Logo Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). (Foto: Supianto/ Jurnas.com)
JAKARTA, Jurnas.com - Berdasarkan hasil verifikasi faktual Pemutakhiran Pendataan Keluarga tahun 2021 (PK-21) tahun 2022 ditemukan sebanyak 58.933 keluarga berisiko stunting di Kalimantan Tengah (Kalteng).
Temuan yang dilakukan oleh Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalteng itu diserahkan kepada Pemprov Kalteng melalui Staf Ahli (Sahli) Gubernur Kalteng Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (KSDM), Suhaemi.
Suhaemi berharap, melalui data BKKBN tersebut pihaknya dapat mensasar langsung keluarga berisiko stunting dengan harapan prevalensi pada Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2023 mendatang dapat turun menjadi 23,24 persen, sehingga target penurunan stunting sebesar 15,38 persen di tahun 2024 dapat tercapai.
Waka Komisi V: Sektor Pendidikan dan Infrastruktur di Kalteng Butuh Perhatian Lebih Pemerintah
"Dari hasil Studi SSGBI prevalensi stunting di Kalteng terus mengalami penurunan. Yang mana pada tahun 2019 prevalensi stunting Kalteng adalah 32,3 persen, turun pada tahun 2021 menjadi 27,4 persen," kata Suhaemi dalam siaran persnya diterima di Jakarta, Sabtu (10/12).
Hal itu disampaikan saat membuka Rekonsiliasi dan Diseminasi Data Kasus Stunting dan Keluarga Berisiko Stunting Provinsi Kalteng Tahun Anggaran 2022 di Swiss Belhotel Danum, Palangka Raya, Kamis, 8 Desember 2022.
Kendati setiap tahun prevalensi stunting di Kalteng mengalami penurunan, kata Suhaemi, namun jumlah stunting di Kalteng saat ini masih di atas angka standar yang ditoleransi oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO, yaitu di bawah 20 persen dan di atas angka nasional yaitu 24,4 persen.
"Saya mengimbau kepada seluruh instansi dan mitra terkait, agar dapat bersinergi dan bekerja sama di dalam wadah yang telah dibentuk oleh Bapak Gubernur yaitu Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS)," imbaunya.
Rakornas Percepatan Penurunan Stunting 2024 Bahas Refleksi Hingga Luncurkan Layanan Digital
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Perwakilan BKKBN Kalteng Dadi Ahmad Roswandi mengatakan, kegiatan ini bertujuan menyebarluaskan hasil verifikasi faktual pendataan keluarga tahun 2021 kepada pemerintah daerah, pemangku kepentingan dan mitra, yang salah satu keluarannya adalah data keluarga berisiko stunting
"Hasil dari kegiatan ini nantinya sebagai bahan referensi dan data pendukung dalam melaksanakan intervensi program dan kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Kalteng," kata Dadi.
Demo Masak
Pada hari yang sama Perwakilan BKKBN Provinsi Kalteng juga menggelar demo memasak makanan bergizi dari hasil panggan lokal melaui program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).
Kegiatan ini digelar sebagai rangkaian Peringatan ke 94 Hari Ibu di Kabupaten Kotawaringin Barat Tahun 2022 di Kecamatan Pangakalan Banteng.
Hadir dalam kegiatan ini Sub koordinator Amduk Bidang Dalduk BKKBN Kalteng Masykur sekaligus sebagai nara sumber dan Tim Dashat Kampung KB Mulya Jadi Kecamatan Pangkalan Banteng serta sejumlah ibu hamil sekaligus keluarga yang memiliki Baduta.
Plt. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalteng Dadi Ahmad mengatakan, program Dashat diharapkan mampu mengubah pola perilaku masyarakat dalam menyiapkan gizi seimbang yang dimulai dari keluarga.
“Program Dashat merupakan pilar penting dalam mewujudkan atau menghadirkan makanan bergizi bagi keluarga beresiko stunting. Ada 3 M dalam pelaksanaan Dashat yakni, mudah mendapatkan bahan makanan, murah harganya, mudah mengolahnya. Sehingga Menu makanan bergizi Dashat sangat mudah di wujudkan oleh seluruh keluarga di Indonesia,” harap Dadi.
Sementara itu Masykur dalam arahannya mengatakan bahwa kesadaran masyarakat dalam pemenuhan gizi keluarga sangat membantu dalam upaya percepatan penurunan stunting, khususnya di Kecamatan Pangkalan Banteng, Kabupaten Kotawaringin Barat.
"Dashat ini merupakan pemberdayaan kelompok masyarakat dalam upaya pemenuhan gizi seimbang. Jadi, seluruh keluarga yang berisiko stunting, seperti ibu hamil, ibu menyusui, baduta, balita, terutama dari keluarga kurang mampu, agar terpenuhi gizinya melalui pemanfaatan sumber daya lokal, termasuk bahan pangan lokal yang dapat dipadukan dengan sumber daya dari mitra lain," ucapnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Percepatan Penurunan Stunting PK-21 Kalimantan Tengah

























