Ilustrasi kerusakan lingkungan (hutan) akibat penebangan pohon. (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Sebagian besar perusahaan besar dunia belum mengukur dampak aktivitas bisnis mereka terhadap keanekaragaman hayati. Sementara itu, perusahaan yang sudah melakukan pengukuran pun berisiko salah menentukan prioritas perlindungan alam karena hanya mengandalkan satu indikator.
Temuan penelitian Lund University, Swedia, ini menyoroti persoalan penting dalam praktik keberlanjutan perusahaan. Pengukuran dampak lingkungan tidak cukup sekadar menghasilkan angka, tetapi juga harus mampu menggambarkan berbagai aspek keanekaragaman hayati yang berpotensi terdampak oleh kegiatan industri.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Cleaner Production tersebut menganalisis laporan keberlanjutan 89 perusahaan dari kelompok Global Fortune 500 yang bergerak di sektor dengan jejak ekologis besar. Sektor tersebut meliputi makanan, minuman dan tembakau, energi dan pertambangan, pakaian, bahan kimia, serta konstruksi.
Aktivitas perusahaan di sektor-sektor itu berpotensi menyebabkan hilangnya habitat, perubahan penggunaan lahan, dan penurunan populasi spesies, baik melalui kegiatan operasional maupun rantai pasok.
Dari 89 perusahaan yang dianalisis, hanya delapan atau sekitar 9 persen yang melaporkan penggunaan indikator keanekaragaman hayati untuk membantu pengambilan keputusan. Dari jumlah tersebut, hanya dua perusahaan yang menggunakan lebih dari satu indikator secara bersamaan.
Temuan ini memperlihatkan masih terbatasnya penggunaan ukuran ilmiah untuk menilai dampak bisnis terhadap keanekaragaman hayati. Namun, persoalannya tidak berhenti pada sedikitnya perusahaan yang melakukan pengukuran.
Para peneliti menekankan bahwa penggunaan indikator yang kurang tepat juga dapat menghasilkan kesimpulan menyesatkan. Perusahaan mungkin merasa telah mempertimbangkan kepentingan lingkungan, padahal metode yang digunakan belum menangkap seluruh nilai ekologis suatu kawasan.
Dalam konteks keputusan bisnis, kekeliruan tersebut dapat memengaruhi pemilihan lokasi produksi, sumber bahan baku, hingga penentuan kawasan yang perlu diprioritaskan untuk perlindungan alam.
Mengapa satu indikator tidak cukup untuk mengukur keanekaragaman hayati? Keanekaragaman hayati mencakup variasi kehidupan di dalam spesies, antarspesies, serta ekosistem. Karena memiliki banyak dimensi, kondisi biodiversitas tidak bisa direpresentasikan secara utuh oleh satu ukuran saja.
Dalam penelitian ini, para peneliti membandingkan empat indikator yang telah digunakan atau sedang dipertimbangkan untuk menilai keanekaragaman hayati di seluruh wilayah daratan dunia.
Dua indikator mengukur integritas ekosistem, yakni tingkat keutuhan dan minimnya gangguan pada suatu habitat. Indikator ketiga menilai keberadaan spesies terancam, sedangkan indikator keempat mengukur kekayaan spesies atau jumlah spesies dalam suatu kawasan.
Hasil perbandingan menunjukkan bahwa hubungan antara indikator-indikator tersebut sering kali lemah, bahkan terkadang berlawanan arah. Kawasan yang memperoleh nilai tinggi berdasarkan integritas ekosistem belum tentu memiliki nilai tinggi berdasarkan indikator spesies terancam atau kekayaan spesies.
Perbedaan ini dapat menciptakan titik buta dalam pengambilan keputusan. Suatu kawasan mungkin dinilai tidak terlalu penting berdasarkan satu indikator, tetapi justru memiliki nilai konservasi tinggi ketika dinilai menggunakan indikator lain.
William Sidemo-Holm dari Lund University menjelaskan bahwa setiap indikator mengukur aspek alam yang berbeda. Karena itu, penggunaan satu indikator saja tidak dapat memberikan gambaran lengkap mengenai kondisi keanekaragaman hayati.
Persoalan penggunaan indikator tunggal menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan proyeksi perubahan penggunaan lahan pada masa mendatang.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa sekitar 3 persen daratan dunia diproyeksikan menghadapi tingkat kehilangan habitat yang tinggi akibat ekspansi pertanian hingga 2050. Sementara itu, sekitar 5 persen menghadapi tekanan serupa akibat pemanenan hutan primer dan 0,5 persen akibat pembangunan perkotaan.
Di kawasan-kawasan yang diproyeksikan mengalami tekanan tersebut, perbedaan penilaian ant indikator tetap terlihat kuat.
Artinya, perusahaan yang hanya menggunakan satu ukuran untuk menentukan lokasi kegiatan usaha atau sumber bahan baku berisiko mengabaikan ancaman terhadap aspek keanekaragaman hayati yang tidak tercakup dalam indikator pilihannya.
Risiko ini relevan bagi industri yang bergantung pada komoditas pertanian dan hasil hutan. Ketika ekspansi usaha berlangsung di kawasan yang mengalami tekanan ekologis tinggi, kesalahan dalam mengidentifikasi nilai keanekaragaman hayati dapat membuat dampak penting luput dari penilaian.
Salah satu contoh dalam penelitian tersebut berasal dari ekoregion hutan boreal. Di kawasan ini, indikator yang berbeda menghasilkan penilaian yang bertolak belakang mengenai keanekaragaman hayati di hutan primer dan hutan sekunder.
Indikator integritas ekosistem memberikan nilai lebih tinggi kepada hutan primer. Sebaliknya, indikator spesies terancam dan kekayaan spesies memberikan nilai lebih tinggi kepada hutan sekunder.
Perbedaan tersebut penting bagi perusahaan kehutanan yang harus menentukan lokasi pemanenan kayu dan kawasan yang akan dipertahankan.
Jika hanya mengandalkan indikator integritas ekosistem, perusahaan mungkin memprioritaskan perlindungan hutan primer, tetapi kurang memperhatikan nilai keanekaragaman hayati di hutan sekunder.
Padahal, hasil penilaian berdasarkan indikator spesies terancam dan kekayaan spesies dapat menunjukkan prioritas konservasi yang berbeda di kawasan yang sama.
Contoh tersebut memperlihatkan bahwa penilaian yang hanya berfokus pada satu aspek berpotensi mengabaikan nilai ekologis lainnya. Perlindungan alam membutuhkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai karakteristik habitat dan spesies yang hidup di dalamnya.
Para peneliti juga mengidentifikasi kawasan yang memiliki risiko tinggi karena nilai keanekaragaman hayati bertemu dengan ancaman kehilangan habitat.
Dari 846 ekoregion daratan dunia yang dianalisis, terdapat 33 ekoregion tempat lebih dari separuh gabungan nilai indikator yang dinilai terkonsentrasi di wilayah yang diproyeksikan mengalami kehilangan habitat tinggi.
Di sepuluh ekoregion, proporsinya mencapai sedikitnya 80 persen. Sebagian besar kawasan tersebut berada di wilayah tropis, dengan ekspansi pertanian dan deforestasi sebagai pendorong utama proyeksi kehilangan habitat.
Temuan ini menyoroti pentingnya ketepatan penilaian bagi perusahaan yang mengambil bahan baku dari kawasan tropis. Kesalahan dalam menentukan prioritas dapat membuat kawasan bernilai ekologis tinggi luput dari perhatian, justru ketika tekanan terhadap habitat semakin besar.
Bagi industri berbasis komoditas, penilaian keanekaragaman hayati perlu menjadi bagian penting dari keputusan rantai pasok. Perusahaan tidak cukup hanya mengetahui asal bahan baku, tetapi juga perlu memahami kondisi ekosistem dan risiko kehilangan habitat di wilayah tersebut.
Para peneliti merekomendasikan penggunaan beberapa indikator secara bersamaan agar perusahaan dapat menangkap lebih banyak dimensi keanekaragaman hayati.
Mereka juga mengingatkan agar indikator gabungan atau composite indicators, yang merangkum sejumlah ukuran menjadi satu skor, tidak digunakan sebagai pengganti seluruh indikator individual.
Indikator gabungan tetap berguna untuk penyaringan awal, misalnya untuk menentukan kawasan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Namun, penggabungan beberapa ukuran menjadi satu nilai dapat menyembunyikan perbedaan atau pertentangan di antara dimensi biodiversitas.
Sebuah skor keseluruhan bisa terlihat memadai, meskipun salah satu aspek keanekaragaman hayati menunjukkan ancaman serius. Jika informasi dari indikator penyusun tidak diperiksa lebih lanjut, perusahaan berisiko kehilangan informasi penting yang seharusnya memengaruhi keputusan.
Karena itu, pendekatan yang lebih kuat adalah mempertahankan hasil masing-masing indikator, kemudian menilainya secara bersama-sama sesuai dengan konteks kawasan dan aktivitas bisnis yang direncanakan.
Selain memperbanyak indikator, penelitian Lund University menekankan pentingnya penilaian berdasarkan ekoregion, bukan hanya melalui perspektif global.
Kawasan yang terlihat kurang penting ketika dibandingkan dengan wilayah lain belum tentu memiliki nilai ekologis rendah. Suatu ekoregion dengan jumlah spesies relatif sedikit dalam skala global tetap dapat menjadi habitat yang tidak tergantikan bagi spesies tertentu.
Dengan demikian, jumlah spesies atau kondisi ekosistem secara global tidak selalu cukup untuk menentukan prioritas konservasi di tingkat lokal.
Pendekatan berbasis ekoregion membantu perusahaan memahami peran suatu kawasan dalam menopang kehidupan spesies dan menjaga fungsi ekosistem setempat. Informasi tersebut juga dapat menjadi pertimbangan ketika menentukan lokasi operasional, memilih pemasok, atau merencanakan ekspansi.
Temuan ini muncul ketika tuntutan terhadap transparansi dampak lingkungan perusahaan semakin meningkat. Corporate Sustainability Reporting Directive Uni Eropa dan standar baru dari Global Reporting Initiative mendorong pengungkapan informasi kuantitatif mengenai dampak perusahaan terhadap keanekaragaman hayati.
Peningkatan perhatian tersebut mulai terlihat dalam data penelitian. Penggunaan indikator biodiversitas tercatat pada 18 persen laporan perusahaan tahun 2025, naik dari 4 persen pada 2024 dan nol persen pada 2023.
Meski menunjukkan perkembangan positif, peningkatan pelaporan tidak otomatis berarti kualitas pengukuran sudah memadai. Perusahaan masih perlu memastikan bahwa indikator yang digunakan mampu menangkap beragam dimensi keanekaragaman hayati dan risiko yang dihadapi suatu kawasan.
Bagi dunia usaha, tantangannya bukan sekadar menambah data dalam laporan keberlanjutan, melainkan menjadikan data tersebut sebagai dasar keputusan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Sidemo-Holm menegaskan bahwa perusahaan yang ingin memahami dan melaporkan dampaknya terhadap keanekaragaman hayati secara akurat perlu menggunakan beberapa indikator, bukan hanya satu ukuran. (*)
Sumber: Earth
Kamis, 15/10/2026 10:15 WIB
Kamis, 15/10/2026 08:46 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB