Jum'at, 16/11/2018 12:06 WIB

Peningkatan Akses Pendidikan Juga Perlu Peran Swasta

Untuk meningkatkan APK Indonesia yang masih kalah dari Malaysia dan Singapura, tidak cukup hanya mengandalkan APBN, tapi juga perlu peran swasta.

Penandatanganan Pemberian Beasiswa Tanoto Foundation, di Kantor Kemristekdikti, Jakarta, Jumat (20/10) pagi disaksikan oleh Menristekdikti Mohamad Nasir (paling kiri)

Jakarta – Untuk meningkatkan akses pendidikan tinggi di Indonesia, tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) belaka. Menurut Menteri Riset,Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Mohamad Nasir, swasta juga perlu dilibatkan.

Seperti yang disampaikan dalam Penandatanganan Pemberian Beasiswa Tanoto Foundation, di Kantor Kemristekdikti, Jakarta, Jumat (20/10) pagi, Nasir memuji partisipasi Tanoto Foundation sebagai bentuk investasi untuk menumbuhkan generasi-generasi emas di masa depan, serta mendukung upaya pemerintah memajukan mutu pendidikan di Indonesia.

Beasiswa ini merupakan bentuk kerjasama yang baik antara pemerintah dan lembaga swasta di bidang pendidikan tinggi, demi mencetak generasi muda yang dapat bersaing di kelas dunia, komitmen seperti ini harus diikuti oleh lembaga-lembaga swasta lainnya,” kata Menristekdikti.

Menteri Nasir menyebutkan salah satu program bantuan pendidikan yang dilakukan oleh Kemristekdikti adalah Bidikmisi dan Adik 3T & Papua, yang dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah sumber daya manusia (SDM) terdidik di perguruan tinggi. Namun, kemampuan pemerintah memberikan beasiswa dan pemerataan akses pendidikan tinggi masih rendah, sehingga membutuhkan peran lembaga-lembaga swasta.

“Kemenristekdikti mengalokasikan lebih dari Rp3,5 triliun untuk beasiswa mahasiswa (Bidikmisi dan ADik 3T dan Papua), namun itu masih kurang untuk menjawab kebutuhan masyarakat, idealnya dibutuhkan sekitar Rp10 triliun. Partisipasi pihak swasta sangat dibutuhkan,” terangnya.

Pertumbuhan jumlah mahasiswa selama beberapa dasawarsa terakhir sebenarnya menunjukkan tren kenaikan. Tahun 2017, jumlah mahasiswa di Indonesia telah mencapai lebih dari 5,2 juta orang, 15,1 persen di antaranya adalah mahasiswa vokasi atau politeknik.

Meski menunjukkan adanya kenaikan, namun angka partisipasi kasar (APK) masuk ke perguruan tinggi masih rendah. Riset terakhir dari Paradigma Riset Institue menyatakan APK perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia berada di angka 31,5 persen. Sedangkan APK Malaysia 38 persen dan Singapura 78 persen.

Sementara itu, anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation Belinda Tanoto mengatakan pihaknya selama ini memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang berprestasi, namun mengalami kendala ekonomi. Program beasiswa untuk jenjang S1 dan S2 sudah bermitra dengan 35 perguruan tinggi negeri dan swasta se-Indonesia.

Antara lain, Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Bandung, Universitas Andalas, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Universitas HKBP Nommensen, Universitas Indonesia, Universitas Islam Sumatera Utara, Universitas Jambi, Universitas Lampung, Universitas Mulawarman, Universitas Riau, Universitas Sumatera Utara, Universitas Syiah Kuala, Akademi Teknologi Pulp dan Kertas, dan Institut Pertanian Stiper.

Sudah 3.200 mahasiswa yang mendapatkan dukungan beasiswa Tanoto Foundation. Tahun ini, lembaga yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Bingei Tanoto itu memberikan beasiswa kepada 315 mahasiswa, yang diberikan biaya pendidikan dan pelatihan soft skill.

TAGS : Pendidikan Kemristekdikti Tanoto Foundation Beasiswa Mohamad Nasir




TERPOPULER :