https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Warisan dari Wali Songo, Begini Sejarah Lebaran Ketupat

Muhammad Habib Saifullah | Selasa, 24/03/2026 12:30 WIB



Lebaran Ketupat alias Bakda Kupat umumnya dirayakan satu minggu setelah 1 Syawal. Ketupat, makanan khas yang terbuat dari beras yang biasannya dibungkus dalam daun kelapa atau janur (Foto: RRI)

Jakarta, Jurnas.com - Perayaan Idulfitri di Indonesia memiliki karakteristik yang unik dengan hadirnya tradisi Lebaran Ketupat atau yang kerap disebut sebagai Bakda Kupat.

Tradisi yang umumnya dirayakan satu minggu setelah 1 Syawal ini menjadi warisan budaya yang sarat akan nilai teologis dan filosofis yang mendalam dalam asimilasi budaya Islam dan Jawa.

Dihimpun dari berbagai sumber, sejarah mencatat bahwa tradisi Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Wali Songo yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa.

Baca juga :
8 Makanan Tinggi Purin yang Paling Cepat Picu Asam Urat, Ini Daftarnya

Ia memperkenalkan dua kali perayaan hari raya, yakni Bakda Lebaran yang jatuh tepat pada hari pertama Idulfitri, dan Bakda Kupat yang dirayakan seminggu kemudian setelah umat Muslim menyelesaikan ibadah puasa sunah enam hari di bulan Syawal.

Cara dakwah ini terbukti efektif dalam menyatukan tradisi agraris masyarakat setempat dengan nilai-nilai keislaman.

Baca juga :
5 Makanan yang Sebaiknya Tidak Dipanaskan Ulang, Kenali Risikonya

Secara etimologis, kata "ketupat" atau "kupat" dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari frasa ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan.

Melalui simbolisme ini, masyarakat diajak untuk rendah hati dalam memohon maaf kepada sesama.

Baca juga :
Roket Rusia ke ISS Alami Gangguan Antena, Astronaut Siapkan Kendali Manual

Selain itu, kupat juga dimaknai sebagai laku papat atau empat tindakan yang menjadi pilar dalam perayaan ini, yaitu lebaran (selesai), luberan (melimpah), leburan (habis atau terhapus), dan laburan (bersih).

Lebaran menandakan telah usainya masa berpuasa, sementara luberan mengandung pesan untuk berbagi sedekah kepada mereka yang membutuhkan dari harta yang melimpah.

Adapun leburan bermakna momen untuk saling melebur dosa melalui pintu maaf, dan laburan merujuk pada kapur putih yang melambangkan kembali fitrah atau sucinya hati manusia setelah melalui rangkaian ibadah di bulan suci.

Visualisasi ketupat itu sendiri tidak lepas dari makna filosofis. Anyaman janur yang rumit melambangkan kompleksitas kesalahan manusia dan liku-liku perjalanan hidup yang penuh masalah.

Namun, saat ketupat dibelah, akan terlihat isi nasi putih yang bersih dan menyatu, yang merepresentasikan kesucian hati dan eratnya tali silaturahmi setelah dosa-dosa "dilebur" melalui permintaan maaf.

Penggunaan janur atau daun kelapa muda yang berwarna kuning juga memiliki filosofi tersendiri, yakni jatining nur yang berarti cahaya sejati, sebagai harapan agar setiap individu mendapatkan petunjuk dari Tuhan dalam menempuh jalan kebenaran.

Hingga saat ini, Lebaran Ketupat tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kultural masyarakat di berbagai daerah, mulai dari Jawa, Madura, hingga merambah ke wilayah lain di Nusantara.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Lebaran Ketupat Bakda Kupat

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777