Ilustrasi gambaran otak manusia (Foto: Pexels/Anna Shvets)
Jakarta, Jurnas.com - Paparan mikroplastik ternyata tidak hanya mencemari laut dan makanan, tetapi kini ditemukan menumpuk dalam jumlah tinggi di otak manusia.
Temuan terbaru menunjukkan konsentrasi mikroplastik di otak jauh lebih besar dibanding organ tubuh lainnya, bahkan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal BrainHealth mengungkap bahwa jaringan otak manusia mengandung mikroplastik 7 hingga 30 kali lebih tinggi dibanding jaringan hati atau ginjal pada orang yang sama.
Dikutip dari Earath, para peneliti juga menemukan bahwa individu dengan diagnosis demensia memiliki kadar mikroplastik paling tinggi di otaknya.
Penelitian tersebut menganalisis jaringan otak dari donor yang telah meninggal dunia. Hasilnya menunjukkan tingkat akumulasi plastik di otak meningkat sekitar 50 persen dalam periode 2016 hingga 2024.
Temuan ini memicu kekhawatiran baru mengenai dampak jangka panjang polusi plastik terhadap kesehatan saraf dan fungsi otak manusia.
Para ilmuwan menyebut otak menjadi organ yang paling rentan karena partikel plastik berukuran sangat kecil, terutama nanoplastik, mampu menembus sistem pelindung otak atau blood-brain barrier.
Dalam studi pada hewan, partikel plastik skala nano diketahui dapat mencapai otak hanya dalam waktu dua jam setelah tertelan.
Yang lebih mengkhawatirkan, hingga kini ilmuwan belum mengetahui secara pasti apakah otak mampu membersihkan partikel plastik tersebut setelah masuk ke jaringan saraf.
Peneliti menyoroti makanan ultra-proses sebagai salah satu sumber utama paparan mikroplastik harian. Kategori ini mencakup minuman ringan, camilan kemasan, mi instan, roti produksi massal, hingga makanan siap saji.
Produk-produk tersebut bersentuhan dengan plastik dalam banyak tahap produksi, mulai dari kemasan, mesin industri, proses pemanasan, hingga penyimpanan. Akibatnya, partikel plastik dapat berpindah ke makanan sebelum dikonsumsi manusia.
Sebaliknya, makanan segar dan minim proses dinilai memiliki tingkat paparan plastik yang jauh lebih rendah. Sejumlah studi besar juga menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultra-proses dengan gangguan kesehatan otak.
Dalam analisis terhadap 385.541 peserta, konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi dikaitkan dengan peningkatan 53 persen risiko gangguan kesehatan mental umum, kenaikan 44 persen risiko depresi, dan peningkatan 48 persen risiko kecemasan.
Studi lain di Inggris juga mengaitkan konsumsi makanan ultra-proses dengan peningkatan risiko demensia.
Penelitian tambahan menemukan bahwa peningkatan 10 persen konsumsi makanan ultra-proses berkaitan dengan kenaikan 16 persen risiko gangguan berpikir dan memori, serta peningkatan 8 persen risiko stroke.
Menurut para ilmuwan, mikroplastik kini dianggap sebagai salah satu faktor yang mungkin menjelaskan mengapa makanan ultra-proses terus muncul sebagai faktor risiko gangguan otak, bahkan setelah pola makan sehat diperhitungkan dalam analisis statistik.
Selain otak, mikroplastik sebelumnya juga telah ditemukan dalam darah manusia, plasenta ibu hamil, dan plak lemak di pembuluh darah.
Partikel plastik yang ditemukan di arteri bahkan dikaitkan dengan peningkatan hampir empat kali lipat risiko serangan jantung, stroke, atau kematian dalam masa pemantauan 34 minggu.
Para peneliti menilai ibu hamil, anak-anak, pekerja industri plastik, serta pasien dengan penyakit jantung dan gangguan neurologis menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak paparan mikroplastik.
Dalam perkembangan terbaru, peneliti menemukan prosedur medis bernama therapeutic apheresis berpotensi membantu mengurangi partikel mikroplastik dalam darah. Metode ini bekerja dengan menyaring plasma darah pasien di luar tubuh, mirip seperti proses cuci darah.
Namun para ilmuwan menegaskan penelitian masih berada pada tahap awal dan belum ada bukti pasti apakah pengurangan mikroplastik dalam darah juga dapat mengurangi akumulasi di otak.
Selain itu, prosedur tersebut dinilai sulit diterapkan secara massal karena membutuhkan fasilitas medis khusus dan biaya tinggi. Para ilmuwan menilai dunia membutuhkan metode standar untuk mengukur mikroplastik dalam jaringan tubuh manusia, termasuk otak.
Mereka juga menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui jenis plastik mana yang paling berbahaya, bagaimana dampaknya terhadap otak, serta cara efektif untuk mengurangi paparannya.
Sementara itu, langkah paling realistis yang dapat dilakukan masyarakat saat ini adalah mengurangi konsumsi makanan ultra-proses dan memperbanyak makanan segar.
Peneliti mengingatkan bahwa jika peningkatan akumulasi plastik di otak terus terjadi dengan kecepatan saat ini, dampaknya terhadap kesehatan otak manusia di masa depan bisa menjadi jauh lebih serius dari yang diperkirakan. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Otak Manusia Paparan Mikroplastik Bahaya Mikroplastik


























