Ilustrasi pemanasan global (Foto: AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Selama ini mikroplastik dikenal sebagai ancaman bagi kesehatan manusia dan lingkungan karena telah ditemukan di udara, air, makanan, hingga tubuh manusia. Namun penelitian terbaru mengungkap dampak lain yang tak kalah mengkhawatirkan. Mikroplastik yang melayang di atmosfer ternyata ikut mempercepat pemanasan global.
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin Profesor Ilmu Bumi Duke University, Drew Shindell, bersama tim peneliti dari Fudan University, China, dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature Climate Change.
Dikuti dari Earth, penelitian ini menunjukkan bahwa partikel mikroplastik berwarna yang beterbangan di udara mampu menyerap sinar matahari dan menjebak panas di atmosfer. Efek tersebut membuat mikroplastik menjadi salah satu aerosol yang berkontribusi terhadap pemanasan Bumi.
"Penelitian ini memperluas daftar aerosol yang benar-benar menyebabkan pemanasan, sehingga menjadikan mikroplastik sebagai target yang sangat baik untuk aksi iklim," kata Drew Shindell.
Warna Mikroplastik Jadi Kunci
Sebelumnya, sebagian besar model iklim menganggap mikroplastik di atmosfer tidak berwarna sehingga lebih banyak memantulkan cahaya Matahari kembali ke angkasa dan hanya memberikan efek pendinginan yang sangat kecil.
Namun penelitian terbaru menunjukkan anggapan tersebut tidak tepat.
Melalui kombinasi simulasi komputer dan eksperimen laboratorium, para peneliti menemukan bahwa mikroplastik di udara memiliki beragam warna. Bahkan warnanya cenderung semakin pekat seiring plastik mengalami pelapukan akibat paparan cuaca.
Pigmen inilah yang membuat mikroplastik lebih efektif menyerap energi Matahari sehingga panas yang tertahan di atmosfer menjadi semakin besar.
Dampaknya Setara 200 PLTU Batu Bara
Meski ukurannya sangat kecil, dampak mikroplastik terhadap iklim ternyata tidak bisa dianggap sepele.
Penelitian menunjukkan kemampuan mikroplastik berwarna dalam menyerap panas mencapai sekitar 16 persen dibandingkan karbon hitam (black carbon), salah satu polutan penyebab pemanasan global paling kuat.
Menurut Shindell, jika dihitung secara keseluruhan, efek pemanasan yang ditimbulkan mikroplastik di udara saat ini setara dengan emisi dari sekitar 200 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara yang beroperasi selama satu tahun.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa mengurangi mikroplastik saja tidak akan menyelesaikan krisis iklim.
"Menargetkan mikroplastik jelas tidak akan menyelesaikan masalah iklim kita. Tetapi menghilangkan dampak yang setara dengan 200 pembangkit listrik tenaga batu bara tentu akan menjadi kontribusi yang sangat berarti dalam menurunkan emisi karbon dioksida," ujarnya.
Laut Ternyata Menjadi Sumber Mikroplastik di Atmosfer
Penelitian ini juga mengungkap hubungan yang sebelumnya belum banyak disadari antara pencemaran laut dan pencemaran udara.
Para peneliti memetakan persebaran mikroplastik di atmosfer dan menemukan konsentrasi tertinggi berada di kawasan North Pacific Subtropical Gyre, sistem arus laut raksasa di Samudra Pasifik Utara yang selama ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya jutaan ton sampah plastik.
Ketika ombak pecah di permukaan laut, percikan air laut mengangkat partikel-partikel mikroplastik ke udara. Akibatnya, kawasan tersebut berubah menjadi salah satu sumber terbesar mikroplastik di atmosfer.
Temuan ini menunjukkan adanya siklus baru, yakni sampah plastik di laut tidak hanya mencemari ekosistem perairan, tetapi juga kembali mencemari udara yang kemudian memengaruhi iklim global.
Polusi Plastik Diperkirakan Terus Meningkat
Shindell menilai penelitian ini baru mengukur dampak mikroplastik yang berada di lapisan atmosfer dekat permukaan Bumi. Karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui kontribusi sebenarnya terhadap perubahan iklim secara global.
Hal tersebut menjadi semakin penting karena jumlah sampah plastik diperkirakan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.
Tanpa upaya serius mengurangi penggunaan plastik, memperbaiki sistem pengelolaan sampah, dan meningkatkan daur ulang, kebocoran limbah plastik ke lingkungan diproyeksikan meningkat sekitar 50 persen dibandingkan tahun 2020, atau mencapai 30 juta ton pada 2040.
Shindell berharap temuan ini dapat memperkuat dukungan terhadap Perjanjian Plastik PBB (U.N. Plastics Treaty) yang bertujuan mengakhiri pencemaran plastik secara global.
"Kita masih memiliki pekerjaan yang sangat banyak untuk mencapai target seperti Perjanjian Paris. Kita benar-benar membutuhkan setiap upaya yang tersedia," pungkasnya. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Partikel Mikroplastik Polusi Plastik Pemanasan Global PLTU Batu Bara



























