Dialektika Demokrasi sekaligus pembukaan lomba kritik DPR dengan tema Tolak Ukur Kebebasan Kritik DPR?
Jakarta - Dalam negara demokrasi, kritik sangat dibutuhkan. Bahkan, kritik akan membuat sistem politik menjadi sebuah sistem terbuka, yang memiliki pertukaran energi positif dengan lingkungannya. Hal itu diperlukan di seluruh cabang pemerintahan, termasuk legislatif.
Dengan dasar pemikiran sederhana seperti itu, Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengambil inisiatif mengusulkan Lomba Kritik DPR 2018. Acara ini sekaligus dilaksanakan menyongsong HUT DPR tahun iniSetiap warga negara Indonesia berhak mengikuti lomba ini. Terdapat dua kategori lomba kritik DPR tersebut. Pertama, kategori esai. Maksimal 500 kata. Kedua, kategori meme (bisa gambar, karikatur, dan video maksimal berdurasi 2 menit).Tidak ada topik khusus dalam lomba kritik DPR pertama ini. "Terdapat semangat untuk membebaskan dulu kreativitas para peserta," kata Bamsoet, dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertajuk "Tolak Ukur Kebebasan Kritik DPR?", di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (19/4).Instagram: @lombakritikterbaikDPR
Facebook: lombakritikterbaikDPR
Twitter: @lombakritikDPR
Ikuti Update jurnas.com di
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
KEYWORD : Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Warta DPR Lomba Kritik DPR

























