Minggu, 23/08/2026 22:56 WIB

Cara Guru Bicara soal Alam Ternyata Bisa Mengubah Kepedulian Anak





Cara guru menjelaskan pentingnya alam ternyata dapat memengaruhi seberapa tertarik anak terhadap isu lingkungan

Ilustrasi anak bermain di alam terbuka (foto: Theasianparent)

Jakarta, Jurnas.com - Cara guru menjelaskan pentingnya alam ternyata dapat memengaruhi seberapa tertarik anak terhadap isu lingkungan.

Penelitian terbaru di Jepang menemukan bahwa pelajaran yang menekankan manfaat alam bagi manusia mampu meningkatkan minat anak terhadap lingkungan dalam jangka pendek.

Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin Akinori Kitsuki, profesor madya di Fakultas Seni dan Sains Kyushu University. Studi ini menguji bagaimana cara berbeda dalam membingkai pesan lingkungan memengaruhi respons anak sekolah dasar.

Peneliti membandingkan dua pendekatan. Pendekatan pertama menekankan manfaat alam bagi manusia, sedangkan pendekatan kedua menjelaskan bahwa alam memiliki nilai dan kepentingan tersendiri, terlepas dari manfaatnya bagi manusia.

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Anak yang menerima penjelasan tentang manfaat alam bagi manusia menunjukkan peningkatan minat terhadap lingkungan dalam survei yang dilakukan satu minggu kemudian.

Sementara itu, anak yang mendapat penjelasan mengenai nilai alam bagi dirinya sendiri tidak menunjukkan perubahan minat yang terukur.

Dalam pendidikan lingkungan, pendekatan yang menempatkan kepentingan manusia sebagai pusat disebut antroposentris. Alam dijelaskan berdasarkan manfaatnya bagi kehidupan manusia, seperti menyediakan air, melindungi dari banjir atau menjadi tempat rekreasi.

Pendekatan lainnya disebut ekosentris. Dalam pendekatan ini, alam dipandang memiliki nilai pada dirinya sendiri, termasuk hubungan antara berbagai makhluk hidup yang membentuk sebuah ekosistem.

"Kami tahu perspektif-perspektif ini memengaruhi cara anak belajar dan terlibat dengan lingkungan, tetapi hanya ada sedikit bukti empiris mengenai hal tersebut. Itulah kesenjangan yang ingin kami isi," kata Kitsuki.

Selama ini, pilihan pendekatan tersebut sering kali tidak disadari dalam proses pembelajaran. Guru dapat menjelaskan sebuah ekosistem berdasarkan manfaatnya bagi manusia atau menekankan nilai kehidupan di dalamnya tanpa mempertimbangkan bagaimana pilihan tersebut dapat memengaruhi respons siswa.

Peneliti melakukan uji coba di Kushiro, Jepang, yang memiliki lahan basah terbesar di negara tersebut. Kawasan ini juga merupakan situs Ramsar pertama di Jepang dan berada di dalam kawasan taman nasional.

Namun, ekosistem tersebut menghadapi tekanan pembangunan di wilayah sekitarnya, termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya. Kondisi tersebut membuat dukungan masyarakat terhadap konservasi menjadi semakin penting.

Anak-anak di kawasan tersebut menjadi bagian penting karena cara mereka memandang alam sejak dini dapat memengaruhi kepedulian terhadap lingkungan di masa mendatang.

Peneliti kemudian melakukan uji coba terkontrol secara acak di seluruh 21 sekolah dasar di Kota Kushiro. Sebanyak dua versi pelajaran lingkungan berdurasi 45 menit diberikan kepada siswa.

Materi pembelajaran pada dasarnya sama. Perbedaannya hanya terletak pada pertanyaan pembuka: mengapa lahan basah Kushiro perlu dilindungi?

Pada kelompok pertama, siswa diberi penjelasan mengenai manfaat lahan basah bagi manusia. Di antaranya menyediakan air minum, membantu melindungi wilayah dari banjir dan menjadi tempat masyarakat menikmati alam.

Kelompok kedua mendapat penjelasan mengenai hubungan antarorganisme di lahan basah. Pelajaran menekankan bahwa jaringan kehidupan tersebut memiliki nilai tersendiri, terlepas dari apakah memberikan manfaat langsung kepada manusia.

Satu minggu setelah pembelajaran, peneliti kembali mengukur minat siswa terhadap lingkungan.

Hasilnya, anak yang mendapatkan pendekatan berorientasi pada manfaat manusia menunjukkan peningkatan minat yang terukur. Sementara itu, kelompok yang menerima pendekatan berdasarkan nilai intrinsik alam tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

Sejauh pengetahuan peneliti, hasil tersebut menjadi salah satu bukti eksperimental pertama bahwa perbedaan cara menyampaikan nilai lingkungan dapat menghasilkan perbedaan dalam hasil pembelajaran.

"Sejujurnya, saya tidak menyangka bahwa perbedaan kecil dalam cara bercerita dapat menghasilkan kesenjangan yang begitu jelas dan terukur," kata Kitsuki.

Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah pendekatan yang berpusat pada manusia lebih mudah dikaitkan dengan kehidupan anak. Dengan begitu, jarak psikologis antara anak dan persoalan lingkungan menjadi lebih dekat.

Peneliti juga ingin mengetahui apakah pelajaran tersebut berdampak pada orang tua. Mereka menemukan bahwa cara penyampaian materi tidak tampak memengaruhi hasil pada orang tua.

Namun, terlepas dari versi pelajaran yang diterima anak, orang tua melaporkan peningkatan minat terhadap lingkungan setelah anak mereka mengikuti pembelajaran tersebut.

Temuan ini mengisyaratkan adanya proses pembelajaran antargenerasi. Pengetahuan atau ketertarikan yang diperoleh anak di sekolah berpotensi memengaruhi cara keluarga memandang persoalan lingkungan, termasuk orang tua yang tidak mengikuti pelajaran secara langsung.

Kitsuki mengingatkan agar hasil penelitian tersebut tidak disalahartikan sebagai bukti bahwa pendekatan yang berpusat pada manusia selalu lebih baik.

Menurutnya, nilai alam yang tidak bergantung pada manfaatnya bagi manusia tetap penting, terutama untuk membangun komitmen konservasi jangka panjang dan masyarakat yang benar-benar berkelanjutan.

Minat yang meningkat dalam jangka pendek juga tidak otomatis berarti anak akan memiliki komitmen etis terhadap lingkungan dalam jangka panjang.

Karena itu, persoalannya bukan memilih antara pendekatan antroposentris atau ekosentris. Tantangannya adalah menemukan cara mengajarkan nilai intrinsik alam agar dapat dipahami dan melekat pada anak.

Pengalaman langsung di alam dinilai berpotensi membantu. Berinteraksi langsung dengan lingkungan mungkin membuat konsep tentang nilai alam lebih mudah dipahami dibandingkan sekadar mendengarkan penjelasan di ruang kelas.

Peneliti selanjutnya ingin memperluas penelitian ke kelompok usia lain, termasuk orang dewasa. Tujuannya untuk memahami bagaimana cara membingkai nilai alam memengaruhi pembelajaran lingkungan sepanjang kehidupan.

Hasil penelitian juga diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan kurikulum pendidikan lingkungan.

"Pendidikan lingkungan perlu melihat lebih jauh dari sekadar konten teknis," kata Kitsuki.

Menurutnya, etika lingkungan masih jarang dibahas dalam pelatihan guru. Padahal, sudut pandang etis yang dipilih pendidik merupakan bagian penting dari cara mereka merancang pelajaran tentang lingkungan.

Penelitian mengenai pengaruh cara berbicara tentang alam terhadap kepedulian anak tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Ecological Economics. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Etika Lingkungan Pentingnya Merawat Alam Kepedulian Anak Isu Lingkungan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :