Orangutan Tapanuli, spesies kera besar paling langka di dunia (Foto: Live Science)
Jakarta, Jurnas.com - Induk orangutan liar ternyata melakukan pengorbanan yang tidak biasa demi memberi kesempatan anaknya bermain dengan teman sebaya.
Penelitian selama 15 tahun di Indonesia menemukan bahwa induk orangutan menempuh perjalanan lebih jauh dan mengurangi waktu makan pada hari ketika anak mereka bermain dengan orangutan lain.
Temuan ini mengungkap sisi lain kehidupan orangutan yang dikenal banyak menghabiskan waktu sendirian. Meski tidak hidup dalam kelompok besar seperti sejumlah primata lainnya, induk orangutan tetap berupaya membuka kesempatan bagi anaknya untuk berinteraksi dengan individu lain.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan anak orangutan bukan hanya soal makanan dan perlindungan. Kesempatan bermain dengan teman seusia juga tampaknya menjadi bagian dari kebutuhan yang berusaha dipenuhi induknya.
Induk orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) umumnya hidup menyendiri bersama anak yang masih bergantung kepadanya. Jarak kelahiran antaranak rata-rata mencapai 7,6 tahun, sehingga anak-anak dalam satu keluarga jarang memiliki saudara dengan usia berdekatan.
Kondisi ini membuat kesempatan bermain bersama teman sebaya tidak selalu tersedia. Padahal, aktivitas bermain dapat membantu anak satwa melatih gerakan tubuh dan mempelajari cara berinteraksi dengan individu lain.
Odd Jacobson, penulis pertama penelitian dari Max Planck Institute of Animal Behavior (MPI-AB), menjelaskan bahwa pada banyak spesies sosial, anak-anak dapat menemukan teman bermain secara alami karena hidup berkelompok.
Situasinya berbeda bagi orangutan. Induk yang menghabiskan sebagian besar waktunya bersama satu anak tidak selalu bertemu keluarga lain untuk mencari makan, bersosialisasi, atau mendapatkan perlindungan.
Karena itu, pertemuan dengan induk dan anak orangutan lain menjadi kesempatan penting bagi anak untuk bermain.
Untuk mengungkap pola tersebut, tim peneliti menganalisis lebih dari 32.600 jam pengamatan di Stasiun Penelitian Tuanan, Indonesia. Data dikumpulkan selama periode 2003–2018 dan mencakup 31 anak orangutan beserta 14 induknya.
Para peneliti mencatat lokasi serta aktivitas orangutan sepanjang hari. Pengamatan lapangan dipimpin oleh Maria van Noordwijk, penulis senior penelitian.
Tim kemudian menggabungkan data pergerakan induk dengan karakteristik sosial keluarga orangutan lain yang tinggal di sekitarnya menggunakan metode statistik.
Hasilnya menunjukkan bahwa anak orangutan lebih sering bermain dengan individu yang usianya berdekatan. Induk mereka juga cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di kawasan hutan yang digunakan bersama keluarga lain dengan anak seusia.
Pola tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan hubungan kekerabatan dan ketersediaan buah sebagai sumber makanan.
Menurut Jacobson, hasil ini menunjukkan bahwa induk tampaknya mempertemukan anaknya dengan calon teman bermain yang sesuai secara fisik dan tahap perkembangan.
Meski demikian, penelitian tidak menemukan bukti jelas bahwa induk mengubah batas wilayah jelajah yang biasa digunakannya.
Salah satu temuan menarik terlihat dari pergerakan induk sebelum dan sesudah anaknya bermain.
Sehari sebelum aktivitas bermain terjadi, induk cenderung bergerak menuju lokasi yang sering digunakan keluarga calon teman bermain. Setelah anak bermain, induk kembali menuju bagian tengah wilayah jelajah yang biasa digunakannya.
Pola tersebut mengindikasikan bahwa induk mungkin memanfaatkan pengetahuan mengenai lingkungan sekitar untuk meningkatkan peluang bertemu keluarga yang memiliki anak seusia.
Maria van Noordwijk menjelaskan bahwa kemampuan orangutan menggunakan peta mental untuk menemukan sumber makanan sebenarnya telah lama dikenal. Namun, penelitian ini menunjukkan kemungkinan fungsi lain dari kemampuan tersebut, yakni mengenali lokasi sumber daya sosial bagi anaknya.
Dengan kata lain, pengetahuan tentang hutan mungkin membantu orangutan bukan hanya menemukan makanan, tetapi juga meningkatkan peluang anaknya bertemu teman bermain.
Van Noordwijk menyebut pengetahuan mengenai tetangga hutan ini sebagai forest gossip, atau semacam informasi tentang lingkungan sosial di sekitar mereka.
Menurutnya, orangutan dapat mengenali tetangga yang sebagian besar merupakan individu yang telah lama hidup di sekitarnya, termasuk mengetahui keluarga yang memiliki anak baru. Dari posisi di pepohonan, mereka juga mungkin dapat memperkirakan keberadaan tetangga pada waktu tertentu.
Namun, para peneliti menegaskan bahwa pola pergerakan tersebut belum membuktikan induk secara sadar merencanakan pertemuan. Penelitian ini mengamati perilaku alami, bukan menguji secara langsung niat induk orangutan.
Kesempatan bermain ternyata relatif jarang terjadi. Anak orangutan tercatat bermain bersama individu lain hanya pada 6,32 persen hari ketika pengamatan berlangsung dari pagi hingga sore.
Sebagian besar hari bermain melibatkan pertemuan induk dengan kerabatnya. Aktivitas tersebut juga lebih mungkin terjadi ketika buah tersedia dalam jumlah melimpah.
Maria van Noordwijk menjelaskan bahwa orangutan dewasa biasanya tidak terlalu dekat satu sama lain. Sebaliknya, ketika bertemu, anak-anak dapat langsung terlibat dalam permainan fisik seperti berlari, bergulat, menggigit, dan saling mendorong.
Aktivitas itu dapat berlangsung hingga induknya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Karena itu, pertemuan antarkeluarga menjadi salah satu faktor yang membuka kesempatan bermain bagi anak orangutan.
Rendahnya frekuensi bermain juga memperlihatkan bahwa kesempatan berinteraksi dengan teman sebaya tidak selalu mudah diperoleh oleh satwa yang menjalani kehidupan soliter.
Upaya menyediakan kesempatan bermain bagi anak ternyata memiliki konsekuensi bagi induknya. Pada hari ketika anak bermain, induk orangutan menempuh perjalanan lebih jauh dan menghabiskan lebih sedikit waktu untuk makan.
Pola ini tetap terlihat ketika dibandingkan dengan hari saat induk bertemu orangutan lain, tetapi anaknya tidak bermain.
Temuan tersebut mengindikasikan adanya biaya waktu dan kemungkinan biaya energi yang harus ditanggung induk untuk mendukung interaksi sosial anaknya.
Meski demikian, penelitian ini tidak mengukur secara langsung jumlah kalori yang terbakar maupun banyaknya makanan yang dikonsumsi. Oleh karena itu, perjalanan lebih jauh dan berkurangnya waktu makan merupakan petunjuk adanya pengorbanan, bukan pengukuran pasti atas energi yang dikeluarkan.
Van Noordwijk menyebut temuan ini mengungkap sisi tersembunyi kehidupan soliter orangutan. Selain menyediakan makanan dan menjaga keselamatan anak, induk juga perlu menghadapi kebutuhan sosial anaknya.
Artinya, pengasuhan orangutan tidak hanya berkaitan dengan memastikan anak mendapatkan makanan dan perlindungan, tetapi juga menyediakan kesempatan untuk berinteraksi dengan individu lain.
Apakah bermain membuat anak orangutan lebih unggul? Meski penelitian menunjukkan bahwa induk mengalokasikan waktu dan tenaga untuk membuka peluang bermain, manfaat jangka panjang aktivitas tersebut masih belum diketahui.
Penelitian yang melibatkan 14 induk ini tidak menguji apakah anak yang lebih sering bermain memiliki keterampilan lebih baik atau peluang bertahan hidup lebih tinggi ketika dewasa.
Sri Suci Utami Atmoko menyoroti pertanyaan tersebut sebagai salah satu hal yang masih perlu dijawab. Menurutnya, belum diketahui apakah waktu dan energi yang dikeluarkan induk untuk memfasilitasi permainan benar-benar memberikan keuntungan bagi anak pada tahap kehidupan berikutnya.
Penelitian jangka panjang diperlukan untuk menghubungkan perilaku orangutan dengan perkembangan, kondisi lingkungan, dan dinamika populasi sepanjang hidup satwa tersebut.
Meg Crofoot, salah satu direktur MPI-AB, juga mengaitkan temuan ini dengan pengalaman manusia. Ia menilai orangutan dapat memberikan gambaran tentang pentingnya interaksi sosial ketika kesempatan bertemu orang lain terbatas.
Temuan ini memperlihatkan bahwa kehidupan orangutan yang tampak menyendiri tidak berarti mereka terlepas dari hubungan sosial. Induk tetap berupaya memberi anaknya kesempatan bermain dengan teman sebaya, bahkan ketika hal itu berkaitan dengan perjalanan lebih jauh dan berkurangnya waktu makan.
Namun, apakah pengorbanan tersebut benar-benar meningkatkan kemampuan sosial, keterampilan, atau peluang hidup anak orangutan masih menjadi pertanyaan yang menunggu jawaban dari penelitian berikutnya. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Induk Orangutan Anak Orangutan Kesempatan Bermain Kebutuhan Sosial Anak























