Kamis, 09/07/2026 13:19 WIB

Peneliti Ungkap Manusia Hobbit Flores Diduga Hidup dari Sisa Buruan Komodo





Para ilmuwan menemukan bahwa manusia purba bertubuh kecil itu kemungkinan besar bertahan hidup dengan memakan sisa bangkai yang ditinggalkan komodo

Komodo (foto: National Geographic)

Jakarta, Jurnas.com - Selama hampir dua dekade, Homo floresiensis atau "manusia hobbit" dari Flores diyakini sebagai pemburu hewan besar yang mampu menggunakan api. Namun penelitian terbaru justru membalik anggapan tersebut.

Para ilmuwan menemukan bahwa manusia purba bertubuh kecil itu kemungkinan besar bertahan hidup dengan memakan sisa bangkai yang ditinggalkan komodo setelah memangsa hewan besar.

Dikutip dari Earth, temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Science Advances setelah tim peneliti menganalisis lebih dari 3.000 fragmen tulang Stegodon, kerabat gajah purba berukuran kerdil yang pernah hidup di Pulau Flores.

Penelitian dipimpin zooarkeolog Smithsonian National Museum of Natural History, E. Grace Veatch, yang meneliti kembali bukti-bukti dari situs Liang Bua, lokasi ditemukannya fosil Homo floresiensis pada 2004.

Sebelumnya, manusia hobbit diyakini sebagai pemburu karena tulang Stegodon ditemukan bersama alat-alat batu serta diduga memiliki bekas sayatan. Penemuan itu juga sempat dianggap sebagai bukti bahwa mereka telah menguasai api.

Namun hasil analisis terbaru menunjukkan cerita yang berbeda.

Tim peneliti membandingkan bekas gigitan komodo dengan bekas sayatan alat batu menggunakan pemindaian tiga dimensi dan mikroskop. Mereka bahkan melakukan eksperimen dengan memberi bangkai kambing kepada komodo di Zoo Atlanta untuk mengetahui pola gigitan reptil tersebut.

Hasilnya menunjukkan sekitar 100 bekas gigitan berasal dari komodo, sedangkan hanya 54 bekas sayatan berasal dari alat batu.

Lebih menarik lagi, bekas gigitan komodo ditemukan pada bagian tubuh Stegodon yang paling kaya daging, seperti paha, bahu, dan dada. Sebaliknya, bekas alat batu justru berada di bagian yang hanya menyisakan sedikit daging, seperti tengkorak, tulang jari kaki, dan tenggorokan.

Pola tersebut mengindikasikan bahwa komodo lebih dulu menghabisi mangsanya, sementara Homo floresiensis datang belakangan untuk mengambil sisa-sisa yang masih dapat dimanfaatkan.

Para peneliti juga tidak menemukan bukti kuat bahwa manusia hobbit memasak makanan.

Mereka memeriksa lebih dari 4.200 tulang hewan kecil dari lapisan tanah yang berasal dari masa Homo floresiensis, tetapi tidak satu pun menunjukkan bekas terbakar. Sebaliknya, lapisan tanah yang berasal dari manusia modern memperlihatkan sekitar seperlima tulang mengalami pembakaran.

Satu-satunya tulang Stegodon yang hangus diduga terbakar ribuan tahun kemudian akibat aktivitas manusia modern, bukan oleh Homo floresiensis.

Menurut peneliti, memilih memanfaatkan bangkai kemungkinan jauh lebih aman dibanding memburu Stegodon secara langsung. Komodo dikenal sebagai predator penyergap dengan bisa yang menyebabkan mangsanya kehilangan banyak darah sebelum akhirnya mati.

Selain itu, berburu hewan seberat sekitar 544 kilogram dinilai membutuhkan energi jauh lebih besar dibanding hasil yang diperoleh.

Temuan ini mengubah cara ilmuwan memahami Homo floresiensis. Spesies manusia purba tersebut kemungkinan bukan pemburu besar maupun pengguna api, melainkan pemulung yang memanfaatkan bangkai hewan setelah ditinggalkan predator.

Meski demikian, mereka tetap mampu bertahan hidup di lingkungan Pulau Flores dengan memanfaatkan alat batu sederhana dan strategi mencari makan yang efisien.

Penelitian ini sekaligus membuka babak baru dalam memahami evolusi manusia purba di Indonesia, sekaligus menunjukkan bahwa keberadaan alat batu dan tulang hewan di satu lokasi belum tentu berarti manusia adalah pemburu hewan tersebut. (*)

KEYWORD :

Homo floresiensis Manusia Hobbit Makanan Komodo Hewan Komodo




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :