Tehran, Jurnas.com - Iran mengklaim kekuatan militernya kini lebih besar dibandingkan saat perang dengan Amerika Serikat dan Israel dimulai pada akhir Februari.
Teheran juga menegaskan masih mengendalikan Selat Hormuz dan tidak akan membuka jalur pelayaran strategis tersebut sebelum tuntutannya kepada Washington dipenuhi.
Juru bicara Angkatan Darat Iran, Mohammad Akraminia, mengatakan pasukan negaranya kini memiliki kesiagaan, pengalaman, dan kepercayaan diri lebih tinggi setelah menghadapi langsung militer Amerika Serikat dan Israel.
"Angkatan bersenjata Republik Islam saat ini, setelah memperoleh pengalaman dari konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat dan rezim Israel, berada dalam tingkat kesiagaan lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan pada awal perang," kata Akraminia, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Iran, IRNA, Sabtu.
Ia menambahkan, pasukan Iran kini memiliki motivasi, komitmen, dan kepercayaan diri yang lebih besar.
"Atas perintah Pemimpin Tertinggi, respons angkatan bersenjata akan dilakukan secara langsung, efektif, dan tanpa batasan geografis," ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika para mediator masih berupaya mencegah pecahnya kembali pertempuran setelah kebuntuan berbulan-bulan dalam konflik Timur Tengah. Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran itu bermula dari serangan Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran pada akhir Februari.
Di tengah ketegangan tersebut, Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik strategis dalam konflik. Iran berupaya membatasi lalu lintas kapal melalui jalur laut yang biasanya dilintasi sekitar seperlima konsumsi minyak dunia.
Akraminia menegaskan Teheran masih menguasai jalur tersebut. Menurut dia, Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai Amerika Serikat memenuhi tuntutan Iran.
Sikap tersebut menambah tekanan dalam upaya meredakan konflik, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global.
Sementara itu, Amerika Serikat meningkatkan upaya pencarian informasi terkait program nuklir Iran. Pada Jumat, militer AS mengumumkan hadiah sebesar 20 juta dolar AS atau sekitar Rp333 miliar, ditambah kemungkinan relokasi, bagi pihak yang memberikan informasi mengenai program nuklir Teheran.
Program Rewards for Justice di bawah Departemen Luar Negeri AS mencari informasi mengenai fasilitas, peralatan, serta personel yang terkait dengan program tersebut, termasuk kalangan ilmuwan.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyampaikan pengumuman itu melalui platform X. Namun, pihak AS tidak merinci jenis informasi yang dapat membuat seseorang memenuhi syarat memperoleh hadiah maksimal tersebut.
Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa serangan militer Washington telah menghancurkan kemampuan program nuklir Iran secara efektif.
Dalam pernyataannya di West Palm Beach, Florida, Jumat malam, Trump kembali menyinggung serangan terhadap Iran dan dampaknya terhadap keamanan Israel.
"Jika kami tidak menyerang Iran, Israel mungkin tidak akan ada hari ini," kata Trump.
Ia juga menyatakan Iran berpotensi menggunakan senjata nuklir jika memiliki kemampuan tersebut.
"Jika mereka memiliki senjata nuklir, mereka akan menggunakannya. Mereka akan menghancurkan Timur Tengah," ujarnya.
Meski demikian, Trump menyebut pemerintah Iran ingin segera mengakhiri konflik. Ia mengklaim kondisi ekonomi dan militer Iran telah mengalami kerusakan berat setelah delapan bulan perang.
"Kami sedang berunding dengan mereka sekarang. Mereka sangat ingin membuat kesepakatan," kata Trump.
Trump juga menghubungi Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani pada Jumat untuk membahas upaya mengakhiri perang. Qatar menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam upaya diplomatik untuk meredakan konflik.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pemerintahannya masih berupaya menyelesaikan krisis melalui dialog.
Ketegangan juga dilaporkan terjadi di Pulau Qeshm, kawasan strategis di Selat Hormuz. Kantor berita Iran, Tasnim, pada Sabtu dini hari melaporkan dua rudal menghantam pulau tersebut.
Namun, hingga laporan itu disampaikan, belum ada informasi resmi mengenai kerusakan yang ditimbulkan. Televisi pemerintah Iran juga melaporkan terdengarnya dua ledakan di pulau tersebut.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Angkatan Darat Iran menyatakan sistem pertahanan udaranya telah menyerang dan menghancurkan sebuah drone Amerika Serikat yang terbang di atas Pulau Qeshm.
Pernyataan militer Iran yang disampaikan melalui media pemerintah itu tidak menjelaskan apakah pulau tersebut turut menjadi sasaran serangan. (*)
Sumber: Arab News









