Jum'at, 09/10/2026 11:32 WIB

TEP Unair Dorong Transmigran Sumalata Kembangkan Potensi Cuan Lebah Trigona





TEP Universitas Airlangga mendorong warga di Kawasan Transmigrasi Sumalata, Gorontalo, mengembangkan lebah trigona sebagai sumber ekonomi baru

Tim 1 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga mendorong warga di Kawasan Transmigrasi Sumalata, Gorontalo, mengembangkan lebah trigona sebagai sumber ekonomi baru. (Foto: Ist/Kementrans)

Jakarta, Jurnas.com - Tim 1 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga mendorong warga di Kawasan Transmigrasi Sumalata, Gorontalo, mengembangkan lebah trigona sebagai sumber ekonomi baru. Upaya itu dilakukan melalui pelatihan budidaya trigona pada 18-20 Agustus 2026 yang diikuti 30 peserta.

Peserta terdiri atas 26 warga perwakilan dari enam satuan permukiman (SP) dan empat anggota Yonif 824. Pelatihan dipandu praktisi trigona, Sudarsono, dengan materi mulai dari mengenali karakteristik lebah, mengelola koloni, memanen madu hingga membuat stup atau rumah lebah dari kayu dan bambu.

Program tersebut sekaligus berupaya mengubah pandangan warga terhadap trigona yang selama ini dianggap sebagai hama. Sarangnya yang kerap menempel di atap dan dinding rumah sering dibakar atau diusir. Sebagian warga bahkan percaya lebah kecil tersebut dapat menyebabkan tuli.

Padahal, trigona tidak menyengat dan menghasilkan madu yang memiliki nilai jual tinggi. Harga madu trigona mencapai sekitar Rp85.000 per 100 mililiter atau Rp600.000 hingga Rp650.000 per liter.

“Kami ingin mengubah pandangan bahwa ini bukan hama, tapi lebah penghasil madu yang paling mahal. Harapannya kesejahteraan masyarakat meningkat, tapi alamnya tetap terpelihara,” ujar Ketua Tim 1 Ekspedisi Patriot Unair, Johny Alfian Khusyairi dalam keterangan resmi, Kamis (8/10).

Desa Cempaka Putih, Tolinggula, dipilih sebagai lokasi pelatihan karena banyak ditumbuhi tanaman buah yang menjadi sumber pakan alami bagi lebah trigona. Selama dua hari, peserta menginap di desa tersebut sekaligus mempraktikkan langsung teknik budidaya.

Hasil pelatihan kemudian diterapkan di rumah masing-masing. Setiap peserta membuat dua stup sendiri. Sebagian warga bahkan berkreasi dengan menyambungkan selang dari sarang alami di pohon kelapa menuju stup buatan mereka.

“Banyak hal yang sebelumnya kami belum tahu tentang lebah trigona ini. Dengan adanya pelatihan ini, ke depan merupakan prospek yang menjanjikan, yang bisa menambah nilai ekonomi,” ujar Ading Suhana (44), warga Desa Cempaka Putih, Tolinggula.

TEP Unair selanjutnya membagikan tiga stup berisi koloni untuk ditempatkan di tujuh lokasi. Pemantauan dilakukan sembilan kali sepanjang Agustus hingga September untuk melihat perkembangan koloni sekaligus mengetahui faktor yang memengaruhi hasil panen.

Dari pemantauan tersebut, ketersediaan pakan menjadi salah satu faktor penting dalam budidaya trigona. Muhammad Sholeh, warga Cempaka Putih yang telah memelihara trigona selama dua tahun, misalnya, baru memanen sekitar 200 mililiter madu karena sumber pakan di sekitar sarangnya masih terbatas.

Karena itu, warga didorong mempertahankan tanaman buah di sekitar lokasi budidaya dan tidak menyemprotnya dengan pestisida. Ketersediaan pakan alami dinilai penting agar koloni dapat berkembang dan menghasilkan madu secara optimal.

Sisa stup berisi koloni dijadwalkan diserahkan pada Oktober setelah ketersediaan pakan di lokasi penempatan dipastikan memadai. Sementara panen pertama para peserta pelatihan diperkirakan mulai dilakukan pada November.

Pengembangan trigona menjadi salah satu contoh pemanfaatan potensi lokal di kawasan transmigrasi untuk menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga lingkungan. Langkah tersebut sejalan dengan Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto mengenai kemandirian bangsa.

“Sumber daya alam harus kita olah menjadi nilai tambah dan pekerjaan. Tetapi pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan,” kata Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono di Jakarta, Minggu (6/9/2026).

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara juga menekankan pentingnya pengelolaan kekayaan alam di kawasan transmigrasi bersama masyarakat.

“Kita diberkahi oleh Tuhan dengan dua hal besar: kekayaan sumber daya alam dan bonus demografi yang luar biasa. Ini adalah bahan bakar terbaik untuk kemajuan bangsa, jika kita kelola dengan tepat,” ujar Iftitah di Jakarta, Rabu (11/6/2025).

KEYWORD :

Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga Kawasan Transmigrasi Sumalata Gorontali Lebah Trigona




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :