https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Ilmuwan Ungkap Lempeng Tektonik Purba Masih Bisa Memicu Letusan Gunung Api

Agus Mughni | Minggu, 07/06/2026 12:11 WIB



Para ilmuwan menemukan bahwa lempeng tektonik purba yang telah lama tenggelam ke dalam mantel Bumi kemungkinan masih memengaruhi akktivitas vulkanik hingga kini Gunung Api aktif (Foto: BPBD Salatiga)

Jakarta, Jurnas.com - Para ilmuwan menemukan bukti baru yang menunjukkan bahwa lempeng tektonik purba yang telah lama tenggelam ke dalam mantel Bumi kemungkinan masih memengaruhi aktivitas vulkanik hingga saat ini.

Temuan tersebut menawarkan penjelasan baru mengenai asal-usul gunung api dan kerak samudra yang sangat tebal di kawasan Dataran Tinggi Azores di Samudra Atlantik Utara

Dikutip dari Earth, selama beberapa dekade, para geolog umumnya menjelaskan terbentuknya kerak samudra yang luar biasa tebal melalui keberadaan mantle plume, yakni kolom batuan panas yang naik dari kedalaman Bumi dan memicu aktivitas vulkanik besar.

Baca juga :
Ilmuwan Ungkap Lempeng Tektonik Purba Masih Aktif di Kedalaman 1.800 Mil

Teori tersebut berhasil menjelaskan sejumlah wilayah vulkanik terkenal seperti Hawaii dan Islandia. Namun, kawasan Azores selama ini menjadi anomali. Ketebalan kerak samudranya mencapai sekitar 30 kilometer atau hampir lima kali lebih tebal dibandingkan kerak samudra normal yang rata-rata hanya sekitar 6 kilometer.

Selain itu, lava di wilayah tersebut mengandung lebih banyak air daripada yang dapat dijelaskan oleh model mantle plume konvensional.

Baca juga :
Studi Ungkap Inti Bumi Bocorkan Emas, Ilmuwan Temukan Jejaknya dalam Lava

Penelitian terbaru yang dipimpin Dr. Jianfeng Yang dari Chinese Academy of Sciences (CAS), Beijing, mengusulkan mekanisme berbeda. Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Communications, sumber utama aktivitas vulkanik di Azores mungkin bukan panas dari mantel dalam, melainkan air yang tersimpan di zona transisi mantel pada kedalaman sekitar 400 hingga 640 kilometer di bawah permukaan Bumi.

Zona transisi mantel diketahui mampu menyimpan sejumlah besar air di dalam struktur mineralnya. Keberadaan air di lapisan tersebut sebelumnya telah dibuktikan melalui penemuan berlian yang membawa mineral kaya air dari kedalaman mantel ke permukaan.

Baca juga :
Catatan Seismik Buktikan Struktur Inti Bumi Terus Berubah

Air tersebut berasal dari proses subduksi, ketika lempeng samudra bergerak masuk ke bawah lempeng lain dan tenggelam ke dalam mantel Bumi. Saat proses berlangsung, batuan yang mengandung air ikut terbawa ke kedalaman. Sebagian air memang dilepaskan di dekat permukaan, tetapi sebagian lainnya tetap tersimpan di zona transisi selama ratusan juta tahun.

Dalam simulasi komputer yang dilakukan tim peneliti, punggungan tengah samudra yang bergerak melintasi wilayah mantel kaya air ternyata mampu memicu pelelehan batuan dalam jumlah besar. Kehadiran air membuat batuan mantel lebih mudah meleleh pada suhu yang lebih rendah dibandingkan batuan kering.

Akibatnya, magma yang dihasilkan jauh lebih banyak dan mampu membentuk kerak samudra dengan ketebalan antara 10 hingga 20 kilometer, sebanding dengan ketebalan yang terukur di bawah Dataran Tinggi Azores.

Menurut para peneliti, mekanisme ini juga mampu menjelaskan karakteristik lain yang selama ini sulit diterangkan oleh teori mantle plume. Aktivitas vulkanik tidak terpusat pada satu titik tetap, melainkan tersebar di wilayah yang lebih luas mengikuti pergerakan punggungan samudra. Selain itu, lava yang dihasilkan menunjukkan kandungan air yang sesuai dengan temuan geologi di Azores.

Temuan tersebut mengubah pandangan tradisional mengenai sumber aktivitas vulkanik yang terjadi jauh dari batas lempeng tektonik. Jika sebelumnya panas dari mantel dalam dianggap sebagai faktor utama, penelitian ini menunjukkan bahwa air purba yang tersimpan di kedalaman mantel juga dapat berperan sebagai pemicu utama pembentukan gunung api dan dataran tinggi vulkanik.

Studi ini juga mengisyaratkan bahwa lempeng samudra yang tenggelam ratusan juta tahun lalu belum sepenuhnya “mati”. Air yang mereka tinggalkan di dalam mantel Bumi masih dapat memengaruhi proses geologi di permukaan hingga saat ini.

Para peneliti menilai mekanisme serupa mungkin juga terjadi di berbagai dataran tinggi samudra dan gunung api terpencil lainnya yang selama ini sulit dijelaskan melalui model mantle plume. Pemetaan lokasi penyimpanan air dari lempeng purba di dalam mantel dapat membantu ilmuwan memahami pola aktivitas vulkanik masa depan serta hubungan antara permukaan Bumi dan bagian dalam planet yang jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya. (*)

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Lempeng Tektonik Purba Inti Bumi Fosil Geologi Letusan Gunung Api

Terkini | Minggu, 07/06/2026 13:35 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777