Rabu, 15/04/2026 17:35 WIB

Ini Alasan Paylater dan Fintech Lending Jadi Tonggak Bank Digital





Perkembangannya yang cukup pesat dan menjangkau masyarakat dari berbagai kalangan, membuat fintech dan paylater menjadi penopang industri bank digital serta neobank.

Financial Technology (Fintech). Foto: koinworks.com

Jakarta, Jurnas.com - Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuka banyak peluang dan kesempatan baru. Bukan hanya pada masyarakat secara luas, namun juga para pelakunya. Salah satu contohnya kemunculan layanan paylater dan perusahaan financial technology atau fintech lending.

Melalui layanan fintech, masyarakat jadi lebih mudah dalam mengajukan pinjaman atau bantuan finansial lain. Namun, peran fintech dan layanan pinjaman, khususnya paylater tidak berhenti sampai di situ saja. Perkembangannya yang cukup pesat dan menjangkau masyarakat dari berbagai kalangan, membuat fintech dan paylater menjadi penopang industri bank digital serta neobank.

Terkait alasan mengapa kedua layanan tersebut mampu menjadi tonggak bank digital, inilah beberapa alasan mengapa fintech dan paylater mampu memberi ‘nyawa’ pada industri bank digital serta neobank.

1. Segmen Neobank dan Bank Digital Mengarah ke Sektor UMKM dan Ritel

Daya tarik layanan keuangan digital atau fintech membuat bank digital serta neobank berlomba-lomba memanfaatkan infrastruktur milik pemain fintech. Tujuannya karena segmen neobank maupun bank digital ke depannya akan mengarah ke sektor UMKM dan ritel.

Melalui infrastruktur dari pelaku teknologi finansial, bank digital memiliki kesempatan lebih besar untuk mampu meningkatkan efisiensi serta efektivitas operasionalnya. Dengan begitu, geliatnya dalam menawarkan fasilitas pinjaman online, menyediakan produk keuangan, dan hal lainnya seputar perbankan menjadi lebih lancar dan optimal.

Terlebih, tingkat kepercayaan masyarakat dari kalangan menengah juga menjadi lebih tinggi karena literasi keuangan yang kian meningkat. Jadi, peluang untuk mengajukan pinjaman atau memanfaatkan layanan keuangan dari fintech sudah tidak terlalu sulit seperti dahulu, terutama di masa pandemi seperti sekarang ini.

2. Ekosistem Khusus Telah Dimiliki oleh Fintech

Fintech yang secara umum telah memiliki ekosistemnya sendiri juga menjadi alasan bank digital tertarik untuk bekerja sama dengan lembaga keuangan tersebut. Hal ini disebabkan karena mereka mempunyai kemampuan dari segi teknologi dalam mengakomodasi para nasabah yang memiliki risiko tinggi lewat layanan mereka.

Sebagai contoh, aktivitas fintech yang bergerak di bidang penyedia layanan paylater sudah bisa ditemui di semua situs dagang daring atau online dan terus berkembang serta bersaing hingga kini. Tidak hanya itu, perusahaan fintech juga mengkhususkan diri untuk menyediakan layanan permodalan bagi UMKM produktif yang sebelumnya tak mampu dijangkau layanan bank konvensional.

Karena kemampuan dari fintech ini, bank digital diharapkan bisa lebih proaktif dalam melakukan kolaborasi. Jika berjalan sendiri, biaya investasi teknologi yang terbilang tinggi akan sangat sulit untuk bisa dipenuhi. Juga, membangun sistem yang mumpuni membutuhkan waktu yang lama serta amat sulit untuk bisa mengembangkannya secara konsisten.

Di sisi lain, risiko tinggi juga didapatkan dari kebutuhan akan SDM yang melimpah dan berkualitas. Pasalnya, aktivitas monitoring pada segmen ini tentu tidak mudah untuk bisa dilakukan.

3. Dana Himpunan Pihak Ketiga Terbilang Kecil

Alasan lainnya adalah karena dana himpunan dari pihak ketiga terbilang kecil. Sehingga, potensi munculnya nasabah yang mengajukan transaksi dengan jumlah besar pun tergolong minim.

Ekosistem tersebut umumnya mengincar pinjaman milik bank konvensional yang memiliki dana besar, serta pinjaman dari bank digital untuk pinjaman dengan nominal kecil.

Inilah mengapa tak sedikit bank konvensional yang juga tertarik untuk membentuk kerja sama dengan fintech karena bunga pinjamannya lumayan menguntungkan. Apalagi saat ini aktivitas perbankan lesu akibat pandemi dan banyaknya potensi kemunculan nasabah berisiko tinggi.

4. Kemampuan untuk Menggaet Nasabah dari Segala Kalangan

Di masa depan, tak sedikit bank yang bakal mengakuisisi sejumlah fintech dan juga start up guna mengambil ekosistem bisnisnya yang mana menarget nasabah dari kalangan yang baru. Sebaliknya, fintech yang berkembang pesat akan berusaha untuk menjadikan bank kecil sebagai pijakan untuk mendapatkan lisensi perbankan.

Hal tersebut tentu saja bertujuan agar mampu menggaet nasabah dari segala kalangan, baik kalangan masyarakat yang membutuhkan pinjaman dalam nominal kecil untuk bank konvensional dan pinjaman nominal besar untuk pihak fintech.

Ownership Menjadi Langkah Strategis Mengembangkan dan Mengakomodasi Perluasan Market

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa upaya kepemilikan atau ownership dengan nilai saham beberapa persen perlu dilakukan guna menciptakan keterikatan.

Tanpanya, bisnis perbankan akan sulit untuk bergerak karena persaingannya yang semakin ketat. Oleh karena itu, saat ini sudah memasuki zamannya ownership sebagai langkah strategis, tidak hanya bagi bank, namun juga fintech untuk bisa berkembang serta mengakomodasi pasar yang lebih luas.

KEYWORD :




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :