Rabu, 15/04/2026 04:34 WIB

Ketua MPR Dorong Optimalisasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea





Pengimplementasian IK-CEPA sekaligus menandai peringatan 50 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korea Selatan.

Ketua MPR, Bambang Soesatyo menerima Ketua Parlemen Korea Selatan Kim Jin Pyo, di Gedung MPR RI, Jakarta, Kamis (19/1/23). (Foto: Humas MPR)

Jakarta, Jurnas.com - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengajak Ketua Parlemen Korea Selatan Kim Jin Pyo untuk saling bekerjasama memastikan realisasi konkrit dari Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Korea (Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement/IK-CEPA) yang telah ditandatangani pada 18 Desember 2020 di Seoul, dan sudah mulai berlaku mulai 1 Januari 2023. Sehingga dapat memperkuat hubungan kerjasama ekonomi, perdagangan, dan investasi antara kedua negara.

Indonesia dan Korea Selatan juga bisa memanfaatkan IK-CEPA kepada sektor privat dan bisnis, khususnya UMKM yang menjadi pilar perekonomian bagi Indonesia. Pengimplementasian IK-CEPA sekaligus menandai peringatan 50 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korea Selatan.

"Selain IK-CEPA, Indonesia dan Korea Selatan juga memiliki berbagai kerjasama penting lainnya yang perlu ditindaklanjuti. Antara lain, implementasi MoU pemindahan dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) khususnya di bidang sistem penyediaan air bersih dan pembangunan smart city; kepastian Indonesia memenuhi cost-sharing proyek pengembangan jet tempur KF-X/IF-X, komitmen investasi Korea Selatan senilai USD 6,75 miliar di bidang industri baja, petrokimia, baterai kendaraan listrik dan kabel listrik, telekomunikasi, garmen, dan energi terbarukan, serta tindak Lanjut beberapa kesepakatan yang ditandatangani di sela-sela G20. Seperti kerjasama ekonomi digital, kerjasama UMKM dan startup, hingga pembentukan High-Level Dialogue on Investment," ujar Bamsoet usai menerima Ketua Parlemen Korea Selatan Kim Jin Pyo, di Gedung MPR RI, Jakarta, Kamis (19/1/23).

Bamsoet juga mengapresiasi penandatanganan MoU antara Indonesia dan Korea Selatan yang telah dilakukan pada 15 November 2022 lalu, terkait kesepakatan untuk mengembangkan moda raya terpadu (MRT) Fase IV lintas Fatmawati-Kampung Rambutan. Menunjukan bahwa Indonesia senantiasa memberikan perhatian besar terhadap berbagai investasi Korea Selatan.

"Perhatian Indonesia terhadap investasi Korea Selatan juga dilakukan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Antara lain pada 15 September 2021, Presiden Joko Widodo melakukan groundbreaking pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik PT. HKML Battery Indonesia di Karawang. Pada 16 Maret 2022, Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik PT. Hyundai Motor Manufacturing Indonesia di Cikarang, sekaligus menyaksikan peluncuran IONIQ 5 sebagai mobil listrik pertama yang dibuat di Indonesia. Serta Pada 8 Juni 2022, Presiden Joko Widodo melakukan peresmian pembangunan tahap 2 pabrik baterai mobil listrik konsorsium LG Energy Solution senilai USD 9,8 miliar di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah. Industri ini mendukung produksi 3,5 juta unit baterai dengan kapasitas 200 megawatt per tahun, serta diperkirakan menyerap ribuan tenaga kerja Indonesia," jelas Bamsoet.

Bamsoet menambahkan, kerjasama di sektor industri mobil listrik dan baterai listrik, sebagai hasil dari Indonesia Korea Roundtable Investment Dialog 8 April 2021, merupakan sektor investasi yang sangat menjanjikan bagi Indonesia dan Korea Selatan. Mengingat data US Geological Survey melaporkan, cadangan nikel Indonesia mencapai 21 juta metrik ton, terbesar (40 persen) dari total cadangan nikel dunia. Jika dikelola dengan optimal, Indonesia dan mitra investasinya bisa menjadi pemain utama supplier baterai kendaraan listrik.

"Terlebih secara global pangsa pasar kendaraan listrik terus menunjukan tren peningkatan. Sebagai contoh, hingga akhir tahun 2022, pangsa pasar motor listrik global diproyeksikan mencapai 17,25 miliar US dollar atau sekitar Rp 257,6 triliun. Sedangkan pada tahun 2030, diproyeksikan meningkat hingga 30,52 miliar US dollar atau sekitar Rp 455,7 triliun. Secara global, jumlah pengguna kendaraan listrik pada tahun 2021 juga telah meningkat empat kali lipat dibandingkan tahun 2019. World Economic Forum menyebutkan bahwa setiap tahun penjualan mobil listrik meningkat sebanyak 30 persen dalam dekade terakhir," pungkas Bamsoet.

KEYWORD :

Kinerja MPR Bambang Soesatyo Korea Selatan IK-CEPA Ekonomi Kim Jin Pyo




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :