam membahayakan rute ekspor utama biji-bijian dan pupuk yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis pangan global yang disebabkan oleh perangnya melawan Ukraina," tulis kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell di Twitter.
Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden pada Sabtu menyebut langkah Rusia murni keterlaluan dan mengatakan itu akan meningkatkan kelaparan. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menuduh Moskow mempersenjatai makanan.
Pada hari Minggu, duta besar Rusia untuk Washington, membentak, mengatakan tanggapan AS "keterlaluan" dan membuat pernyataan palsu tentang langkah Moskow.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan Ukraina menyerang Armada Laut Hitam di dekat Sevastopol dengan 16 pesawat tak berawak lebih awal dan spesialis angkatan laut Inggris telah membantu mengoordinasikan serangan tersebut.
Rusia mengatakan pihaknya menangkis serangan itu tetapi kapal-kapal yang ditargetkan terlibat dalam memastikan koridor gandum keluar dari pelabuhan Laut Hitam Ukraina.
Sumber: Reuters
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Perang Rusia dan Ukraina Sekjen PBB Ekspor Gandum Ditangguhkan

























