Rabu, 20/05/2026 21:48 WIB

Berbagai Tradisi Unik Sambut Iduladha di Banten





Menjelang perayaan Hari Raya Iduladha, masyarakat Banten tidak hanya disibukkan dengan persiapan ibadah kurban dan salat id.

Ilustrasi - Idul Adha (Foto: Pranala)

Jakarta, Jurnas.com -  Menjelang perayaan Hari Raya Iduladha, masyarakat Banten tidak hanya disibukkan dengan persiapan ibadah kurban dan salat id.

Provinsi yang dikenal dengan kentalnya nuansa religius dan sejarah kesultanannya ini memiliki deretan tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun untuk menyambut Hari Raya Kurban.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah ragam tradisi unik masyarakat Banten dalam menyambut Iduladha:

1. Tradisi Ubrug dan Pawai Obor (Serang dan Pandeglang)

H-1 menjelang Iduladha, suasana malam takbiran di beberapa pelosok perkampungan di Kabupaten Serang dan Pandeglang selalu semarak.

Selain kumandang takbir dari pengeras suara masjid, warga biasanya menggelar pawai obor keliling kampung yang diiringi oleh kesenian Ubrug atau rampak bedug tradisional.

Pawai ini umumnya digerakkan oleh para remaja masjid dan anak-anak. Membawa obor yang terbuat dari bambu, mereka berjalan rapi memutari batas desa.

Tradisi ini bukan sekadar lambang kemeriahan, melainkan sarana syiar Islam sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga sebelum hari penyembelihan kurban tiba.

2. Ngejot: Berbagi Makanan Sebelum Hari Raya

Tradisi Ngejot atau saling mengantarkan makanan matang sebenarnya jamak dilakukan di beberapa daerah di Pulau Jawa dan Bali, namun di Banten tradisi ini memiliki kekhasan tersendiri saat Iduladha.

Beberapa hari sebelum hari-H, keluarga yang memiliki rezeki lebih akan memasak hidangan tradisional khas Banten, seperti Rabeg (kuliner berbahan dasar daging kambing/sapi dengan kuah rempah manis gurih) atau hidangan ayam pesmol untuk diantarkan ke rumah tetangga yang lebih tua, tokoh agama, atau kerabat dekat.

Tradisi Ngejot mengajarkan nilai kepedulian sosial dan penghormatan kepada orang tua. Hal ini selaras dengan esensi Iduladha yang menekankan pentingnya berbagi kepada sesama.

3. Tradisi Riungan dan Doa Bersama di Mushola

Bagi masyarakat tradisional Banten, malam Iduladha selalu diisi dengan acara Riungan (berkumpul bersama). Setelah melaksanakan salat Magrib atau Isya berjamaah, para pria di kampung akan berkumpul di dalam masjid atau mushola setempat.

Masing-masing kepala keluarga membawa sebuah lengkong atau tampah berisi nasi berkat lengkap dengan lauk-pauknya.

Dipimpin oleh kiai atau ustaz setempat, mereka melakukan zikir, selawat, dan doa bersama yang ditujukan untuk keselamatan kampung serta kelancaran ibadah kurban keesokan harinya. Setelah doa selesai, hidangan yang dibawa kemudian disantap bersama-sama (kepungan).

4. Tradisi Memandikan dan Merias Hewan Kurban (Lokal)

Meskipun tidak sekolosal tradisi "manten sapi" di Jawa Timur, beberapa peternak dan warga di pinggiran wilayah Lebak dan Cilegon masih mempraktikkan ritual penghormatan kepada hewan yang akan dikurbankan.

Sore hari sebelum disembelih, hewan kurban seperti kerbau atau sapi akan dimandikan hingga bersih di sungai atau pekarangan.

Pada beberapa kasus, hewan tersebut diberi wewangian atau sekadar dialasi kain bersih saat hendak dibawa ke area masjid.

Hal ini bersumber dari pemahaman lokal bahwa hewan kurban adalah kendaraan suci di akhirat kelak, sehingga harus diperlakukan secara terhormat dan bersih sebelum menghadap Sang Pencipta.

KEYWORD :

Info Keislaman Tradisi Unik Provinsi Banten Sambut Iduladha




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :