Kepulan asap hitam pasca serangan terhadap kilang minyak di Teheran (Foto: EPA)
Teheran, Jurnas.com - Iran menuduh Amerika Serikat mengajukan tuntutan yang berlebihan dalam perundingan perdamaian, di tengah adanya potensi Washington melancarkan serangan baru terhadap republik Islam tersebut.
Di tengah situasi sensitif ini, panglima militer Pakistan dilaporkan telah tiba di Teheran pada Jumat (22/5) untuk memperkuat upaya mediasi.
Dikutip dari AFP pada Sabtu (23/5), ketegangan semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump secara mendadak mengubah rencananya untuk menghadiri pernikahan putranya demi tetap berada di Washington karena urusan pemerintahan.
Trump menggambarkan negosiasi yang buntu minggu ini berada di batas tipis antara peluncuran serangan baru atau kesepakatan damai untuk mengakhiri perang, yang dipicu oleh serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Meskipun negosiasi telah berjalan berminggu-minggu sejak gencatan senjata pada 8 April termasuk lewat dialog tatap muka di Islamabad, solusi permanen belum tercapai dan akses penuh ke Selat Hormuz masih tersendat hingga mencekik pasokan minyak dunia.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga kembali menegaskan posisi negaranya saat melakukan panggilan telepon dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
“Teheran tetap terlibat dalam proses diplomatik meskipun ada pengkhianatan diplomasi yang berulang dan agresi militer terhadap Iran, bersama dengan posisi yang kontradiktif serta tuntutan berlebihan yang berulang oleh Amerika Serikat,” kata Abbas Araghchi menurut laporan kementerian luar negeri Iran.
Araghchi juga melakukan kontak telepon dengan Menlu Oman Badr Al-Busaidi pada Sabtu ini guna mencegah eskalasi konflik. Sementara itu, sejumlah media AS melaporkan bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan serangan ke Iran walaupun keputusan akhir belum diambil.
Di sisi lain, Panglima Militer Pakistan Asim Munir telah mengadakan pertemuan larut malam dengan Araghchi di Teheran, namun juru bicara kementerian luar negeri Iran Esmaeil Baqaei mengingatkan bahwa kunjungan tersebut belum menjadi titik balik krusial mengingat perbedaan pendapat yang masih sangat mendalam dan luas antara kedua pihak yang bertikai.
Selasa, 19/05/2026 13:31 WIB