Minggu, 31/05/2026 04:43 WIB

Mengenal Deretan Tradisi Waisak yang Sarat Makna





Berikut deretan tradisi Waisak yang dikenal memiliki makna mendalam.

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menghadiri dan membuka Pindapata Nasional Gema Waisak 2570 B.E/2026 di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta, Minggu (10/5/2026) (Foto: Kemenag)

 

Jakarta, Jurnas.com - Hari Raya Waisak merupakan perayaan suci umat Buddha yang memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gautama, yaitu kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan wafatnya Sang Buddha.

Selain menjadi momen spiritual, Waisak juga identik dengan berbagai tradisi yang sarat makna dan masih terus dijalankan hingga saat ini.

Di Indonesia, perayaan Waisak yang dipusatkan di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, selalu menghadirkan rangkaian prosesi keagamaan yang menarik perhatian masyarakat.

Tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar ritual, tetapi juga mengandung nilai kesederhanaan, refleksi diri, perdamaian, hingga penghormatan terhadap ajaran Buddha.

Berikut deretan tradisi Waisak yang dikenal memiliki makna mendalam:

1. Thudong, Perjalanan Spiritual Para Bhante

Salah satu tradisi yang paling menyita perhatian menjelang Waisak adalah Thudong. Tradisi ini dilakukan oleh para bhante atau biksu dengan berjalan kaki menempuh perjalanan jauh menuju lokasi perayaan Waisak, termasuk ke Candi Borobudur.

Thudong bukan sekadar perjalanan fisik.

Dalam ajaran Buddha, tradisi tersebut menjadi latihan batin untuk melatih kesabaran, kesederhanaan, pengendalian diri, dan ketekunan.

Selama perjalanan, para bhante hidup sederhana serta mengandalkan bantuan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

2. Pengambilan Air Suci

Tradisi berikutnya adalah pengambilan air suci yang biasanya dilakukan dari sumber mata air tertentu, salah satunya Umbul Jumprit di Temanggung, Jawa Tengah.

Air suci tersebut kemudian digunakan dalam rangkaian ibadah Waisak sebagai simbol kesucian, kejernihan hati, dan kehidupan. Prosesi ini menjadi bagian penting sebelum puncak perayaan berlangsung.

3. Pengambilan Api Dharma

Selain air suci, terdapat pula tradisi pengambilan Api Dharma yang melambangkan cahaya kebijaksanaan dan semangat ajaran Buddha.

Api biasanya diambil dari sumber api alam dan kemudian dibawa menuju lokasi utama perayaan Waisak.

Prosesi tersebut memiliki makna penerangan batin serta harapan agar manusia mampu menjalani hidup dengan kebijaksanaan.

4. Kirab Waisak

Kirab Waisak menjadi salah satu prosesi paling sakral dalam rangkaian perayaan.

Ribuan umat Buddha mengikuti arak-arakan dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur sambil membawa air suci, Api Dharma, serta berbagai perlengkapan ritual.

Kirab tersebut melambangkan perjalanan spiritual manusia dalam mencari kebenaran dan mencapai pencerahan hidup. Selain bernilai religius, prosesi ini juga menjadi simbol persatuan dan kebersamaan umat Buddha.

5. Puja Bhakti dan Meditasi

Saat puncak Waisak berlangsung, umat Buddha melaksanakan puja bhakti, pembacaan paritta suci, hingga meditasi bersama.

Meditasi dilakukan sebagai sarana introspeksi diri untuk menenangkan pikiran, mengendalikan emosi, dan memperkuat kesadaran batin.

Tradisi ini menjadi inti dari perayaan Waisak yang menekankan pentingnya kedamaian dalam diri manusia.

6. Pradaksina Mengelilingi Candi Borobudur

Tradisi Pradaksina dilakukan dengan berjalan mengelilingi Candi Borobudur searah jarum jam sebanyak beberapa putaran.

Dalam ajaran Buddha, Pradaksina merupakan bentuk penghormatan kepada Buddha sekaligus meditasi berjalan yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Tradisi ini menjadi penutup rangkaian prosesi Tri Suci Waisak di Borobudur.

7. Pelepasan Lampion

Pelepasan lampion menjadi salah satu tradisi Waisak yang paling dikenal masyarakat luas. Ribuan lampion diterbangkan ke langit malam Borobudur setelah umat melakukan doa dan meditasi bersama.

Lampion melambangkan harapan, kedamaian, serta pelepasan berbagai hal negatif dalam kehidupan.

Pada perayaan Waisak 2026, sebanyak 2.570 lampion diterbangkan menyesuaikan penanggalan tahun Buddhis 2570 BE.

8. Pindapata atau Tradisi Berbagi

Tradisi Pindapata dilakukan dengan memberikan makanan dan kebutuhan pokok kepada para bhante. Dalam prosesi ini, umat Buddha berbaris untuk memberikan dana atau persembahan sebagai bentuk kebajikan.

Tradisi tersebut mengajarkan nilai kepedulian sosial, kerendahan hati, serta semangat berbagi kepada sesama.

KEYWORD :

Hari Raya Waisak 2026 31 Mei Tradisi Waisak Negara Indonesia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :