Presiden Direktur dan CEO Marsh Indonesia, Douglas Ure
Jakarta, Jurnas.com - Di era digital yang sudah semakin maju seperti sekarang, banyak perusahaan yang berencana untuk berinvestasi lebih di layanan kesehatan digital dalam lima tahun ke depan.
Demikian temuan hasil survei `Health on Demand` yang dilakukan terhadap lebih dari 16,000 responden pekerja dan 1,300 responden perusahaan di 13 negara di dunia. Sebanyak 68% dari total responden perusahaan tersebut berencana untuk berinvestasi lebih di layanan kesehatan digital dalam lima tahun ke depan.
Dari temuan itu menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yakin dengan layanan kesehatan berbasis digital bisa menjadi solusi dengan biaya efektif untuk membantu para karyawannya menjadi lebih sehat serta memenuhi harapan terhadap layanan kesehatan yang memenuhi kebutuhan karyawan dengan biaya terjangkau.
Dari hasil survei `Health on Demand` yang dilakukan pertama kali oleh Mercer Marsh Benefits, Mercer dan Oliver Wyman, ditemukan bahwa walaupun terdapat cara pandang dan pola pikir yang berbeda, mayoritas 64% dari responden pekerja sangat antusias dengan prospek dari inovasi layanan kesehatan berbasis digital.
Selanjutnya, 63% dari responden pekerja juga mengatakan mereka percaya dengan cara baru dalam layanan kesehatan jika disediakan oleh perusahaan tempat mereka bekerja.
“Temuan-temuan hasil survei `Health on Demand` mengkonfirmasi keyakinan kami bahwa perusahaan - perusahaan yang ingin membangun budaya hidup sehat di tempat kerja dan sekaligus meningkatkan upaya dalam retensi karyawan harus mempertimbangkan investasi layanan kesehatan digital,” ujar Mercer Marsh Benefits International Leader and Mercer President, Health, Hervé Balzano saat Media Gathering PT Marsh Indonesia di lantai 16 Gedung World Trade Center, Jakarta, Jumat (07/02/2020).
Menurutnya, jika tidak dilakukan, resikonya, perusahaan tersebut bisa tertinggal di dalam persaingan pasar tenaga kerja global yang kompetitif saat ini.
Dari tiga belas negara yang di survei dalam studi `Health on Demand`, tujuh negara temasuk dalam kelompok negara maju dan enam negara lainnya masuk ke dalam kelompok negara berkembang.
Hasil temuan survei dari negara-negara berkembang menunjukkan minat yang sangat tinggi terhadap solusi layanan kesehatan digital.
Hal ini terungkap ketika responden ditanya seberapa besar keinginan mereka untuk mencoba setiap layanan yang tertera di urutan daftar 15 layanan kesehatan digital yang diberikan kepada mereka.
Hasil survei dari responden pekerja di negara-negara berkembang menunjukkan bahwa mereka bersedia mencoba rata-rata 10 dari daftar15 layanan kesehatan digital, dibandingkan dengan responden di negara-negara maju yang ingin mencoba rata-rata 5 dari daftar yang diberikan tersebut.
“Saat ini semakin banyak pekerja di negara-negara berkembang yang sudah siap dengan layanan kesehatan digital,” kata Presiden Direktur dan CEO Marsh Indonesia, Douglas Ure.
Masih kata Douglas, Hasil temuan survei juga menunjukkan bahwa para pekerja di tiga belas negara yang di survei tersebut terbuka dengan layanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka dengan biaya terjangkau.
"Ini adalah kesempatan bagi para perusahaan untuk menerima disrupsi teknologi dengan positif melalui cara dengan kemudahan akses ke layanan kesehatan yang berkualitas," ujar Douglas.
Dari hasil survei itu juga terungkap bahwa "90% responden perusahaan di Indonesia percaya bahwa investasi di layanan kesehatan digital akan memberikan dampak positif di tempat kerja dan pekerja bisa lebih bersemangat," lanjut Douglas.
Dijelaskannya, hasil temuan survei dari tiap-tiap negara juga mengungkapkan preferensi yang berbeda.
Selain ditanya seberapa besar keinginan responden pekerja untuk mencoba setiap layanan dari urutan daftar 15 layanan kesehatan digital, mereka juga ditanya seberapa besar manfaat dari tiap layanan yang ingin dicoba tersebut bagi mereka dan keluarga.
Layanan yang dinilai paling besar manfaatnya oleh hampir seluruh responden pekerja adalah layanan aplikasi berupa membantu mencarikan dokter yang tepat atau layanan perawatan kesehatan dimanapun dan kapanpun dibutuhkan.
Hasil temuan ini juga ada di urutan teratas yang dikatakan oleh 66% dari responden pekerja di Indonesia.
Di negara Inggris, layanan yang paling diminati adalah teknologi yang dapat dipakai dalam kondisi kronis untuk membantu penderita secara mandiri.
Sementara itu, di negara Cina, 76% dari responden pekerja mengatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas perawatan kesehatan anggota keluarga dibandingkan dengan hasil survei rata-rata 53% di 13 negara.
Layanan kesehatan digital yang paling diminati oleh responden pekerja di Cina adalah robot pendamping yang membantu para lansia tetap sehat di rumah dimana layanan ini merupakan peringkat paling terakhir di 12 negara lain yang disurvei.
Ketertarikan pada solusi layanan kesehatan digital dapat merambah ke cakupan Fitur yang lebih luas serta fokus untuk membangun budaya sehat di tempat kerja.
Dari hasil survei terhadap responden perusahaan, secara jelas mereka menyadari pentingnya kesejahteraan karyawan; 95% mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi dengan jumlah lebih atau sama guna melakukan tindakan inisiatif dalam layanan kesehatan untuk lima tahun ke depan.
Lebih lanjut, 71% dari responden perusahaan percaya bahwa mereka peduli dengan kesejahteraan karyawannya. Namun, ketika responden pekerja ditanya pertanyaan yang sama, hanya 50% yang mengatakan bahwa perusahaan tempat mereka bekerja peduli dengan karyawan. Hasil survei juga mengungkapkan saran untuk mengurangi kesenjangan pendapat tersebut.
Menurut hasil temuan survei `Health on Demand` ini, semakin besar tunjangan kesehatan dan kesejahteraan karyawan yang diberikan oleh perusahaan mulai dari manfaat asuransi hingga program olahraga dan nutrisi yang disubsidi, maka semakin besar para pekerja merasa didukung dan dihargai dan semakin kecil kemungkinannya mereka akan meninggalkan perusahaan.
Hasil survei mengungkapkan dari responden pekerja yang ditawari 10 tunjangan kesehatan atau lebih dari perusahaan, 75% percaya bahwa perusahaan tempat mereka bekerja peduli dengan karyawan, sedangkan para pekerja yang ditawari 5 tunjangan kesehatan atau kurang, hanya 43% yang percaya.
Untuk diketahui, “Health on Demand` merupakan sebuah survei terhadap pekerja dan pengambil keputusan di suati perusahaan. Survei ini dilakukan pada bulan Juni 2019 di tujuh negara maju dan enam negara berkembang di seluruh Amerika Utara, Eropa, Amerika Latin, dan Asia.
Seluruh tanggapan survei dikumpulkan dari jumlah 16.564 responden pekerja dan 1.300 responden pengambil keputusan di perusahaan-perusahaan dengan semua ukuran.
Responden pekerja termasuk pekerja penuh waktu, pekerja paruh waktu, pekerja kontrak, pekerja lepas dan gig workers. Margin of error adalah +/0,8% untuk hasil tanggapan responden pekerja global, dan +/2,7% untuk hasil tanggapan responden perusahaan.
Sebagai informasi, Marsh adalah perusahaan pialang asuransi dan konsultasi manajemen risiko terkemuka dunia. Dengan jumlah karyawan lebih dari 35.000 orang dan beroperasi di lebih dari 130 negara, Marsh melayani klien berupa perusahaan komersial dan individu dengan memberikan layanan konsultasi dan solusi risiko berbasis data.
Marsh merupakan salah satu perusahaan dari Marsh & McLennan Com canies (NYSE: MMC), perusahaan jasa profesional global terkemuka di bidang risiko, strategi, dan karyawan.
Dengan jumlah pendapatan tahunan senilai hampir US$ 17 miliar dan memiliki 76.000 karyawan di seluruh dunia, Marsh & McLennan membantu klien dalam menavigasi lingkungan bisnis yang semakin dinamis dan kompleks melalui empat perusahaan terkemuka yaitu: Marsh, Guy Carpenter, Mercer, dan Oliver Wyman.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Douglas Ure Health on Demand Pekerja

























