Rabu, 20/05/2026 21:48 WIB

Peringatan Hari Reformasi Nasional Setiap 21 Mei, Ini Sejarahnya





Tanggal 21 Mei memegang catatan krusial dalam lembaran sejarah modern bangsa Indonesia.

Ilustrasi - ini sejarah Hari Reformasi Nasional yang diperingati setiap 21 Mei (Foto: Antara)

Jakarta, Jurnas.com - Tanggal 21 Mei memegang catatan krusial dalam lembaran sejarah modern bangsa Indonesia.

Setiap tahunnya, tanggal ini diperingati sebagai Hari Reformasi Nasional. Momen ini menjadi penanda runtuhnya rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama 32 tahun, sekaligus menjadi gerbang pembuka bagi era alam demokrasi yang dinikmati masyarakat saat ini.

Dirangkum dari catatan sejarah resmi Sekretariat Negara, arsip pemberitaan harian Kompas, dan berbagai sumber media nasional, berikut adalah kilas balik dan sejarah panjang di balik peringatan Hari Reformasi Nasional yang terjadi pada 21 Mei 1998 silam.

Lahirnya Hari Reformasi Nasional tidak terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari krisis hebat yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997.

Krisis moneter yang menghantam Asia Tenggara membuat nilai tukar Rupiah merosot tajam, inflasi melonjak tinggi, dan harga bahan pokok melambung tak terkendali.

Kondisi ekonomi yang lumpuh ini memicu ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Soeharto.

Gelombang protes mulai bermunculan di berbagai kota besar, dipelopori oleh gerakan mahasiswa, kaum intelektual, hingga tokoh masyarakat. Mereka menuntut tiga hal utama yang dikenal sebagai Tragedi Tuntutan Reformasi:

Situasi semakin memanas memasuki bulan Mei 1998. Pada tanggal 12 Mei 1998, sebuah tragedi memilukan terjadi di Universitas Trisakti, Jakarta. Empat mahasiswa gugur akibat peluru tajam saat melakukan aksi damai.

Gugurnya Pahlawan Reformasi, yakni Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie gugur dalam peristiwa tersebut.

Kematian mereka menyulut amarah publik yang lebih besar, memicu kerusuhan massal di Jakarta dan beberapa kota lain pada 13–15 Mei 1998.

Pada tanggal 18 Mei 1998, ribuan mahasiswa berhasil menjebol pertahanan keamanan dan menduduki Gedung DPR/MPR RI.

Di saat yang sama, Ketua DPR/MPR kala itu, Harmoko, secara mengejutkan meminta Presiden Soeharto untuk mengundurkan diri demi menyikapi situasi nasional yang kian genting.

Puncak dari gerakan reformasi ini terjadi pada Kamis pagi, 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB. Bertempat di Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Soeharto membacakan pidato resmi menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Dalam pidatonya, Soeharto mengakui bahwa langkah membentuk Komite Reformasi yang sempat ia rencanakan tidak dapat terwujud, sehingga ia memilih mundur demi menghindari perpecahan yang lebih dalam di kalangan bangsa.

"Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998," ucap Soeharto dalam pidato bersejarah tersebut.

Sesuai dengan Pasal 8 UUD 1945, Wakil Presiden B.J. Habibie langsung diambil sumpahnya di hadapan Mahkamah Agung untuk menjadi Presiden RI yang ke-3 pada hari yang sama. Peristiwa ini menandai berakhirnya era Orde Baru dan resminya Indonesia memasuki Era Reformasi.

Dua dekade lebih telah berlalu sejak peristiwa bersejarah tersebut. Bagi generasi masa kini, Hari Reformasi Nasional diperingati bukan sekadar untuk mengingat ketegangan politik masa lalu, melainkan sebagai momentum refleksi atas hak-hak demokrasi yang berhasil direbut kembali.

Meskipun Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam merawat demokrasi dan memberantas korupsi, peringatan setiap tanggal 21 Mei ini menjadi pengingat penting bahwa kedaulatan tertinggi bangsa ini berada di tangan rakyat.

KEYWORD :

Peringatan Nasional 21 Mei Hari Reformasi Nasional Sejarah Indonesia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :