Ilustrasi - ini cara yang diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk mengendalikan amarah ketika sedang marah ke orang lain (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)
Jakarta, Jurnas.com - Kemarahan merupakan salah satu ujian emosi yang kerap dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam ajaran Islam, amarah yang tidak terkendali dapat menjadi celah bagi setan untuk memicu perselisihan, menimbulkan penyesalan, bahkan merusak pahala amal seseorang.
Karena itu, Islam memberikan tuntunan agar seorang Muslim mampu mengendalikan gejolak emosi dengan cara yang bijak.
Berbagai Tradisi Unik Sambut Iduladha di Banten
Melalui berbagai hadis, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan sejumlah langkah praktis agar amarah dapat diredam sebelum berubah menjadi tindakan yang merugikan.
Berikut beberapa tuntunan yang diajarkan Nabi.
1. Membaca Taawudz saat Emosi Mulai Muncul
Ketika amarah mulai muncul, langkah pertama yang dianjurkan ialah memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan dengan membaca taawudz.
Rasulullah pernah menjelaskan bahwa ada satu kalimat yang dapat membantu meredakan kemarahan seseorang.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Artinya:
"Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat, jika ia mengucapkannya maka hilanglah apa yang sedang ia rasakan. Jika ia membaca: `Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk`." (HR. Bukhari dan Muslim)
Membaca taawudz menjadi bentuk pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah agar tidak dikuasai emosi sesaat.
2. Menahan Lisan dan Memilih Diam
Saat marah, seseorang sering kali mengeluarkan kata-kata yang disesali setelah emosinya mereda. Karena itu Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menahan diri dan menjaga ucapan.
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
Artinya:
"Apabila salah seorang di antara kalian marah, maka hendaklah ia diam." (HR. Ahmad)
Diam saat marah bukan berarti kalah atau lemah, tetapi menjadi cara agar emosi tidak semakin membesar dan menghindari ucapan yang menyakiti orang lain.
3. Mengubah Posisi Tubuh
Rasulullah juga memberikan petunjuk sederhana yang berkaitan dengan kondisi fisik. Ketika marah, seseorang dianjurkan mengubah posisi tubuh menjadi lebih tenang.
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ
Artinya:
"Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika belum juga hilang, maka hendaklah ia berbaring." (HR. Abu Dawud)
Anjuran ini mengajarkan bahwa perubahan kondisi fisik dapat membantu menurunkan ketegangan saat emosi sedang memuncak.
4. Berwudu untuk Meredakan Api Amarah
Dalam ajaran Islam, amarah dikaitkan dengan panasnya godaan setan. Karena itu, air wudu dianjurkan sebagai sarana menenangkan diri.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ، وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ، فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
Artinya:
"Sesungguhnya marah berasal dari setan, sedangkan setan diciptakan dari api. Api dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudu." (HR. Abu Dawud)
Allah Memuji Orang yang Mampu Menahan Amarah
Selain hadis, Al-Qur’an juga memberikan gambaran tentang sifat mulia orang beriman, yaitu mampu mengendalikan amarah dan memaafkan orang lain.
Firman Allah dalam Surah Asy-Syura ayat 37:
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ
Artinya:
"Dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, serta apabila mereka marah, mereka memberi maaf." (QS. Asy-Syura: 37)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Rasulullah SAW Mengendalikan Amarah Emosi Orang






















