Sebuah kapal mendekati pelabuhan Iran (Foto: Reuters)
Seoul, Jurnas.com - Pemerintah Korea Selatan tengah meninjau rencana kontribusi bertahap dalam upaya memastikan navigasi yang aman di Selat Hormuz. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Ahn Gyu-back pada Rabu (13/5), yang memberikan sinyal dukungan tanpa keterlibatan militer secara penuh.
Dalam konferensi pers bersama wartawan Korea Selatan di Washington, Ahn mengungkapkan bahwa dia telah menyampaikan posisi Seoul tersebut dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, pada Senin lalu.
“Kami menyampaikan pada tingkat ini bahwa, pada dasarnya, kami akan berpartisipasi sebagai anggota komunitas internasional yang bertanggung jawab dan kami akan meninjau cara-cara untuk berkontribusi secara bertahap,” ujar Ahn Gyu-back dikutip dari Reuters.
Ahn menjelaskan bahwa bentuk dukungan bertahap tersebut dapat mencakup pernyataan dukungan politik, pengiriman personel, pertukaran informasi, hingga penyediaan aset militer. Meski demikian, dia menekankan bahwa belum ada diskusi mendalam mengenai perluasan keterlibatan pasukan Korea Selatan secara langsung di wilayah konflik.
“Tidak ada diskusi mendalam mengenai hal-hal seperti perluasan partisipasi militer kami secara spesifik,” dia menambahkan.
Di Seoul, Penasihat Keamanan Nasional Kepresidenan Wi Sung-lac menyatakan bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan apakah akan bergabung dengan Maritime Freedom Construct yang dipimpin Amerika Serikat untuk membantu mengamankan Selat Hormuz.
Pertemuan antara pimpinan pertahanan kedua negara ini terjadi hanya selang satu hari setelah Seoul mengecam serangan terhadap kapal berbendera Korea Selatan di dekat Selat Hormuz pekan lalu. Kantor kepresidenan Korea Selatan mengutuk keras insiden tersebut, namun menyatakan masih melakukan penyelidikan untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu.
Ahn juga membahas insiden kapal kargo tersebut dengan pejabat AS dan menegaskan bahwa Seoul baru akan memutuskan langkah respons setelah penyelidikan tuntas.
Di sisi lain, Pete Hegseth menyatakan harapannya agar para sekutu"berdiri bahu-membahu menghadapi ancaman global yang meningkat, merujuk pada otorisasi Presiden Donald Trump atas Operasi Epic Fury sebagai bukti ketegasan pemerintahan AS.
Selain isu Selat Hormuz, kedua belah pihak juga bertukar pandangan mengenai masalah aliansi lainnya, termasuk rencana pembangunan kapal selam bertenaga nuklir. Ahn menyatakan bahwa tidak ada pembahasan mengenai pengurangan pasukan AS di Korea Selatan maupun fleksibilitas strategis pasukan AS yang ditempatkan di negara tersebut selama pembicaraan berlangsung.
Rabu, 13/05/2026 14:57 WIB