Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo didampingi Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Submer Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi dan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono melaunching program Ngobras on the Spot, Jakarta, Kamis (6/10).
JAKARTA, Jurnas.com - Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sebagai Komando Strategis Pembangunan Pertanian di Kecamatan (Kostratani) yang sudah dilengkapi saranan IT mempunyai peran penting dalam mendukung Indonesia menghadapi krisis pangan global.
Demikian disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi pada acara talkshow "Pembekalan Penyuluhan Pertanian Nasional" dalam menghadapai krisis pangan global, Jakarta, Kamis (6/10).
"Saat ini di Kementan ada Agriculture War Room (AWR). Di sini ada perang ide-ide dari seluruh Indonesia, termasuk dari KTNA, P4S, Ikamaja terkait bagaimana cara meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian," terang Dedi.
Lebih lanjut dijelaskan Dedi bahwa AWR yang sudah terhubung dengan 5746 BPP Kostratani di seluruh Indonesia ini dimanfaatkan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, eselon satu Kementan, dan dedengkot penyuluh untuk transfer knowledge kepada penyuluh dan petani.
"Mereka semua tampil dengan penyuluh membahas bagaimana meningkatkan produksi, bahkan penyuluhannya juga tampil di Agriculture Operation Room (AOR) Kostrani masing-masing dengan pasilitas Ngobras," papar Dedi.
Karean itu, Dedi terus mendorong Kostrani memanfaatkan IT yang begitu masif untuk meningkatkan agenda intelektual bukan hanya kepada penyuluh, tapi juga seluruh petani di Indonesia.
Dalam rangka mengawal dan mendampingi pertani untuk meningkatan produksi dan produktivitas pertanian, Dedi mengatakan, penyuluh saat ini juga telah memanfaatkan IT dalam melakukan pendampingan kepada petani.
Dikatakan Dedi, tupoksi penyuluh saat ini yakni Latihan Kunjungan dan Supervisi (Laku Susi) harus plus IT. Artinya, penyuluh saat ini selain melakukan pendampingan secara offline, juga harus dilakukan secara online.
"Banyangkan, kemarin ada penyuluh dari NTT berbicara soal biochar, kompos dan itu bisa diakses penyuluh dari Sabang sampai Merauke melalui Kostratani. Artinya, pendampingan sekarang yang dilakukan penyuluh tidak hanya dilakukan secara offline, tapi juga secara online," ujarnya.
Ia menambahkan, Panca Usaha Tani pun, program Presiden Soeharto mencapai swasembada beras, harus plus. Plusnya Smart Farming, yakni memanfaatan high yiedling variety, memanfaatkan produk biosains, memanfaatkan alsintan, dan memanfaatkan internet of things dari hulu hingga hilir," imbuhnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, mengajak para penyuluh pertanian lebih serius dalam menghadapi ancaman krisis pangan global. "Penyuluh dan jaring-jaring pertanian yang ada sekarang itu harus kerja lebih serius," ajak Mentan Syahrul.
Mentan Syahrul, mengajak para penyuluh menerapkan konsep PAKUI dalam bekerja. PAKUI sendiri merupakan singkatan dari Perencanaan, Antusias, Knowledge, Ulet, dan berintegraitas
"Jadi, konsep PAKUI itu harus mulai jalan setelah ini. Kaulah yang paling tahu yang ada di wilayahmu. Jangan nunggu dan kita sudah di dekatkan teknologi pemberian Tuhan yang luar biasa," kata Mentan Syahrul.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
BPP Kostratani Dedi Nursyamsi Syahrul Yasin Limpo Krisis Pangan Global
























