Washington, Jurnas.com - Para ilmuwan berhasil mengamati sebuah bintang katai putih yang dikelilingi oleh dua cincin puing planet dalam konfigurasi yang sangat langka. Penemuan ini memberikan gambaran mengerikan mengenai nasib Tata Surya, setelah mengalami kiamat bertenaga bintang di masa depan yang sangat jauh.
Bintang katai putih bernama J1328−1450 tersebut terletak di galaksi Bima Sakti pada rasi bintang Virgo, sekitar 1.600 tahun cahaya dari Bumi. Pengamatan astronomis ini dilakukan menggunakan fasilitas Very Large Telescope milik European Southern Observatory yang berbasis di Cile.
Sebelum ditemukannya sistem ini, para peneliti telah mengidentifikasi 21 bintang katai putih yang dikelilingi piringan puing, namun seluruhnya hanya memiliki piringan tunggal dan bukan struktur cincin ganda.
Objek mati J1328−1450 memiliki massa sekitar 47 persen dari massa Matahari, namun seluruh bobotnya terpadatkan ke dalam ukuran diameter yang hampir seukuran Bumi.
Dikutip dari CNA pada Sabtu (7/11), ilmuwan memperkirakan bahwa piringan tersebut dibentuk oleh dua benda berbatu atau sisa planet yang berhasil bertahan dari kehancuran dahsyat saat bintang induknya mengalami fase kematian.
"Hasil ini menunjukkan bahwa sisa-sisa sistem planet dapat memiliki struktur yang jauh lebih kompleks dari yang kita perkirakan sebelumnya, sekaligus mendukung gagasan bahwa benda berbatu dapat bertahan dari transformasi bintang menjadi katai putih," jelas astronom Felipe Lagos-Vilches dari Universidad Técnica Federico Santa María di Cile, salah satu penulis studi yang diterbitkan di jurnal Nature Astronomy.
Benda berbatu yang tersisa di dalam piringan tersebut, lanjut Felipe, diduga merupakan sisa-sisa planet yang hancur, di mana salah satunya diperkirakan berukuran sebesar planet kerdil Pluto dan yang lainnya berukuran lebih kecil.
Felipe Lagos-Vilches menerangkan bahwa gravitasi kuat dari bintang katai putih menghancurkan objek yang melintas terlalu dekat dan menyebarkan materialnya menjadi piringan debu dan gas. Menariknya, analisis ilmiah menunjukkan bahwa cincin bagian luar mengalami penyusutan kandungan magnesium secara signifikan jika dibandingkan dengan cincin bagian dalam.
Perbedaan komposisi kimiawi ini mengindikasikan bahwa kedua cincin berasal dari benda induk yang berbeda, atau berasal dari lapisan yang berbeda dari sebuah planet berbatu yang hancur berkeping-keping akibat gaya gravitasi ekstrem.
Proyeksi Masa Depan dan Takdir Akhir Tata Surya
Sistem bintang J1328−1450 memberikan simulasi nyata bagi nasib akhir lingkungan antariksa yang kita huni. Dalam kurun waktu sekitar 5 miliar tahun ke depan, Matahari diperkirakan akan kehabisan bahan bakar dan mengembang secara drastis menjadi raksasa merah. Setelah fase raksasa merah tersebut meluruhkan lapisan luarnya, yang tersisa hanyalah inti padat berupa bintang katai putih.
Pada masa transisi tersebut, planet Merkurius dan Venus dipastikan akan tertelan oleh pengembangan Matahari, sementara nasib pasti Planet Bumi masih menjadi perdebatan hangat di kalangan peneliti.
Di sisi lain, planet-planet luar seperti Jupiter dan Saturnus memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk bertahan hidup dari kehancuran awal. Lagos-Vilches menyimpulkan bahwa setelah Matahari berubah menjadi katai putih, sisa-sisa planet, bulan, dan asteroid yang tersisa dapat tertarik oleh gaya gravitasi hingga hancur menjadi piringan puing ganda seperti yang terlihat pada J1328−1450 saat ini.









