Jum'at, 22/03/2019 12:56 WIB

Sebelas Inpara dan Teknologi RAISA Siap "Sulap" Lahan Rawa

Hingga saat ini sudah ada 11 dari 230 varietas padi, khusus lahan rawa. Dari 11 varietas itu, sembilan varietas  yang sudah dilepas daan dimanfaatkan petani.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri

Subang -  Optimal tidaknya lahan rawa sangat bergantung sentilah teknologi pada pengelolaan lahan yang tepat dan terpadu serta penggunaan varietas padi yang adaptif di lingkungan rawa.

Demikian disampaikan kepala  Balai Besar Penelitian di Tanaman Padi (BB Padi), Padi Priatna Sasmita di Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Sabtu (8/12).

Dengan begitu, kata Priatna, lahan rawa pasang surut dan lebak yang menjadi fokus pemerintah pada 2019, bisa terlaksana dengan baik. "Perlu terus dikembangkan teknologi budidaya yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan," kata Priatna.

Priatna menjelaskan, hingga saat ini sudah ada 11 dari 230 varietas padi, khusus lahan rawa. Dari 11 varietas itu, sembilan varietas  yang sudah dilepas dan dimanfaatkan petani.

"Dua varietas lagi masih dalam tahap penelitian di BB Padi untuk dimanfaatkan petani secara luas," ungkap Priatna.

Ia menyebutkan, BB Padi saat ini memiliki stok benih sumber (BS) mencapai 20 ton. Padahal, mengacu pada kebutuhan BS untuk 7,1 juta hektare luas baku areal sawah di Indonesia, hanya dua ton saja.

Sementara itu, BB Padi juga sudah meluncurkan teknologi rawa intensifikasi super dan aktual atau yang dikenal dengan RAISA. Teknologi ini bisa mengedukasi petani mulai dari pra tanam, tanam hingga panen.

"Petani bisa lebih mudah pemilihan varietas yang unggul untuk lahan rawa. Serta, menerapkan cara tanam jejer legowo 21," katanya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa saat ini, cara tanam petani masih sangat tradisional, yakni tanam hambur. Sehingga jarak batang padi satu dengan yang lainnya sangat rapat yang membuat produktivitsnya berkurang.

"Melalui Teknologi RAISA, petani diberi bimbingan untuk memperbaiki cara tanam, yaitu dengan jejer legowo 21. Tanamnya juga sudah pakai mesin. Sehingga, hasilnya jauh lebih baik," katanya.

RAISA juga dilengkapi dengan aplikasi pupuk hayati yang adaptif dengan tanah masam lahan rawa dan mampu meningkatkan produktivitas tanaman yaitu Biotara. Keunggulan dari pupuk hayati biotara adalah dapat mengikat N, meningkatkan ketersediaan hara P tanah, mendekomposisi sisa-sisa organik dan memacu pertumbuhan.

Selain itu RAISA juga menyertakan kegiatan remediasi. Proses ini dapat meningkatkan pH, retensi air dan hara, aktivitas biota tanah dan mengurangi keracunan dan pencemaran.

 

TAGS : Inpara Lahan Rawa BB Padi RAISA




TERPOPULER :