Minggu, 11/10/2026 19:13 WIB

Malaysia dan Selandia Baru Kecam Serangan Houthi ke Bandara Riyadh





Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim (Foto: via Reuters)

Jakarta, Jurnas.com - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengecam keras serangan kelompok Houthi Yaman yang menargetkan bandara utama di Riyadh, Arab Saudi. Serangan pada Sabtu itu menewaskan sedikitnya 12 orang dan menyebabkan lebih dari 300 orang terluka, termasuk sejumlah korban yang dilaporkan dalam kondisi kritis.

Anwar menyampaikan kecaman tersebut pada Minggu melalui platform media sosial X. Ia menegaskan tidak ada alasan yang dapat membenarkan serangan terhadap warga sipil maupun infrastruktur sipil.

“Tidak ada pembenaran bagi serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil,” kata Anwar.

Menurutnya, tindakan yang membahayakan nyawa orang tidak bersalah hanya akan memperbesar penderitaan akibat konflik yang sedang berlangsung. Ia juga memperingatkan bahwa dampak konflik dapat meluas ke wilayah dan fasilitas yang semestinya tidak menjadi sasaran.

Malaysia, lanjut Anwar, berdiri dalam solidaritas bersama Arab Saudi dan rakyatnya di tengah situasi yang berbahaya. Ia berharap diplomasi dan pertimbangan rasional tetap dikedepankan sebelum konflik berkembang semakin luas.

Kecaman serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters. Ia mengutuk serangan terbaru terhadap bandara dan sejumlah wilayah di Arab Saudi, sekaligus menyatakan solidaritas kepada pemerintah dan rakyat negara tersebut.

Peters menyebut serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil sebagai tindakan yang sama sekali tidak dapat diterima.

Pernyataan dari Malaysia dan Selandia Baru menambah respons internasional terhadap serangan yang menyasar fasilitas penerbangan sipil di Riyadh. Kecaman tersebut menyoroti risiko yang dihadapi masyarakat sipil ketika eskalasi konflik mulai mengancam fasilitas penting bagi aktivitas sehari-hari dan transportasi internasional.

Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi melaporkan bahwa korban tewas dalam serangan tersebut berasal dari sejumlah negara.

Dari 12 korban jiwa yang dilaporkan, empat merupakan warga Arab Saudi dan dua warga Bangladesh. Korban lainnya masing-masing berasal dari Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, Palestina, dan Sudan.

Sementara itu, lebih dari 300 orang mengalami luka-luka dan mendapatkan perawatan di rumah sakit. Sejumlah korban dilaporkan berada dalam kondisi kritis.

Serangan tersebut menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh warga negara yang terlibat langsung dalam pertikaian. Fasilitas transportasi internasional yang digunakan masyarakat dari berbagai negara juga berpotensi menjadi lokasi dengan risiko korban lintas kewarganegaraan.

Serangan pada Sabtu juga mengganggu aktivitas penerbangan di bandara utama Riyadh. Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi sebelumnya mengumumkan penghentian sementara operasional bandara untuk menilai kerusakan dan memastikan keamanan fasilitas.

Gangguan tersebut berdampak pada perjalanan penumpang. Penumpang diimbau memeriksa informasi terbaru dari maskapai sebelum berangkat menuju bandara.

Kuwait Airways juga membatalkan penerbangan menuju Riyadh dan penerbangan kembali pada Sabtu, dengan alasan penutupan bandara.

Penghentian operasional sementara dilakukan ketika petugas mengevaluasi kondisi fasilitas dan memverifikasi tingkat keamanannya. Belum ada rincian lebih lanjut dalam data yang tersedia mengenai tingkat kerusakan bandara akibat serangan tersebut.

Serangan terhadap bandara Riyadh berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan setelah kelompok Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone terhadap sejumlah bandara serta fasilitas di Arab Saudi dalam beberapa hari terakhir.

Rentetan serangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur penting dan keselamatan warga sipil di kawasan tersebut. (*)

Sumber: Anadolu

KEYWORD :

PM Malaysia Serangan Houthi Arab Saudi Selandia Baru




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :