Sabtu, 26/09/2020 09:50 WIB

Kostratani Pandeglang Bersama Petani Kendalikan OPT Sejak Dini

Serangan OPT merupakan salah satu faktor penyebab tidak tercapainya target produksi pertanian. Untuk itu perlu dilakukan pengamatan dan pengendalian secara dini.

Petani melakukan pengendalian OPT sejak dini. (Foto: Ist)

Pandeglang, Jurnas.com -  Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Kostratani) Pandeglang bersama petani melakukan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) sejak dini untuk mengamankan produksi padi.

Serangan OPT merupakan salah satu faktor penyebab tidak tercapainya target produksi pertanian. Untuk itu perlu dilakukan pengamatan dan pengendalian secara dini.

Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Mandalawangi, Hilman Jayadiningrat menyarankan agar sebaiknya pengamatan dilakukan semenjak di persemaian hingga panen.

Sebagai upaya preventif, guna mengamankan produksi Hilman bersama dengan Penyuluh BPP Kostratani Mandalawangi, dan petani, melakukan pengamatan Wereng Batang Coklat (WBC) secara dini. Pengamatan dilakukan di Desa Nembol dan Desa Cikoneng, Sabtu (8/8).

Ia mengaku di kedua desa tersebut teridentifikasi serangan namun masih dalam jumlah kecil. Menurutnya secara keseluruhan di kecamatannya sampai saat ini masih aman dan ada kecenderungan aman dari OPT.

"Teridentifikasi serangan di desa Nembol dan Cikoneng. Di Nembol ada peningkatan populasi namun belum nampak adanya serangan dengan skala 1-9. Hasil pengamatan menunjukan populasi WBC di bawah ambang pengendalian. Serangan masih kecil identifikasi masih bisa dihitung. Dari luas 30 hektare di Kecamatan Mandalawangi, yang ada hama kurang dari 1.000 m2," jelasnya.

Menurut Hilman hal tersebut karena adanya musuh alami (MA) seperti Ophionea,sp, Paederus, sp, Lycosa, capung. Ular dan lain –lain yang dapat memangsa OPT WBC, dan tidak adanya serangan/intensitas.

"Dengan mengetahui keberadaan awal OPT akan sangat menentukan keberhasilan panen. Dengan diketahuinya populasi awal OPT, maka dapat segera melakukan tindakan pengendalian yang tepat dan akurat sehingga OPT dapat dikendalikan dengan baik," ujar Hilman.

Ia pun tak bosan mengingatkan pada para petani di Mandalawangi untuk melakukan pengamatan OPT secara mandiri dan rutin.

"Kepada petani di lapangan saya menyampaikan proses pengamatan OPT tidak hanya dilakukan oleh petugas pengamat hama dan penyuluh, tetapi petani harus turut mengamati langsung di lahannya masing masing," kata Hilman.

Selain dengan melakukan pengamatan dan pengendalian secara dini, antisipasi serangan dilakukan dengan pengembangan refugia, pemupukan berimbang budidaya tanaman sehat, dan penggunaan agensia hayati metharizium dan bahan ramah lingkungan.

Dengan demikian selain dapat menjaga kelestarian lingkungan juga menghasilkan produksi yang optimal untuk menjaga kecukupan pangan bagi 267 juta jiwa masyarakat Indonesia, seperti seruan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menegaskan bahwa insan pertanian harus tetap bekerja giat walau di tengah pandemi.

"Petani terus berproduksi dan penyuluh terus turun ke lapang, ke sawah, ladang untuk mendampingi petani untuk genjot produksi, karena produksi pangan tidak boleh berhenti," kata Dedi.

TAGS : Organisme Pengganggu Tumbuhan Dedi Nursyamsi Pangan Nasional




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :