Minggu, 11/10/2026 23:05 WIB

Pesan Menag ke Santri: Jadi Cendikiawan Arif





Orang yang alim, berkarakter intelek, dan ilmunya dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat, itulah yang disebut cendekiawan. Itulah orang yang arif

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar (Foto: Kemenag)

Jakarta, Jurnas.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pendidikan pesantren tidak cukup hanya melahirkan orang yang menguasai ilmu agama. Lebih dari itu, pesantren diharapkan mampu membentuk cendekiawan yang arif, memiliki kedalaman spiritual, dan mengamalkan ilmunya untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan tausiyah kebangsaan dalam kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Gresik, Jawa Timur. Di hadapan para santri, ia menjelaskan perbedaan antara orang alim, intelektual, dan cendekiawan sebagai bagian dari tujuan pendidikan pesantren.

Menurut Nasaruddin, orang alim adalah mereka yang menguasai suatu disiplin ilmu. Sementara itu, intelektual merupakan sosok yang mampu mengamalkan pengetahuan yang dimilikinya. Adapun cendekiawan tidak hanya berilmu dan mampu mengamalkannya, tetapi juga memiliki kearifan sehingga kehadirannya membawa manfaat bagi sesama.

“Orang yang alim, berkarakter intelek, dan ilmunya dirasakan manfaatnya secara nyata oleh masyarakat, itulah yang disebut cendekiawan. Itulah orang yang arif. Semua orang arif itu pasti alim, tetapi tidak semua orang alim itu arif. Yang kita cari di pondok ini adalah kearifan,” kata Menag Nasaruddin dalam keterangan resmi.

Menag menerangkan bahwa keistimewaan pesantren terletak pada metode pembelajarannya yang memadukan olah nalar (ilmu hushuli) dengan olah rohani atau kontemplasi batin (ilmu hudhuri). Keberhasilan menyerap ilmu pengetahuan, lanjutnya, sangat ditentukan oleh kebersihan wadah batin santri melalui proses pensucian jiwa (tazkiyah) sebelum pengajaran (ta’lim).

“Al-Qur’an menegaskan wa yuzakkihim wa yu’allimuhum—tazkiyah dulu, pembersihan batin dulu, baru kemudian taklim. Kalau dada kita seluas samudra karena batin yang bersih, maka seluas lautan pula ilmu yang bisa ditampung. Di pesantren, kalian bukan hanya dilatih mengerahkan nalar laboratorium, tetapi mengasah kekuatan rohani untuk meraih makrifat dan hikmah,” jelasnya.

Lebih lanjut, pesan yang disampaikan Menag selaras dengan kurikulum dan tradisi yang dijalankan di Mambaus Sholihin. Putera Pengasuh sekaligus Rektor UNKAFA Gresik, Muhammad Majduddin, menyampaikan bahwa sejak didirikan oleh Romo KH. Masbuhin Faqih pada 1981, pesantren ini dirancang untuk mendidik santri yang cakap secara intelektual sekaligus matang secara spiritual.

Majduddin memaparkan, kurikulum Mambaus Sholihin mengintegrasikan ketajaman literatur kitab kuning klasik (turots) ala Pondok Pesantren Langitan, kecakapan bahasa internasional ala Pondok Modern Gontor, serta olah batin melalui bimbingan tarekat Romo KH. Utsman Al-Ishaqi.

“Pondok ini mencampurkan pembinaan nalar melalui kajian mendalam Alfiyah, Ushul Fiqh, Nahwu, dan Sharaf, dengan kedisiplinan bahasa, serta amaliah spiritual dan riyadhah batin. Ini adalah ikhtiar kami bersama pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara lahir dan batin,” papar Majduddin.

Menag mengilustrasikan keunggulan metode belajar pesantren melalui perbandingan antara metode hushuli (nalar teoritis) yang lazim di sekolah umum dengan metode hudhuri (penghayatan rasa dan batin) khas pesantren. Menag mencontohkannya dengan analogi secangkir teh.

Secara nalar teoritis (hushuli), saat melihat air mendidih, teh celup, dan serbuk putih dalam toples diaduk, akal langsung menyimpulkan itu teh manis. Padahal, saat dicicipi secara langsung (hudhuri), rasanya justru asin karena keliru memasukkan garam.

“Kalau hanya mengandalkan teori nalar, kita bisa salah kesimpulan. Itu metode hushuli. Tetapi di pesantren, kita diajarkan metode hudhuri, kita rasakan dan alami langsung kebenarannya. Di sinilah letak berkah dan kedalaman ilmu pesantren,” terang Menag.

Metode hudhuri tersebut, lanjut Menag, melatih santri untuk tidak silau oleh gemerlap popularitas duniawi. Seorang yang telah mencapai derajat arif hanya berfokus pada ketulusan amal dan kemanfaatan bagi sesama, bukan pengakuan manusia.

“Seorang yang arif tidak peduli apakah dia populer atau tidak di bumi. Yang terpenting dia dikenal di langit, menjadi ‘artis langit’. Apa gunanya populer di bumi kalau tidak dikenal penduduk langit? Saya meyakini wajah-wajah santri di hadapan saya ini adalah wajah penghuni surga yang harum namanya di langit,” ucapnya.

Menag berpesan agar para santri tekun memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW serta menghidupkan malam hari dengan munajat dan tahajud. Mengutip mahfuzhat man thalabal `ula sahiral layali, malam hari di pesantren adalah momentum turunnya limpahan rahmat.

“Perbaiki dan bersihkan hati kalian. Bangunlah di malam hari, pungutlah butir-butir rahasia mutiara hikmah yang berguguran dari langit melalui sujud malam. Di sanalah Allah mengangkat derajat hamba-Nya menuju maqam yang terpuji,” pesan Menag.

KEYWORD :

Menteri Agama Nasaruddin Umar Pendidikan Pesantren Cendikiawan Arif




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :