Kawasan pemerintahan Inggris (Foto: Doknet)
London, Jurnas.com - Data resmi terbaru menunjukkan bahwa perekonomian Inggris pada kuartal kedua mengalami penyusutan, yang berpeluang mengakibatkan negara itu mengalami resesi dalam waktu dekat.
Dikutip dari AFP pada Jumat (12/8), Kantor Statistik Nasional (OSN) Inggris mengungkapkan, produk domestik bruto Inggris turun 0,1 persen pada periode April-Juni, setelah sebelumnya naik 0,8 persen pada kuartal pertama.
Bank of England (BoE) memperkirakan ekonomi akan memasuki resesi selama setahun pada akhir 2022, di mana warga Inggris mengalami krisis biaya hidup dengan inflasi pada level tertinggi dalam beberapa dekade.
"Dengan pertumbuhan Mei yang direvisi turun sedikit dan Juni menunjukkan penurunan yang mencolok, secara keseluruhan ekonomi sedikit menyusut pada kuartal kedua," kata Direktur Statistik Ekonomi ONS, Darren Morgan.
"Kesehatan adalah alasan terbesar ekonomi berkontraksi karena program tes dan pelacakan (Covid) dan vaksin dihentikan, sementara banyak pengecer juga mengalami kuartal yang sulit," lanjut dia. ONS menambahkan bahwa ekonomi Inggris merosot 0,6 persen pada Juni.
Terkait data ini, Menteri Keuangan Inggris, Nadhim Zahawi menyatakan siap "bekerja dengan Bank of England untuk mengendalikan inflasi dan menumbuhkan ekonomi".
Tetapi, Perdana Menteri Boris Johnson kabarnya tidak akan membuat intervensi fiskal besar-besaran sebelum meninggalkan pemerintahan bulan depan, sebagaimana disampaikan oleh juru bicaranya, di tengah seruan agar pemerintah segera mengatasi krisis biaya hidup Inggris.
Ini Bedanya Manajer dan Pelatih di Liga Inggris
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Inggris Resesi Perekonomian


























