Jakarta, Jurnas.com - Warga Palestina di Jalur Gaza menggelar aksi solidaritas menjelang mogok kerja global yang melibatkan buruh pelabuhan di 22 negara dan wilayah. Aksi tersebut ditujukan untuk menolak penggunaan pelabuhan sipil dan rantai pasok internasional dalam mendukung operasi militer Israel di Gaza.
Aksi berlangsung di pelabuhan nelayan di sebelah barat Kota Gaza pada Kamis (29/10). Para peserta membawa pesan solidaritas bagi pekerja pelabuhan dan pelaut yang akan terlibat dalam aksi buruh global pada Jumat.
Menurut perkiraan penyelenggara, gerakan tersebut melibatkan lebih dari 25 serikat pekerja yang mewakili buruh di 113 pelabuhan di 22 negara dan wilayah. Bentuk aksinya beragam, mulai dari penghentian kerja hingga demonstrasi dengan durasi berbeda-beda.
Para pekerja menuntut penghentian pengiriman senjata dan peralatan militer melalui pelabuhan sipil menuju wilayah konflik. Mereka menilai fasilitas sipil dan jaringan distribusi internasional tidak seharusnya digunakan untuk mendukung operasi militer.
Presiden Serikat Umum Pekerja Perikanan dan Produksi Kelautan, Zakaria Bakr, mengatakan aksi di Gaza bertujuan menyampaikan pesan para nelayan Palestina kepada pekerja pelabuhan di berbagai negara sekaligus menyampaikan terima kasih atas dukungan mereka.
“Nelayan Palestina telah dicegah untuk mengakses laut selama lebih dari tiga tahun. Selama periode tersebut, mereka menghadapi pembunuhan, luka-luka, penangkapan, serta penghancuran harta benda mereka,” kata Bakr kepada Anadolu.
Bakr menyerukan agar para nelayan Palestina mendapatkan kembali hak-haknya dan diizinkan bekerja kembali. Ia juga meminta pekerja pelabuhan serta pelaut di seluruh dunia melanjutkan aksi solidaritas.
Sementara itu, juru bicara kegiatan Sumud, Nour Saad, menyatakan demonstrasi tersebut menolak pemanfaatan pelabuhan dan rantai pasok untuk mendukung operasi militer Israel terhadap warga Palestina.
“Aksi buruh global ini bertujuan mencegah sumber daya dan dana publik digunakan untuk mendukung ekonomi perang dan persenjataan,” ujar Saad.
Ia menambahkan, para peserta aksi justru menginginkan sumber daya tersebut dialihkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Aksi solidaritas itu berlangsung ketika pembatasan Israel masih menghalangi nelayan Palestina untuk melaut. Kondisi tersebut terjadi di tengah krisis kemanusiaan yang memburuk akibat perang di Jalur Gaza.
Menurut data Palestina yang dikutip dalam laporan tersebut, perang Israel di Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 orang. Sebagian besar korban disebut merupakan perempuan dan anak-anak. Data yang sama menyebut sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut telah hancur. (*)
Sumber: Anadolu





